Jumlah Mahasiswa Prasetiya Mulya Tumbuh 25%

Prasetiya Mulya Business School masih menjadi pilihan utama calon mahasiswa yang ingin mendalami ilmu tentang bisnis. Rektor Prasetiya Mulya Business School, Djoko Wintoro, mengatakan, jumlah mahasiswa yang masuk setiap tahunnya tumbuh 25%. Mahasiswa bisa memilih empat jurusan, yakni Business, Marketing, Finance, dan Accounting untuk program S-1. “Semua jurusan di Prasetiya Mulya adalah bisnis. Itulah keunggulan kami. Biaya pendidikan di sini sebesar Rp 250 juta hingga selesai kuliah untuk S-1 dan Rp 150 juta untuk S-2,” katanya.

Ia menjelaskan, visi Prasetiya Mulya adalah menjadi rujukan, referensi perguruan tinggi. Untuk melakukannya, Yayasan Prasetiya Mulya secar kontinu melakukan pengembangan kualitas dosen, kualitas fasilitas pendidikan, dan lingkungan kampus. Di dalam kampus, kebersihan dan keamanan adalah nomor satu. Sehingga, ada alokasi anggaran khusus untuk keduanya. “Kualitas kampus tak hanya datang dari kondisi fisik kampus yang bagus, tetapi juga karena ekosistem kampus yang juga terjaga bagus,” ujarnya.

Djoko Wintoro, Rektor Prasetiya Mulya Business School Djoko Wintoro, Rektor Prasetiya Mulya Business School

Djoko menjelaskan, kualitas staf pengajar menjadi prioritas. Kualitas dosen sangat menentukan teknik pengajaran dan transfer ilmu kepada para mahasiswanya. Untuk itulah, dosen di Prasetiya Mulya merupakan dosen tetap yang tidak mengajar di perguruan tinggi yang lain. Sesuai dengan standar pendidikan tinggi, dosen di Prasetiya Mulya harus sudah menyelesaikan program master maupun doktor sebelum menjadi staf pengajar.

“Prasetiya Mulya selalu bersaing untuk kemajuan. Jika kami sudah menjadi rujukan perguruan tinggi, maka kami akan menang. Siapa yang menang, dia akan maju. Lulusan kami terbagi dua, yang bekerja di perusahaan sebanyak 80% dan sisanya membuka usaha sendiri. Tapi, Prasetiya Mulya bukan pemasok tenaga kerja melainkan calon pemimpin,” katanya.

Untuk meningkatkan kualitas lulusannya, lanjut dia, Prasetiya Mulya menerapkan kurikulum berbasis teori dan praktik. Kurikulum juga tidak dirancang berdasarkan referensi dari negara lain. Jika dibandingkan dulu, bisnis saat ini jauh lebih kompleks. Sehingga, sulit menggunakan acuan bisnis yang telah lampau. “Yang menjadi referensi kami adalah bisnis di masa depan. Jadi, setiap mahasiswa harus belajar landscape business,” ujarnya.

Prasetiya Mulya juga terus membuka diri dengan perkembangan bisnis di luar negeri. Untuk itulah, mereka menjalin kerjasama dengan banyak negara seperti China, Korea, Jepang, Filipina, Australia, dan Amerika Serikat. Setiap bulan Agustus, ada program khusus yaitu Prasetiya Mulya Scholar Network yang dihadiri oleh negara-negara tersebut. Para mahasiswa akan berbicara di hadapan para pelaku bisnis dan menggagas ide-ide besar tentang bisnis. “Pergaulan adalah salah satu kunci sukses Prasetiya Mulya. Kami bekerjasama dengan dunia internasional untuk misalnya, pertukaran pelajar, penelitian, dan sebagainya,” katanya. (Reportase: Indah Pertiwi)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)