Jony Yuwono Masuk ketika Sinde Budi Diterjang Ombak Besar

Jony Yuwono, generasi penerus PT Sinde Budi Sentosa terjun ke perusahaan keluarga sebagai Management Trainee, setelah lebih dulu bekerja di Kanada dan sebagai periset di Boston Consulting Group, Jakarta. Ketika masuk ke perusahaan keluarga, Jony dihadapkan pada situasi di mana perusahaannya mengalami guncangan besar. Itulah kesempatan emas bagi Jony untuk belajar dan terus belajar mengenai PT Sinde Budi Sentosa. Bagaimana lika-liku Jony terjun di perusahaan keluargnya? Ia menuturkannya kepada Gustyanita Pratiwi:

Jony Yuwono, Sinde Budi, Cap Badak, perusahaan keluarga Jony Yuwono

Sejak kapan Anda dilibatkan dalam bisnis keluarga? Apa peran yang diberikan?

Resmi bergabung di Sinde Oktober 2011. Awalnya masih ingin melanjutkan kerja di luar, kurang lebih sampai tiga tahunan. Karena latar belakang sebelumnya pernah bekerja di Kanada sebagai sales pisau dapur di perusahaan bernama Vector Marketing (8 bulan). Di sini istilahnya mencari pengalaman saja. Kemudian setelah tamat S2 tahun 2009, saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia namun masih belum bergabung di Sinde. Waktu itu saya menjadi researcher di Boston Consulting Group Jakarta. Saya mempelajari tentang data-data inflasi, pasar konsumen, ekspor impor, dan sebagainya. Di sana saya bertahan kurang lebih 1 tahun 4 bulan. Papa memang setuju saya bekerja di luar Sinde dulu.

Bahkan prinsip beliau, 5-6 tahun coba belajar dulu di perusahaan asing. Karena, kalau misalnya terjun langsung, masalahnya ada dua. Pertama, belum ada gambaran. Kedua, walaupun pernah bekerja, pengalaman juga masih kurang. Jadi istilahnya masuk ke sini, tidak ada pendirian sendiri. Sebaiknya keluar dulu, supaya perspektifnya bertambah. Tapi sebelum bekerja di perusahaan asing tersebut, boleh dibilang cuti kerja, cuti kuliah, dan sebagainya. Saya keliling-keliling Jatim, Medan, Kalimantan, ya istilah Papa untuk melihat potensi Indonesia. Ke Jatim, dari Surabaya naik mobil, keliling Banyuwangi, Situbondo, Jember, Malang, dsb. Sempat ke Medan, Palembang, Lampung, ya lumayan banyaklah.
Waktu Juli 2011, terdapat kasus dimana kami berganti merek. Istilahnya merek yang kami bangun besar, sekarang berbalik menghajar kami. Jadi saya melihat ini sebagai kesempatan besar untuk belajar. Justru pas ada ombak besar, orang baru bisa mengerti, bagaimana mengendarai kapal. Saya lalu minta tolong Papa, bolehkah saya ikut bergabung? Saya ingin ikut memelajari, menangani Sinde. Mungkin saya tidak bisa berkontribusi banyak, tapi setidaknya punya pengalaman bagaimana menangani goncangan ini. Papa tadinya agak tidak setuju, tapi akhirnya setuju saja. Kalau di luar, istilahnya kan karena di sana saya sebagai researcher, benar-benar mempraktekkan ilmu-ilmu itu. Akhirnya dia pikir, ya sudahlah dicoba saja. Tapi di sini juga dimulai dari posisi Management Trainee (MT).

Sebagai MT tugas saya adalah belajar. Prinsip konsep Papa: sebagai MT, Anda sebagai bawahan. Jadi istilahnya Anda boleh memberi masukan tapi tidak boleh mengambil keputusan. Belajarlah dari para senior. Misalnya, ada sesuatu yang Anda anggap benar atau perlu diubah/bagaimana, harus konsultasi dan kasih masukan pada senior tapi tidak boleh aktif mengambil keputusan.

