Jonathan Tahir: Tekanan sebagai Pewaris Tahta Mayapada Group

Pada usianya yang ke 22 tahun, Jonathan Tahir sudah diminta ayahnya, Dato Sri Tahir, untuk mulai proses pengalihan kepemimpinan kepadanya di Grup Mayapada. Sebagai anak lelaki satu-satunya, ia diharapkan untuk menjadi penerus bisnis keluarga. Namun, nama besar ayahnya sempat membuatnya tertekan. Ia coba lepas dari rasa ketertekanan itu dengan memotivasi dirinya sendiri dan terus belajar setiap hari untuk membuktikan bahwa dirinya mampu mengemban tanggung jawab. Sejumlah ide dan terobosan diusulkan ke sang ayah. Diharapkan beberapa tahun ke depan, untung akan diraih.

Jonathan Tahir, Grup Mayapada, Bank Mayapada Jonathan Tahir

Jonathan sempat merasa tertekan ketika ia mulai bekerja di Bank Mayapada sebagai staf audit pada 2009, ketika ia baru saja lulus dari Jurusan Business Administration, Finance, & Marketing National University of Singapore (NUS). Di Bank Mayapada, Jonathan mendapat jalur cepat (fast track) untuk menjabat posisi tinggi. Menurut Jonathan hal ini menimbulkan kecemburuan dari karyawan lain. “Saya melihat hidden resentment. Saya bisa melihat dari ekspresi tubuh dan wajah mereka. Itu terlihat,” ungkap Jonathan yang saat ini menjabat Komisaris Utama Bank Mayapada.

Namun, ia tidak terlalu mempermasalahkannya. Ia lantas mencari jalan terbaik agar dirinya bisa bekerja sama membuat perusahaan maju. Selain itu, Jonathan juga fokus untuk membuktikan bahwa dirinya mampu mengemban tugas dan tanggung jawab di mana menurutnya hanya cara ini yang paling ampuh untuk mengubah pandangan karyawan yang tidak suka. “Sebisa mungkin saya bersikap baik dan rendah hati. Itu juga yang diajarkan oleh ayah saya karena ayah saya juga relijius. Dia mengatakan bahwa saya harus memperlakukan orang seperti kamu ingin diperlakukan,” ia menambahkan.

Sebenarnya ia mau mencari pengalaman terlebih dulu sebelum bergabung Grup Mayapada dengan bekerja sebagai profesional di luar Grup Mayapada. Hal ini dilakukannya agar ia memiliki pengetahuan dan kemampuan yang dapat dibawa ketika nantinya ia bergabung dengan Grup Mayapada. Namun kenyataan berkata lain, ia diminta langsung bergabung ke Mayapada oleh ayahnya dan ia menurutinya. Sepertinya hal ini dilakukan karena terkait dengan usia ayahnya yang sudah makin menua dan tradisi Tiong Hoa yang menjadikan anak laki-laki sebagai penerus bisnis. “Dalam tradisi Tiong Hoa, lelaki yang diharapkan untuk meneruskan bisnis. Ayah saya memang sangat tradisional, maka ayah saya mengharapkan saya untuk pulang selepas lulus kuliah dan langsung belajar dari dia serta bisa melanjutkan bisnisnya secepat mungkin,” jelas Jonathan yang kelahiran Singapura, 26 Pebruari 1987.

Jonathan sendiri merupakan anak laki-laki satu-satunya dalam keluarganya, sama seperti ayahnya yang merupakan sulung laki-laki satu-satunya dengan dua adik wanita. Jonathan merupaka anak terakhir dari empat bersaudara. Ketiga kakaknya wanita dengan usia paling tua 39 tahun. Kakak pertamanya, Jane Tahir menjabat sebagai Vice President Director Bank Mayapada. Grace Tahir, kakak keduanya, menjabat sebagai Direktur Mayapada Hospital dan kakak ketiganya, Victoria Tahir, bertanggung jawab terhadap proyek Regent Hotel. “Regent Hotel disebut dalam Forbes sebagai one of the hottest hotel to open in Asia,” katanya.

Selain menjabat sebagai Komisaris Utama di Bank Mayapada, Jonathan juga menjabat Komisaris Utama di perusahaan joint venture yang mengoperasikan Duty Free Shop (DFS) di Indonesia. Diklaim Jonathan, DFS di Indonesia merupakan pemimpin pasar sebagai operator duty free. “Kami adalah mitra perusahaan asing yang menjalankan DFS ini. DFS dimiliki oleh LVMH. Kami adalah mitra LVMH selama hampir 20 tahun. Kehadiran kami ada di Bandara Ngurah Rai Bali dan Jakarta, selain ada showcase DFS Gallery di downtown Bali,” tambah putra mahkota Grup Mayapada dengan inti bisnis pada sektor perbankan, rumah sakit, dan properti.

Ketertekanan Jonathan di masa awal bergabung dengan Mayapada diakuinya dengan mengatakan, “Itu (tugasnya sebagai keturunan laki-laki satu-satunya yang harus meneruskan bisnis keluarga – red) memberikan pressure pada saya di mana saya harus hidup di bawah nama besar ayah saya. Reputasi ayah saya bagus, sukses di karier dan hal ini menjadi tanggung jawab bagi saya untuk bisa mencapai dan melampaui apa yang sudah didapatkan ayah saya”.

