Jack H. Knott: Public-Private Partnership untuk Hadapi Tantangan Pembangunan Infrastruktur

Jack H. Knott, Dekan USC Sol Price School of Public Policy, University of Southern California Jack H. Knott, Dekan USC Sol Price School of Public Policy, University of Southern California

Untuk menjadi negara yang mampu bersaing, berbagai tantangan masih dihadapi negara-negara di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Sederet tantangan yang dialami negara-negara tersebut di antaranya adalah masalah pembangunan infrastruktur. Infrastruktur menjadi hal yang penting bagi sebuah negara untuk menjadikannya mampu bersaing dengan negara-negara lain. Pertumbuhan infrastruktur di negara-negara tersebut masih terhambat berbagai masalah seperti tenaga listrik, perubahan iklim, dan kapasitas pembiayaan.

Indonesia sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi dunia di 2025 mendatang, perlu melakukan berbagai hal untuk menghadapi tantangan di atas. Jack H. Knott, Dekan USC Sol Price School of Public Policy, University of Southern California memaparkan sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian. Lebih lengkap penuturannya, dapat disimak pada laporan wawancara dengan SWA Online beberapa waktu lalu sebagai berikut.

Menurut Anda, apa saja tantangan utama pembangunan infrastruktur di Indonesia?

Salah satu tantangan penting adalah pengimplementasian pembangunan infrastruktur di tiga area. Pertama, di pelabuhan. Pelabuhan memiliki arti penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan di Asia Tenggara. Kedua, masalah elektrifikasi. Di AS, elektrifikasi menjadi bagian penting yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Ketiga, infrastruktur untuk penanggulangan banjir.

Lantas, apa saja yang harus dilakukan pemerintah Indonesia untuk menghadapi tantangan tersebut?

Saya pikir salah satu hal besar yang perlu dilakukan adalah fokus pada meningkatkan kerja sama dengan sektor privat. Untuk melakukan kontrak/kerja sama dengan mereka, tidak diperlukan kemampuan teknis khusus. Masalahnya ada pada regulasi dan persoalan rumit dalam sistem. Mereka juga perlu mengubah bagaimana komunikasi antar kementerian dalam pembangunan infrastruktur. Soal koordinasi ini juga menjadi hal yang rumit terkait dengan adanya desentralisasi, ketika menyangkut pembangunan di daerah, seperti terjadinya tumpang tindih kekuasaan. Tidak jelas siapa yang punya kuasa. Saya pikir pemerintah perlu fokus pada isu-isu tersebut.

Pemerintah punya resource untuk melakukan kerja sama dengan sektor privat, banyak dari mereka yang mau menanamkan investasi di Indonesia. Banyak pemilik modal yang datang ke Indonesia. Tetapi, masalah utama ada di pemerintah. Ketidakpastian investasi, masalah regulasi dan mengenai bagaimana kerja sama dengan sektor privat untuk pembangunan. Menurut saya, mereka (sektor privat) bukan tidak ingin berinvestasi, tetapi persoalannya ada pada ketidakpastian tersebut.

Bagaimana pandangan Anda soal pembangunan infrastruktur di Indonesia ke depan?

Ke depan, saya optimis. Saya pikir, jika pemerintah fokus pada membuat investasi lebih mudah serta mengurangi ketidakpastian tersebut dan menjadikannya efektif, prospeknya akan positif untuk Indonesia ke depan. Ini juga didukung oleh catatan Indonesia yang cukup baik dalam pertumbuhan ekonomi. Hal ini akan terwujud ketika ada kerjasama antara pemerintah, sektor privat dalam investasi. Kerja sama dengan sektor privat mampu membuat tujuan tersebut tercapai.

Pandangan Anda sendiri mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 sendiri seperti apa?

Indonesia akan menjadi bagian dari MEA 2015. Mengharmonisasikan kebijakan ekonomi sebuah negara menjadi sesuatu yang perlu dilakukan. Dengan memfasilitasi invesatsi, membuat industry kompetitif, akan memperoleh kesempatan mendapat pasar yang lebih besar, Indonesia bisa makin memperluas ekspornya. Indonesia punya potensi yang besar, termasuk dalam memimpin kekuatan global untuk menanggulangi perubahan iklim. Ini mungkin karena Indonesia memiliki banyak kepulauan.

Banyak yang harus dilakukan pemerintah. Termasuk mempercepat pembangunan MRT. Pemerintah bisa melakukan sistem pembiayaan yang tersentral. Pemerintah lokal bisa berperan dalam meningkatkan pendapatan. Fiscal relationship antara pemerintah lokal dan pusat menjadi sangat penting untuk pembangunan. Jika hal tersebut bisa berjalan, pemerintah pusat tidak perlu mengeluarkan banyak uang.

Menurut Anda, tren pembangunan infrastrutur akan bagaimana?

Menurut saya, kerjasama pemerintah dengan sektor privat akan menjadikan lebih efektif. Saya pikir ini akan menjadi tren yang penting. Tanpa itu, pemerintah butuh banyak dana untuk pembangunan. Pemerintah perlu jeli melihat peluang di tahun-tahun mendatang sehingga proyek pembangunan dapat dipercepat dan dapat tercapai.

Mungkin Anda bisa contohkan?

Contohnya pembangunan jalan, seperti jalan tol misalnya. Kontraktor swasta yang membangun, kemudian kebijakan harga dilakukan oleh pemerintah. Saya rasa trennya akan seperti itu. Infrastruktur publik jadi lebih murah. Memang kalau dibayangkan, untuk jangka pendek memang susah, tetapi kalau jangka menengah atau panjang, hal ini bagus dan bisa membantu masyarakat berpendapatan rendah. Ini memang membutuhkan political will yang kuat. Tetapi percayalah, hal ini akan memberikan nilai positif. Keuntungannya bukan hanya untuk segelintir orang kaya, tetapi juga growing people. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)