Jualan Emas, UBS Angkat Budaya Indonesia

Kalau dulu negara-negara di Eropa yang menjadi kiblat emas dunia, sekarang Asia menjadi rajanya. Indonesia pun termasuk di dalamnya. Secara cepat, pelaku bisnis emas di Tanah Air unjuk gigi. Berusaha menunjukkan produk perhiasan emas karya anak bangsa bisa bersaing di dunia internasional.

Catur R Limas, CMO PT Untung Bersama Sejahtera (UBS)

“Jadi, ada pergerasan kiblat (perhiasan) emas di dunia,” terang Catur R Limas, CMO PT Untung Bersama Sejahtera (UBS), dalam konferensi pers Jakarta International Jewellery Fair 2013, di Jakarta, beberapa hari lalu.

Dia pun bercerita sedikit mengenai sejarah perhiasan emas di dunia. Tahun 1767, pabrik perhiasan dan jam tangan pertama dibangun di Jerman. Setelah sekian lama, industri perhiasan emas lantas bergeser ke Italia, sesama negara Eropa. Selama tahun 1950-2000, negeri pizza ini berhasil menjadi kiblat perhiasan emas dunia.

Akan tetapi, Italia kehilangan daya saing seiring dengan terjadinya berbagai peristiwa ekonomi. Pabrik perhiasan emas lantas bertumbangan. Dari tadinya 1.225 pabrik tahun 2001, menjadi 885 pabrik di tahun 2009. Bahkan pekerja di industri itu berkurang drastis dari 12 ribu ke 9 ribu orang dalam kurun waktu yang sama. “Jadi, dalam 8 tahun mereka kehilangan segitu banyaknya,” ucap Catur.

Setelah Italia merosot, ia lantas menyimpulkan, “Poinnya adalah Asia, termasuk Indonesia, itu bangkit cepat dari krisis, dan dia bisa menerima tongkat estafet ini. Yang tadinya kiblat perhiasan di Italia, sekarang tongkat estafet dikasih ke Indonesia dan Asia.”

Ditegaskan Catur, perhiasan emas buatan Indonesia mampu untuk bersaing dalam hal kualitas dan model dengan banyak negara di dunia. Bahkan standar baku mutu Italia, yakni Emagold dan ISO, sudah dapat disamai oleh perusahaan-perusahaan emas terkemuka Asia, seperti UBS sendiri. “Indonesia ini nggak kalah secara kualitas, model. Dan Indonesia sudah siap menggantikan Italia sebagai kiblat perhiasan dunia,” dia menegaskan.

Sebagai salah satu pelaku industri, UBS mempunyai jurus tersendiri untuk bisa unggul dalam persaingan antarpelaku bisnis baik di Indonesia dan internasional. Apa itu? UBS mengusung gaya Indonesia (Indonesian style). Catur menerangkan, “Indonesia juga sudah menemukan gaya uniknya sendiri, yaitu modern tapi juga ada sentuhan khas budaya Indonesia.”

Perusahaan yang membuat lima ribu model baru setiap tahunnya ini, memproduksi perhiasan emas dengan unsur batik, pola keraton, hingga burung-burung khas Indonesia. “Mungkin ke depan, kami juga mengusung wayang,” tuturnya.

Selain menggunakan teknologi tinggi, UBS juga tetap memakai tangan perajin (manual). “Sehingga tercipta sesuatu yang nggak ada di dunia. Itu yang kami sebut Indonesian style in the world,” Catur melanjutkan.

Sebagai informasi, produk buatan UBS ini bukan hanya dipakai oleh masyarakat di Tanah Air saja. Karena sebagian besar produknya (85 persen) diekspor ke luar negeri, seperti Timur Tengah, Amerika, dan negera-negara di Asia Tenggara. “Kebanyakan ke Timur Tengah,” pungkasnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)