Semakin sering Jonathan mendengar sanjungan untuk ayahnya sebagai pebisnis ulung di Indonesia, semakin ia tertekan. Sampai-sampai ia merasa pesimistis dan bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana saya melampauinya?”. Baginya, jika ia berhasil menyamai tingkat ayahnya, itu merupakan prestasi yang luar biasa. Apalagi jika berhasil melampaui ayahnya. “Saya menjadi orang yang sangat spesial,” tambahnya seraya tertawa renyah.

Memang, Jonathan sangat “bergantung” pada sosok ayahnya. Tak ada mentor lain yang disebut oleh Jonathan selain ayahnya. Ia menekankannya dengan mengatakan bahwa ayahnya merupakan the best teacher that I could have. “(Mentor saya - red) Memang ayah saja. Ayah sangat dekat dengan saya. Tiap hari kami berdiskusi tentang apapun, dari mulai ide hingga implementasi ide tersebut. Saya berpikir, kalau saya belajar di luar mungkin saya akan makan waktu lebih lama untuk belajar. Namun dengan saya belajar dari ayah saya, hal itu seperti fast track. Karena saya berinteraksi dengan ayah saya setiap hari, saya merasa bahwa saya banyak belajar dari dia, bagaimana menangani sebuah business deal, orang-orang, bernegosiasi. Sebenarnya bisnis ialah bagaimana mencari solusi yang menguntungkan kedua belah pihak. Dalam bisnis juga penting reputasi dan integritas. Maka saya merasa bahwa belajar dari ayah saya merupakan hal terbaik bagi saya,” ia bercerita.

Mengenai terobosan yang dilakukannya di Grup Mayapada, Jonathan bercerita mengenai idenya untuk membuat Mayapada Klinik. Ia mengajukan ide itu ke ayahnya seiring dengan visi ayahnya untuk menjadikan Rumah Sakit (RS) Mayapada sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia, di mana saat ini terdapat 2 RS Mayapada, yang dalam 2 tahun ke depan akan dibangun 2 RS Mayapada lagi di Sentul dan Surabaya.

Mengenai ide mendirikan Klinik Mayapada sendiri, Jonathan mengaku melihat peluang dari pertumbuhan kelas menengah yang semakin peduli terhadap kesehatan. Pihaknya berusaha menangkap tren gaya hidup sehat kelas menengah dengan memberikan layanan kesehatan yang dibutuhkan oleh kelas yang sedang tumbuh pesat ini. “Karena itu, kami harus bisa menyediakan layanan kesehatan untuk kelas ini. Kami akan meluncurkan Mayapada Klinik untuk menyasar segmen kelas menengah,” kata Jonathan.

Secara hitung-hitungan bisnis, jika membangun rumah sakit membutuhkan investasi yang besar dan memakan waktu pembangunan yang cukup lama, maka tidak begitu dengan membangun klinik. Jonathan mengatakan investasi membangun klinik tidak sebesar dibanding rumah sakit. Untuk membangun sebuah RS, lanjutnya, dibutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun hingga 2 tahun. “Namun Mayapada Klinik hanya butuh sewa tempat, merenovasinya, mencari 3-4 dokter, buat laboratorium, dan klinik bisa beroperasi,” katanya. Saat ini, ia mengakui masih dalam tahap mencari lokasi klinik. Namun ia menargetkan dapat membuka hingga 15 klinik di wilayah Jabodetabek hingga akhir tahun ini. Sayangnya, ia enggan membagikan nilai investasi mendirikan klinik ini.

Selain itu, bisnis televisi berbayar Grup Mayapada yang baru diluncurkan di pertengahan tahun 2012, Topas TV, disebut Jonathan, yang juga menjadi Komisaris Utama perusahaan ini, sebagai bisnis yang sangat potensial. Bisnis yang dijalankan oleh duet Jonathan dengan saudara iparnya, Ronald Kumalaputera, itu diyakini akan banyak berkontribusi kepada grup. Keyakinan ini muncul berdasarkan pengamatan Jonathan yang melihat penetrasi televisi berbayar yang masih sangat rendah, yaitu baru sekitar 3% dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia.

Jonathan mengatakan bahwa saat ini dirinya masih mengalami banyak duka dengan beberapa bisnis anyar yang baru dijalankan. “Jadi jika berbicara tentang suka, mungkin sepuluh tahun ke depan sukanya akan terlihat, ketika bisnisnya sudah mulai matang. Bisnis RS, Klinik, dan Topas TV, baru masa awal. Jadi sekarang banyak dukanya dulu sebagaimana mana masa awal bisnis adalah cerita duka. Jadi bicara suka setelah 5 atau 10 tahun. Kami memiliki banyak pengharapan kepada Topas TV dan Mayapada Klinik,” ungkapnya.

Ke depan, Jonathan masih fokus untuk mengembangkan bisnis-bisnis yang baru dijalankan. Secara pribadi, ia mengatakan masih harus terus belajar dan mengembangkan diri. Ia terinspirasi oleh kakeknya, Mochtar Riady, yang pada usia senja, 80 tahun lebih, masih bekerja dan belajar. “Tiap hari ia selalu belajar dan baca buku. Improving yourself every day. Tiap hari dunia berkembang, kita harus mengikuti perkembangan itu,” ungkapnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)