Inovasi Pigeon Hadirkan Peristaltic PLUS Nipple

“Kehadiran dot Pigeon Peristaltic PLUS Nipple membantu perkembangan bayi-bayi karena sesuai pola menelan bayi. Dot ini teksturnya lembut, desain menarik dan disukai anak saya karena sensasinya seperti ‘ngedot’ ASI (air susu ibu) dari puting payudara ibu,” ujar Ny. Maria, ibu yang memiliki 2 anak balita.

Kebetulan Maria adalah wanita multitasking. Selain melakoni sebagai ibu rumah tangga, wanita 35 tahun ini adalah jurnalis di media terkemuka di Indonesia. Bekerja sebagai pemburu berita jelas menyita banyak waktu, sementara dia harus tetap menyusui atau menyediakan ASI bagi bayinya yang menunggu di rumah.

Menurut Maria, Pigeon selalu inovatif di industri dot. Meski banyak produk dot membanjiri pasar, dia tetap loyal membeli produk Pigeon untuk kedua putranya. “Sejak anak saya yang pertama lahir (kini 5 tahun) sampai anak kedua (4 bulan), saya selalu menggunakan dot Pigeon untuk kenyamanan anak. Maklum setelah cuti 3 bulan, saya tidak bisa menyusui bayi setiap saat. Jadi harus dipompa dan disimpan dalam botol. Meski harga dot Pigeon premium, tapi kualitasnya bisa diandalkan dan sudah teruji,” kata Maria.

Sejatinya, masalah yang dihadapi Maria juga dialami oleh ibu-ibu lainnya yang bekerja di luar rumah. Mereka memiliki keterbatasan waktu untuk menyusui anaknya setiap saat pasca cuti melahirkan sudah usai. Di sisi lain, kelancaran ASI sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang dan kecerdasan bayi.

PIGEON award

Teknik menyusui pun tidak bisa sembarangan. “Si ibu harus memperhatikan gerakan bayi saat menghisap. Perlu diperhatikan juga posisi dan perlekatan bayi saat menghisap puting payudara, serta ketersediaan yang memadai ASI itu sendiri,” jelas Dr.I Gusti Ayu Pratiwi, dokter spesialis anak  di sela acara Media Gathering bertema “Pancaran Cinta Lewat Sentuhan Para Ahli Kami” di Jakarta, 23 Mei 2013.

Lantas, bagaimana solusinya?

Anda tidak perlu khawatir. Sebab, baru-baru ini Pigeon meluncurkan produk baru Peristaltic PLUS Nipple. Ini adalah inovasi dot terbaru dari pabrikan Pigeon Jepang. Dalam Bahasa Jepang, produk ini dinamakan Bo-Nyu- Jikkan, yang artinya “merasakan pengalaman menyusu yang sesungguhnya”.

“Pembuatan produk Peristaltic PLUS Nipple tidak asal saja, tapi melalui penelitian mendalam yang dilatarbelakangi studi yang dilakukan sejak tahun 2005,” ujar Satoru Saito, Manager Baby & Mother Care Laboratory, Pigeon R&D Center, Jepang, menegaskan.

Hasil riset Infant Feeding Research (2005) menyebutkan bahwa telah terjadi penurunan penggunaan susu formula. Di sisi lain, terjadi peningkatan pemberian ASI eksklusif hingga menjadi 85 - 95%. Namun, dari angka tersebut, ternyata terjadi penurunan pemberian ASI eksklusif atau ASI langsung dari payudara ibunya sebesar 42,4 – 49,5%. Dengan kata lain, masih banyak ibu yang cenderung memerah susunya sendiri, lalu dimasukkan ke dalam botol terlebih dahulu sebelum diberikan kepada bayi.

Mengapa cara seperti itu dilakukan para ibu? Saito punya jawabannya. “Sebagian ibu memberikan ASI secara langsung melalui payudara sepanjang hari selama tiga bulan saja, yaitu saat masa cuti melahirkan. Setelah itu, ibu yang bekera tidak punya banyak waktu cukup untuk menyusui bayinya. Masalah lain, karena ibu berpergian ke luar rumah dan meninggalkan bayi di rumah untuk diasuh kepada saudara atau pembantu,”  dia membeberkan alasannya.

Berdasarkan survei intensif yang dilakukan Pigeon itu, diperoleh hasil bahwa untuk memberikan kenikmatan bayi mendapatkan ASI saat tidak mendapatkan puting si ibu, maka diperlukan dot yang tidak menyusahkan bayi. “Jangan sampai bayi menyedot dot yang kaku, berukuran besar, sehingga mengganggu pernapasan bayi dan tidak dapat menyedot ASI secara sempurna,” tambah Saito.

