Javaplant Garap Pasar Lokal Lewat Mamin Bernutrisi

PT Trirahardja (Javaplant), produsen ekstrak herbal di Indonesia sampai saat ini masih lebih banyak memasarkan produknya keluar negeri. Sekitar 95% produknya diekspor ke Amerika Serikat dan Jepang. Sisanya, dipasarkan di ASEAN, termasuk pasar di dalam negeri.

“Kami memang ingin menjual di dalam negeri lebih banyak. Perbedaan Amerika Serikat dan Indonesia adalah di sana market-nya tidak hanya Amerika, bisa sampai Eropa dan Asia, sehingga permintaan besar. Di Indonesia itu permintaan hanya untuk di Indonesia saja jadi kecil,” kata CEO Javaplant, Junius Rahardjo.

Meski begitu, dia yakin perseroan bisa mendapatkan banyak pelanggan di Tanah Air jika digarap dengan tekun. Oleh karenanya, perusahaan yang berdiri pada tahun 2000 ini fokus menggarap pasar dalam negeri selama dua tahun terakhir. Untuk mendorong pemasaran, Javaplant juga memproduksi ekstrak herbal untuk kosmetik, farmasi, suplemen kesehatan, obat tradisional, makanan kesehatan, minuman bernutrisi, dan lainnya.

“Makanan sehat yang di Indonesia contohnya, Fitbar. Minuman kesehatan seperti Kiranti dan Lipovitan. Semua herbal yang diaplikasikan pada makanan dan minuman pasti akan tinggi khasiatnya,” katanya.

CEO PT Tri Rahardja (Javaplant), Junius Rahardjo CEO PT Tri Rahardja (Javaplant), Junius Rahardjo

Ia menjelaskan, obat pelangsing, kebugaran, kesehatan kulit, dan lainnya jika diaplikasikan ke makanan dan minuman kesehatan akan menarik minat konsumen.

Ia mencontohkan minuman You C 1000 lebih disukai masyarakat ketimbang meminum suplemen kesehatan seperti pil atau tablet dengan kandungan Vitamin C serupa.

“Masyarakat Indonesia tak hanya merasakan fungsinya, tapi juga menikmati sensasinya. Produk apapun kalau dikemas dengan memberi sensasi atau sintematic relief, itu akan besar (penjualannya),” ujar lulusan University of Oregon, Jurusan Ekonomi ini.

Untuk tahun 2014, omset Javaplant mencapai US$ 20 juta dengan pasar terbesar di Amerika Serikat dan Jepang. Pada tahun ini, omset diperkirakan menurun tipis menjadi US$ 15 juta seiring perlambatan ekonomi dunia. Itulah kenapa, perseroan fokus menggarap pasar lokal, berupa makanan dan minuman bernutrisi ketimbang produk farmasi.

“Volumenya lebih besar tapi memang value-nya lebih kecil. Tahun depan bisa ngga begini ceritanya, bisa jadi balik kayak tahun kemarin,” kata putra ketiga Purwanto Rahardjo, pendiri dan CEO PT Marguna Taraluta APK Farma, produsen Pilkita ini.

Selain itu, perseroan juga mengoptimalkan produksi ekstrak herbalnya lewat kerjasama dengan banyak perusahaan farmasi. Dengan regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang kian ketat, pelaku bisnis jamu tentu ingin proses produksi ekstrak obatnya memenuhi standar. Dengan pengalaman selama belasan tahun, Javaplant banyak menerima permintaan produksi ekstrak dari perusahaan farmasi.

“Saya senang karena pemerintah, terutama BPOM memberi perhatian khusus kepada obat-obatan herbal. Javaplant sudah mendapat angin karena banyak perusahaan farmasi yang menyerahkan proses produksinya. Antusiasme masyarakat Indonesia terhadap jamu juga semakin besar,” katanya.

Javaplant hingga saat ini masih mengandalkan proses produksi dari satu pabrik miliknya yang berlokasi di Desa Karangpandan, Karanganyar, Solo ini. Pabrik tersebut memiliki 3 fasilitas produksi. Volume produksi sekitar 150-200 ton pertahun. (Reportase: Aulia Dhetira)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)