Bidang awal yang saya pelajari adalah di lini produksi dulu. Mengerti basic-nya, core-nya. Tapi tidak terlalu mendalam. Saya belajar untuk mengerti kiat-kiatnya, proses produksinya bagaimana, flow-nya bagaimana. Di sana langsung agak loncat ke bagian IT sedikit. Slash marketing lah. Lebih ke arah memperbaharui website, socal media, dsb.
Tapi utamanya sih produksi. Di IT saya tidak sampai membeli komputer atau apa lah. Setelah itu baru ke marketing. Selain itu, mungkin awal-awal sering ke pabrik. Memelajari bagaimana proses produksinya karena pada waktu itu pemikirannya adalah dasar keunggulan kami ya di proses produksinya, dimana pabrik, formula, dsb, semuanya perlu kami komunikasikan.

Bagaimana Anda menilai Family Capital (Heritage, Kin Interaction, dan Civic Structure) dalam bisnis Sinde? Secara umum, apa saja nilai-nilai keluarga yang diwariskan ?

Kegigihan, kerja keras, dan fokus. Istilahnya kalau apapun tidak dilakukan sama saja bohong. Kalau tidak menembaknya ya tidak akan dapat hasil buruan. Kerja keras dan fokus ini ditekankan ke saya dan semuanya. Pak Budi bilang, seringkali banyak tantangan datang dan kami juga diminta untuk sering-sering introspeksi diri. Karena seringkali kegagalan terjadi adanya elemen-elemen yang berasal dari luar. Akan tetapi, tapi coba lihat juga apa yang bisa kita kendalikan, yang bisa kita ubah, atau yang bisa kita hindari. Kalau ibu sendiri mengajarkan tentang kesabaran. Istilahnya segala sesuatu jangan dipaksakan, juga jangan diburu-buru. Step by step. Selalu tenang dalam hal apapun. Mungkin ibu lebih ke arah emosionalnya.

Bagaimana modal yang bersifat intangible ini ditransfer pada diri Anda oleh orang tua? Apa sikap yang Anda tunjukkan agar nilai-nilai ideal keluarga ini bisa diserap dan dihayati dengan baik?

Setelah disuruh fokus, jangan semuanya di-iya-kan saja. Proses transformasinya ya dengan cara ngobrol-ngobrol, kalau di rumah, interaksi ayah-anak. Bicara pada saat makan malam, sarapan, makan siang, dll. Lebih ke diskusi, begitu pula dengan di kantor. Semua selalu didiskusikan bersama-sama, karena melibatkan kerja sama tim dalam proses pentransformasian nilai-nilai ini.

Jujur saja, sebagai anak yang pernah berpendidikan di luar, bekerja di perusahaan asing, dsb, begitu masuk ke sini, wah ini kok kayak begini, wah ini masih ditulis pakai tangan, dll. Ya pasti banyak hal-hal yang terjadi. Akan tetapi, kakak saya (dia pernah bekerja di sini juga), menasihati begini: pandanglah segala sesuatu secara keseluruhan. Jangan hanya negatifnya saja. Mengambil keputusan juga jangan istilahnya kayak: wah ini jelek, ganti!! Karena pada saat Anda mengganti hal tersebut, mungkin Anda lupa kelebihan/hal positifnya juga bakal ikut terbuang. Jadi mungkin berprinsip dari kerendahan hati. Argumentasinya adalah ada bukti apa bahwa konsep yang Anda bawa ini ada perubahan ke arah yang lebih ideal? Mungkin saja ini bagus, dengan segala keburukannya, apakah bisa mengantarkan perusahaan ini masih terus berkembang.

