Jeritan Petani Rotan  Akibat Ekspor Bahan Mentah Mebel Ditutup

Ketua Perhimpunan Petani Pedagang dan Industri Rotan Kalimantan (PEPPIRKA), Muhammad Nirwandi, mengatakan ratusan petani pembudidaya dan industri rotan skala rakyat di Kalimantan kian terpuruk, akibat larangan ekspor rotan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 35 Tahun 2011 tentang Ekspor Rotan dan Produk Rotan. “Sejak tahun 2012, banyak petani dan pedagang kecil rotan goyah. Pemerintah tak berhak menutup usaha kami lewat Permendag,” ujar Nirwandi Ahad 21 Februari 2016.

Pengangkutan Rotan untuk Bahan Baku Industri Mebel Pengangkutan Rotan untuk Bahan Baku Industri Mebel

Padahal, katanya, usaha budidaya rotan Kalimantan sempat mencorong pada 2006-2010. Tapi, begitu ada larangan ekspor rotan asalan, petani mulai kesulitan menjual hasil budidaya rotan. “Karena industri mebel dalam negeri tak mampu menyerap pasokan rotan, kata dia.

Ia mengklaim rotan Kalimantan punya ciri khas unik ketimbang rotan asal Sumatera, Sulawesi, dan NTB. Selain berdiameter cuma 8-11 centimer, rotan Kalimantan terdiri beberapa jenis, yakni jenis kubu besar dan tiga jenis lain. Jenis yang terakhir ini memang diserap industri mebel domestik, tapi terbatas. Sedang jenis kubu besar diekspor ke seperti India, Cina, Eropa Barat, Eropa Timur, dan Amerika.

Sekretaris Jenderal PEPPIRKA, M. Irwan Riadi, mengatakan situasi sulit ini memaksa banyak petani rotan menjual lahannya kepada perusahaan sawit. Petani dan industri kecil rotan pun merumahkan buruhnya. Mereka kini menjadi buruh sawit dan buruh bangunan. “Padahal usaha rotan banyak menyerap tenaga kerja lokal, bersifat ekonomi kerakyatan. Kami minta Presiden Joko Widodo merevisi Permendag tersebut,” kata dia.

Irwan mengakui ada beda persepsi ihwal rotan asalan dan rotan bentuk barang jadi. Industri kecil dan petani, kata Irwan, menganggap rotan asalan adalah bentuk barang jadi karena telah melewati berbagai tahapan sebelum diekspor. Adapun pemerintah melihat rotan asalan masih berupa bahan mentah.

Seorang petani rotan di Muara Pulau, Kecamatan Tabukan, Kabupaten Barito Kuala, Bahruni, mengaku harga rotan di tingkat petani saat ini Rp 90-160 ribu per kuintal, merosot ketimbang lima tahun lalu sebesar Rp 250 ribu per kuintal. Menurut dia, anjloknya harga rotan Kalimantan akibat pasokan rotan tidak terserap industri mebel dalam negeri. Di lain pihak, pemerintah melarang ekspor rotan asalan.

“Saya dengar (industri mebel) beralih ke rotan sintetis. Sekarang saya biarkan saja rotannya, mau ditebang enggak ada yang beli, percuma saja,” kata Bahruni.
Tempo.co

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)