Berangkat dari keprihatinan inilah, Pigeon memusatkan perhatiannya dan terus mengembangkan produk-produk inovasi bayi terbaik melalui Research & Development Center (R&D Center) dengan melakukan penelitian intensif sejak tahun 1962. Tujuannya, untuk menghasilkan produk-produk yang dapat menjadi solusi kebutuhan bayi. Wajarlah karena sudah lama Pigeon menjadi pemimpin pasar industri produk bayi di pasar global, termasuk Indonesia.

Beberapa tahun kemudian, Pigeon juga kerap mengembangkan riset yang terkait dengan perkembangan mulut dan rahang bayi, mulai dari penelitian perilaku pada saat bayi menyusu hingga menganalisa gerakan lidah pada saat menyusu dl Pusat Riset Pigeon di Jepang “Joso Laboratory” bekerja sama dengan para dokter anak dari Jikei University Medical School serta para ahli persalinan.

Dijelaskan Saito, terkait dot Pigeon Peristaltic PLUS Nipple anyar ini, Pigeon Mother Care Laboratory melibatkan beberapa peneliti untuk melakukan penelitian di 200 rumah sakit di Jepang. Studi itu mencakup bagaimana bayi menghisap, menciptakan putting buatan yang mirip dengan putting asli, pengukuran lidah dan puting, serta kordinasi antara menelan, menghisap, dan bernapas. Dari pengamatan tersebut, didapat kesimpulan terdapat gerakan Peristaltic bayi seperti gelombang, yang berlangsung 10-15 menit.

Nah, mengacu hasil studi itulah mendorong Pigeon menciptakn dot baru. Pigeon Peristaltic PLUS Nipple ini memiliki tiga fungsi penting. Pertama, soal perlekatan. Permukaan bertekstur tidak licin dan tidak pula lengket. Struktur kepala dot yang sederhana, tidak bulatan, memastikan perlekatan yang sesuai.

Kedua, dot terbuat dari silicon yang paling lembut dan struktur kepala dot yang sederhana, bertujuan agar fleksibel dan memudahkan gerakan Peristaltic alami.

Ketiga, aliran ASI yang sesuai agar ASI tidak mudah bocor atau tumpah dan lubang susu yang disesuaikan dengan usia bayi guna menghindari bayi tersedak.

Hebatnya, dot Peristaltic Plus Nipple ini tersedia dalam 4 ukuran, yaitu SS, S, M, dan L, sesuai dengan usia bayi. SS untuk bayi berumur 0 bulan, S untuk bayi berusia 1 bulan keatas, M untuk bayi berusia 3 bulan keatas dan L untuk 6 bulan keatas.

Betul, model puting yang menjadi model Pigeon Peristaltic Plus Nipple ini memang sangat membantu bayi dalam menyedot dan menelan cairan susu dari botol. Tak heran bila dot paling gres ini disambut antusias oleh konsumen. “Rata-rata konsumen berkomentar positif atas dot Pigeon yang baru ini. Desainnya bagus, membantu perkembangn bayi, serta sesuai dengan pola menelan bayi,” klaim Saito lagi.

Sebenarnya Peristaltic Plus Nipple ini sudah diluncurkan di Jepang sejak tahun 2009. Sekarang produk ini sudah ada di seluruh dunia. “Di Indonesia baru diluncurkan Mei 2013 ini, sedangkan di Australia peluncurannya tahun 2011,” tambah Andy Iskandar, Marketing and Sales Director PT Multi Indocitra Tbk, produsen Pigeon di Indonesia.

PIGEON JEpang

Edukasi dan Sosialisasi

Pigeon sangat mendukung program pemberian ASI kepada bayi. Komitmen ini salah satunya ditunjukkan dengan merilis produk Peristaltic PLUS Nipple. Pigeon pun telah menjadwalkan sejumlah kegiatan edukasi yang menyasar masyarakat luas dengan tema, “Pentingnya ASI bagi Bayi’ dan ’Bagaimana Bayi Menghisap ASI melalui puting Payudara Ibu’.

Menariknya, kegiatan edukasi ini dikemas dalam bentuk seminar yang dilakukan secara roadshow di 4 kota besar di Indonesia yaitu Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar. Pigeon juga mengeluarkan artikel- artikel inspiring, di beberapa media cetak dan digital dengan hai rapan dapat menggerakan hati para Ibu yang memiliki bayi untuk mulai peduli terhadap tumbuh kembang sang buah hatinya melalui pemberian ASI.

Tidak lupa, Pigeon pun menjalin kerja sama strategis dengan beberapa shopping mall dan Rumah Sakit terkemuka dalam hal penyediaan ’Nursery Room’ atau ’Ruang Menyusui’ yang nyaman, agar mengakomodir kebutuhan para Ibu yang sedang menyusui untuk tetap dapat memberikan ASI kepada sang buah hatinya meski tidak sedang berada di rumah.

