Jauh Tertinggal, Indonesia Butuh Percepatan Inovasi Strategis

Deka

Meskipun terdiri dari ragam gugusan pulau dan kekayaan hayati yang melimpah ruah, Indonesia masih berada posisi yang jauh tertinggal dari segi inovasi. Melihat fenomena yang ada, Ilham Habibie, Deka Group dan Hyve menjalin kemitraan strategis intuk percepatan inovasi berkelas dunia di Indonesia.

Ilham Habibie, CEO PT Ilhabi Rekatama, mengungkapkan bahwa salah satu kelemahan Indonesia dari segi inovasi yaitu minimnya pendanaan yang dikeluarkan untuk riset dan pengembangan. Indonesia hanya mengeluarkan 0,07% dari anggaran PDB untuk membangun inovasi. Berbanding jauh dengan negara lain seperti Israel yang mengeluarkan dana sekitar 4,2% dari PDB.

Sementara itu, Irma Malibari, CEO Deka Group mengatakan,"Pertumbuhan ekonomi Indonesia membutuhkan inovasi di semua sektor dan keterlibatan semua pihak di rantai nilai inovasi, termasuk sektor bisnis, finansial dan pemerintah".

"Guna bersaing di pasar global, ide inovatif Indonesia perlu melibatkan konsumen global dan membuat produk atau jasa sesuai selera konsumen global. Dengan menggandeng Hyve Jerman hal ini dimungkinkan karena Hyve memiliki kapabilitas dan komunitas inovasi global", imbuh Ilham.

Terkait kerjasama tersebut, Johann Fuller dari Hyve Jerman mengatakan bahwa kehadiran Hyve di Indonesia merupakan langkah awal dari Hyve Jerman melebarkan pelayanan ke tingkat global. Dipilihnya Indonesia sebagai negara pertama di Asia dikarenakan posisi Indonesia yang strategis di ASEAN dan potensi kreatifitas di Indonesia yang besar.

Melihat ketatnya persaingan masyarakat ekonomi ASEAN, inovasi sangat dibutuhkan untuk bersaing di pasar global."Inovasi di Indonesia saat ini sudah cukup banyak namun masih tertinggal dalam hal kualitas untuk bersaing di pasar global. Melalui inovasi akan memberikan nilai tambah", tutup Ilham. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)