Apa saja proses coaching, mentoring, tour of duty atau proses pendewasaan lainnya yang Ibu jalani dalam proses transisi kepemimpinan? Apa hal-hal penting yang dapat dipelajari dari proses “pematangan” ini? Adakah coach dan mentor bisnis yang ditunjuk oleh orang tua untuk membantu ? Bagaimana sikap Anda agar proses pematangan ini berjalan dengan baik?

Belajar dari senior. Istilahnya saya yang datang paling akhir, ya saya yang paling kecil. Senior-senior tersebut ada yang setaraf manajer, ada yang setaraf direktur. Selama proses ini, Papa memonitor lebih ke arah result. Yang pasti kalau di kantor, walaupun dia ayah saya, ya tetap saja sebagai atasan saya, dan saya sebagai karyawan biasa, Jadi, tidak boleh langsung loncat-loncat begitu. Bagaimanapun kami harus melewati prosedur. Di perusahaan, saya tidak boleh andil tentang dokumen, tanda tangan kontrak kerja sama atau apapun. Harus lewat manajer-manajer yang berfungsi sebagai filter. Papa sih memonitor kinerja manajer. Kalau misalnya direktur/manajer tersebut salah dalam mengambil keputusan, satu tim ditegur. Tidak pandang bulu.

Kalau di rumah sendiri, Papa berlaku selayaknya seorang ayah. Ada kalanya di-clear off. Konsultasi, sebagai ayah-anak. Istilahnya ketika mengutarakan pandangan, dikonsultasikan, apakah ini benar atau salah. Dia akan coba tanyakan menurut pandangan, siapa, siapa, siapa, atau mempertimbangkan pandangannya juga. Papa lebih memilih bagaimanapun juga ini adalah satu tim. Tidak boleh menang sendiri. Kayak solo karier. Ibaratnya, sodok bola, striker tidak bisa main sendiri, harus ada kerja sama tim. Jadi biasanya sih, Papa membina saya untuk meminta sudut pandang banyak orang. Papa juga bilang, kesulitan saya belum tentu benar, jadi cobalah pelajari dari semuanya sebelum mendapatkan persepsi sendiri.

Apa hal-hal positif dari aspek kepemimpinan orang tua/mentor yang bisa Anda pelajari? Bagaimana mempraktikkannya sebagai the next leader?

Prinsipnya ya rendah hati, karena bagaimanapun juga hasil jerih payah itu berasal dari kita semua, bukan karena kiprah sendiri. Tidak ada apapun yang bisa disombongkan. Karena, bagaimanapun, harus dilihat perspektif yang lebih besar. Contoh: perusahaan kita bisa berkembang karena adanya dukungan dari karyawan-karyawan kami, dukungan dari konsumen kami yang mempercayai produk ini dengan setia, dsb. Istilahnya faktor-faktor tersebut jangan dilupakan. Karena manusia itu rentan sekali. Kalau misalnya, kepercayaan atau kerja sama ini retak, maka merenunglah. Kalau ada keputusan apapun, lebih baik banyak mendengarkan dan diskusi.

Apakah Anda pernah mengalami kenyataan “di bawah bayang-bayang orang tua”? Bagaimana cara Anda keluar dari bayang-bayang tersebut dan membangun kompetensi, confidence dan kredibilitas sebagai the next leader di perusahaan keluarga Ibu?