Gencarnya upaya Pigeon untuk melakukan sosialisasi dan edukasi pentingnya pemberian ASI kepada bayi dengan alasan,” Kami menyadari bahwa kepedulian ibu untuk memberikan ASI masih rendah. Kami dukung kampanye ini agar tercipta bayi-bayi Indonesia yang sehat, cerdas, berprestasi.” Tujuan mulia Pigeon ini untuk mengawal pertumbuhan bayi-bayi platinum Indonesia dan dunia melalui dot Pigeon Peristaltic PLUS Nipple.

Pentingnya ASI dan Kematian Bayi

Tahukah Anda bahwa angka kematian bayi di Indonesia masuk daftar 5 besar di Asia Tenggara? Jumlah angkanya:37 kematian bayi  per 1.00 kelahiran hidup pada tahun 2011.Meski angkanya terus menurun, tapi posisi Indonesia di Asia Tenggara tidak berubah. Ironisnya, negara kita menempati urutan ke-4 terbanyak di negara-negara ASEAN.

Angka Kematian bayi sebagian besar terkait dengan faktor nutrisi yaitu sebesar 53%. Beberapa penyakit yang ditimbulkan akinat malnutrsisi antara lain pneumonia (20%), diare (15%) dan perinatal (23%). Itulah sebabnya, dalam program Millenium Development Goals (MDGs) yang dicanangkan pemerintah, kebijakan mengurangi angka kematian bayi adalah salah satu dari 8 sasaran yang hendak dicapai negara kita.

PIGEON-dokter

Angka kematian bayi dapat dikurangi dengan pemberian ASI. Benarkah? “Jumlah kematian bayi dapt dikurangi 13% dengan memberikan ASI. Sebab, ASI berperan penting menciptakan bayi sehat, lantaran mengandung  beberapa nutrisi yang berguna untuk pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak bayi,” kata Dr. I Gusti Ayu Pratiwi ,SpA, MARS.

Ya, ASI merupakan nutrisi terbaik untuk bayi karena memiliki kandungan yang kaya nutrisi yang membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Proses pemberian ASI melalui payudara ibu juga tak hanya sebagai prose alami namun secara tidak langsung juga membentuk ikatan emosi antara bunda dan buah hatinya.

Menurut Pratiwi, beberapa  fakta menunjukkan bahwa bayi menyusu lebih kebal dari berbagai penyakit dari yang tidak mendapat ASI langsung dari ibunya. Pasalnya, di dalam ASI  terkandung enzim lipase yang dapat membantu usus bayi baru lahir yang kandungan enzim lipase-nya belum optimal. Penyerapan DHA (Docosahexaenoic Acid) memerlukan enzim lipase. Jadi, katanya, jika ada susu formula yang tidak ada enzim ini patut dipertanyakan apakah usus bayi baru lahir dapat menyerapnya.

Pendapat Pratiwi diperkuat oleh pernyataan rekan seprofesinya. “Kegiatan menghisap ASI dan mengeluarkan suara membutuhkan ketrampilan gerakan yang berbeda. Namun demikian seluruh aktifitas ini memiliki persamaan mendasar yakni mempergunakan alat gerak oral (oromotor). Kemampuan utuk melakukannya dicapai secara bertahap, yaitu dimulai dari gerakan dasar (reflek),” jelas Dr Luh Karunia Wahyuni, SpKFR (K), Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi.

Selanjutnya, melalui proses belajar pengalaman sensorik dan percobaan melakukan gerakan oromotor dengan pola gerak yang benar, sampai tercapai gerakan oromotor secara otomatis dan terampil.

“Menghisap adalah tahapan proses memasukkan makanan atau cairan ke dalam mulut dan menggerakannya ke belakang rongga mulut untuk ditelan,” jelas Luh Karunia. Gerakan menelan haruslah mudah dimulai, bersifat ritmis, terus menerus, dan efisien.

Kunci proses menghisap pada bayi lahir (neonatus), sebagaimana dijelaskan Luh Karunia, adalah cairan bergerak secara primer karena perubahan tekanan.

Untuk menghasilkan penghisapan, rongga oral harus tertutup penuh. Guna menyokong penutupan sempurna dibutuhkan kesesuaian puting. Bentuk dan kesesuaian puting ini akan secara langsung memengaruhi kemampuan neonatus untuk membentuk katup, sehingga dapat menciptakan keadaan vakum yang optimal di dalam rongga oral. Keadaan vakum ini penting agar tenaga yang dibutuhkan untuk menghisap tidak besar, mencegah efek kompensasi dan mempermudah proses inisiasi reflek menelan.

Namun sayang, tidak semua bayi dilahirkan dengan sempurna, sehingga beberapa bayi tidak mampu menghisap dengan baik, contohnya bayi sumbing. Dan kehadiran dot Pigeon Peristaltic PLUS Nipple diharapkan menjadi solusi sebagai alat bantu bayi menikmati ASI dengan sensasi natural bak puting payudara bunda. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)