ISS Indonesia Melesat karena Peduli Karyawan

Elisa Lumbantoruan Elisa Lumbantoruan, Presiden Direktur PT ISS Indonesia

Di bisnis alih daya (outsourcing), PT ISS Indonesia jelas bukan nama asing. Perusahaan ini dikenal kuat di segmen alih daya untuk berbagai layanan, mulai dari cleaning services, support services, property services, catering services, security services, hingga facility management services. Jumlah tenaga kerja yang mereka libatkan lebih dari 60 ribu karyawan, dan kini beroperasi di 23 provinsi.

Dengan kekuatan sebesar itu, ISS Indonesia merupakan organisasi ISS terbesar dibandingkan cabang lain di negara mana pun di dunia --ISS adalah perusahaan global dari Denmark. “Tiap bulan kami rekrut rata-rata 2.000-2.500 pegawai baru,” kata Elisa Lumbantoruan, Presdir ISS Indonesia, seraya mengungkapkan, pada 2020 ditargetkan mempekerjakan 100 ribu orang.

Pasti tidak mudah mengelola bisnis alih daya seperti ini. Tak mengherankan, rata-rata perusahaan sejenis jarang ada yang bisa mencapai skala besar. “Butuh kemampuan manajemen cash flow yang rumit. Kami tidak mungkin terlambat membayar gaji 60 ribu karyawan. Sedangkan klien membayar dengan term of payment hingga 30-60 hari. Ini yang banyak perusahaan lokal tidak mampu,” kata Elisa. Saat ini mereka punya klien 3.000 perusahaan (lembaga).

Kekuatan finansial jelas merupakan keunggulan yang sulit ditandingi perusahaan lokal sejenis. Namun, ada kunci lain yang membuat mereka bisa terus melesat. Apa itu?

Berdiri pada 1996, awalnya perusahaan ini hanya dikenal sebagai penyedia jasa cleaning services dan keamanan untuk gedung-gedung. Sekarang mereka sudah mampu memberikan layanan terintegrasi, termasuk facility management services dengan membersihkan sejumlah pembangkit listrik yang notabene butuh teknik dan keahlian khusus. Sudah ada belasan pembangkit listrik yang menggunakan jasa industrial cleaning mereka. Kunci mereka bisa melakukan itu adalah peningkatan kompetensi yang terus-menerus. Jangan heran, karena punya keahlian yang kian berkembang, sektor yang dibidik juga terus meluas. Mulai dari industri pertambangan, manufaktur, perbankan dan finansial, hingga pemeliharaan bandara.

Selain kompetensi yang terus diasah dan ditambah, manajemen perusahaan ini juga mampu mengelola kapasitas organisasi untuk mengimbangi pertumbuhannya. Umumnya perusahaan alih daya hanya mampu mengelola organisasi maksimal dengan jumlah tenaga kerja 7.000 orang. Setelah itu, biasanya pertumbuhannya mandek. Manajemen ISS Indonesia tetap bisa menjaga pertumbuhan dengan keseimbangan organisasi. Hal ini bisa dilihat dari kehadirannya yang kian luas, di 23 provinsi dan sembilan kantor cabang perwakilan di kota-kota besar, dan dengan jumlah karyawan yang terus membengkak.

Selidik punya selidik, mereka bisa melakukan itu karena memang sangat peduli pada pengembangan SDM, pembuatan proses bisnis yang baik, dan teknologi. “Kami fokus mengembangkan people sebagai fondasi pertumbuhan. Dari gaji, misalnya, semua gaji pegawai minimum mengikuti standar UMR atau UMK, plus BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, dan BPJS Pensiun. Apa yang regulasi atur, kami ikuti,” ungkap Elisa seraya menyebutkan, karena membayar BPJS, pihaknya tambah biaya Rp 40 miliar/bulan. Ia menjelaskan, ISS Indonesia tak ingin semata mengejar untung, tetapi ingin bisnisnya berkelanjutan sehingga semua proses diusahakan taat aturan.

Elisa menyampaikan, agar bisa memiliki tim SDM dan organisasi yang kuat, mereka melakukan serangkaian program pengembangan dan retensi agar karyawan bukan cuma loyal, tetapi juga engage sehingga mau memberikan yang terbaik. Contohnya, sistem merit yang dijalankan dengan baik sehingga karyawan lulusan SMA yang awalnya masuk sebagai petugas cleaning services sekarang bisa menduduki jabatan vice president. “Kami juga telah mendirikan 35 kelas pelatihan, dan 40 tenaga pengajar dengan kapasitas 30.000 karyawan setiap tahunnya melalui ISS Service School and Academy,” lanjut Elisa.

Tak hanya itu, ISS Indonesia rutin memberikan penghargaan kepada karyawan, berupa The Golden Heart Award dan The Best Employee Award sebagai bagian dari budaya perusahaan. The Golden Heart Award adalah penghargaan untuk mengapresiasi karyawan yang telah menanamkan nilai kejujuran dalam segala aktivitas pekerjaannya. Sementara The Best Employee Award adalah apresiasi terhadap karyawan terbaik dan berprestasi yang telah bekerja serta memberi kontribusi positif dalam kurun waktu tertentu. Perhatian pada SDM serta organisasi yang solid itulah yang diyakini Elisa sebagai alasan mengapa mereka bisa terus melebarkan pasar dan tumbuh membesar. (*)

Reportase: Herning Banirestu

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)