Bayang-bayang jelas selalu ada. Karena pasti selalu mendengar kisah Pak Budi tentang perjuangan masa mudanya. Kalau dibandingkan masa sekarang, bersyukur sekali. Karena tidak sampai dirazia polisi. Sempat juga perjuangannya tiap hari tidur hanya 1-2 jam saja, karena kan home industry. Jadi pagi sampai siang jualan, sore sampai malam pulang dan melakukan aktivitas produksi. Dulu, yang pertama kali dibuat adalah obat batuk, sekitar 1970-an. Tapi sekarang sudah tidak diproduksi lagi. Waktu itu Papa sendiri yang meraciknya. Dia juga sempat cerita, bagaimana seringnya terjadi kegagalan. Dulu, Pak Budi sempat jadi tukang dagang jalanan. Beliau berjualan di pinggir-pinggir jalan, tepatnya di daerah Glodok. Yang dijual adalah obat-obatan, baju, dll. Pada saat itu sudah 1 tahun berjualan, tiba-tiba ada razia polisi. Lari-lari. Kayak di film-film. Setelah itu, tidak tahu kenapa, dia bilang, pokoknya berterima kasih dengan polisi tersebut. Karena sekali kena, ditangkap. Gerobaknya disita. Suatu ketika Pak Budi bisa menebusnya, setelah dilihat, gerobaknya ternyata sudah hancur, kacanya sudah dihancurkan, barang dagangannya sudah habis diambil. Saat itulah, dia mulai berpikir. Dia bertanya kepada teman-temannya dan para tetangga, sesama pedagang jalanan juga. Ternyata ada yang sampai 5 tahun, ada pula yang sampai 13 tahun, bahkan ada yang sampai 20 tahun, begitu-begitu saja. Pak Budi pun berpikir, bahwa dia yang masih muda begini, kalau berada di situ terus, sampai 30 tahun pun bakal tetap menjadi pedagang jalanan. Makanya mulai berpikirlah beliau untuk berwirausaha. Kembali ke rumah, mintalah dia resep orang tuanya (kakek-nenek saya). Kemudian buatsendiri. Bukan tanpa kegagalan, awal-awal beli botol-botol dari tukang loak, dibersihkan, masih manual, belum pakai mesin, digodog, masak ramuan, dimasukkan ke botol, pasang kemasannya dengan lilin. Karena ada kenalan dengan toko obat, mulailah dimasukkan satu-satu ke toko obat tersebut. Sebulan kemudian, ditelpon, dimarah-marahin. Katanya basi, ha..ha..ha... Kemudian konsultasi dengan teman-temannya, kalau ditambah sedikit pengawet dengan kadar tertentu, maka akan tahan lama. Ya pelan-pelan. Lalu, cerita bagaimana dia dari awal mendistribusikan sendiri produk-produknya. Dengan sepeda, lalu dari sepeda beralih ke motor, dari motor ke motor yang lebih gede, Papa yang tahu merek-mereknya. Nah dia mendistribusikannya sampai ke Semarang dengan motornya itu. Pelan-pelan, kemudian ada modal beliau bisa membeli mobil. Dengan adanya mobil, maka lebih ganas lagi sampai nyebrang-nyebrang ke Sumatera, masuk ke Jambi, Padang, Bengkulu, Medan, semuanya ditelusuri. Seluruh Indonesia sudah pernah dia datangi. Prinsipnya adalah, dimana ada toko, harus ada produknya.

Jadi yang dibilang hidup di bawah bayang-bayang ya memang benar, apalagi beliau masih eksis. Dulu memang sempat gelisah. Istilahnya, bagaimana ini, saya kok kayaknya kurang, dll. Tapi sekarang ibaratnya come to term. Bagaimanapun juga kami berbeda. Ya justru kalau persis sama malah bahaya. Pak Budi bilang, kalau persis sama, artinya bakal gagal sebanyak aku juga. Itu bahaya. Beliau selalu bilang, bayang-bayang ini bukannya harus ada di bawahnya, tapi kalau bisa keluar dan berdiri di sampingnya. Jadi Papa sih menekankan, bertumbuhlah dan jadilah partner. Papa juga tidak pernah memakai bobotnya sendiri untuk menekan. Misalnya saja, dalam diskusi-diskusi, dia tidak akan pernah bilang : “Oke, Gue kan Papa lu, Gue yang paling bener,” Itu tidak pernah. Kalau dia tidak bisa bantah, dia akan minta waktu untuk berpikir, untuk dikonsultasikan lagi, didiskusikan lagi, sehingga lebih terbuka. Makanya saya berprinsip bukan mau jadi Pak Budi tapi jadilah Jony Yuwono.

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)