Jurus Grab Bike Menguasai 50% Pasar Ojek Online

Berbagai rintangan disiapkan instruktur Indonesia Defensive Driving Center saat SWA Online dan beberapa peserta lain mengikuti tes mengendarai sepeda motor (safety riding) yang digelar Grab Indonesia di Taman Bumi Perkemahan Wiladatika Cibubur, Jakarta Timur pada Kamis, (3/3/2016). Ketika itu, 200 pengemudi Grab Bike turut menjalani tes safety driving yang dihelat Grab Indonesia.

Reporter SWA Online mencoba tes ini dengan membonceng seorang penumpang. Layaknya tukang ojek, peserta menguji keseimbangan dengan melalui rintangan pemarkah jalan, berbelok, hingga melintasi balok yang panjangnya 2 meter dan lebarnya lebih dari 20 cm. Tantangan lainnya adalah controlled stop untuk menguji ketrampilan mengerem sepeda motornya saat mengendarai sepeda motor dengan kecepatan 35-40 km /jam.

Lolos safety riding merupakan kewajiban yang harus dilalui pengemudi Grab Bike. Ujian yang diadakan sejak Oktober tahun lalu ini terlah diikuti ribuan pengemudi. Grab Indonesia menargetkan akan melakukan ujian bagi calon pengemudi GrabBike sebanyak 25.000 orang hingga akhir bulan ini. Grab Indonesia, perusahaan aplikasi teknologi asal Malaysia, memprioritaskan keselamatan berkendaraan dan kenyamanan pelanggannya.

Grab Indonesia juga menawarkan kenyamanan lainnya melalui aplikasi terbarunya yang bakal dirilis pada Maret ini. Fitur tersebut akan melindungi data-data pribadi pelanggan semisal nomor telepon seluler dan memangkas biaya komunikasi antara pelanggan dengan pengemudi Grab. Kiki Rizky, Country Head of Marketing Grab Indonesia, menyebutkan, aplikasi terbaru ini tidak akan menampilkan nomor telepon si pelanggan maupun pengemudi Grab saat saling berkomunikasi.

“Layanan ini tentu akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi pelanggan karena karena pengemudi tidak perlu harus lihat nomor telepon penumpang sama sekali," ujar Kiki. Dia belum bisa merincikan lebih lanjut mengenai nama dan mekanisme teknis dari aplikasi tersebut.

“Yang pasti, produk baru ini akan dirilis dalam waktu dekat ini," ucapnya. Jika fiturnya itu terealisasi, maka Grab Indonesia akan mendahului kompetitornya, seperti Go Ojek dan Uber yang belum menyediakan fitur sejenis.Bisa jadi, fitur yang sedang digarap Grab Indonesia ini akan menjadikan kompetisi antara perusahaan aplikasi teknologi di segmen taksi dan ojek online akan semakin sengit.

Grab Indonesia beroperasi di Indonesia sejak tahun 2015. Hanya dalam waktu kurun waktu 12 bulan, Grab Indonesia berkembang di lima kota, yakni Jakarta, Bandung, Padang, Surabaya, dan Bali. Lima kota lainnya direncanakan akan mengoperasikan Grab hingga akhir tahun ini. Sebanyak empat jenis layanan ditawarkan Grab Indonesia ke konsumen, yaitu Grab Taxi untuk pemesanan taksi, Grab Bike yang melayani pemesanan ojek, Grab Car untuk pemakaian mobil sewa yang lebih pribadi dan Grab Express untuk pengantaran paket.

Grab Indonesia mengutamakan keamanan dan kenyamanan pelanggan dan pengemudinya. Grab Indonesia berencana merilis fitur terbarunya yang akan melindungi data-data pribadi telepon seluler. (Foto : Sri Niken Handayani/SWA). Grab Indonesia mengutamakan keamanan dan kenyamanan pelanggan dan pengemudinya. Grab Indonesia berencana merilis fitur terbarunya yang akan melindungi data-data pribadi pelanggan seperti nomor telepon seluler. (Foto : Sri Niken Handayani/SWA).

Ridzki Kramadibrata, Direktur Pelaksana Grab Indonesia, mengatakan salah satu target Grab Indonesia di tahun 2016 adalah menguasai pangsa pasar ojek online sebesar 50% sehingga bisa melampaui pencapaian tahun lalu sebesar 35%. Dia menyebutkan pihaknya menjaga loyalitas konsumen agar bisa meningkatkan pangsa pasarnya.

Kini, Indonesia menjadi salah satu pasar yang diperhitungkan dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi prinsipil Grab yang beroperasi di enam negara lainnya. " Indonesia salah satu negara yang sangat penting dari enam negara tersebut. Posisinya Indonesia adalah sangat penting," ujar Ridzki. Ia enggan merinci persentase dari Grab Indonesia yang dikontribusikan terhadap total pendapatan Grab di regional. “Fokus Grab adalah transporting people,” tukas Ridzki berdiplomatis.

Menurut Ridzki, pertumbuhan Grab Car di tahun lalu sebesar 35% per bulan dan Grab Bike 75% setiap bulannya. Ridzki menambahkan sejak Desember 2015 pihaknya menyediakan layanan terbaru bernama Grab Express untuk pengantaran paket. “Pelanggan Grab Express kebanyakan berasal dari korporat,” katanya. Ridzki ditunjuk sebagai Direktur Pelaksana Grab Indonesia sejak sebulan yang lalu. Tugasnya mengawasi operasional bisnis, ekspansi, kemitraan strategis dan pengembangan brand untuk Grab di Indonesia.

Ridzki memiliki lebih dari 20 tahun pengalaman bekerja untuk perusahaan multinasional. Sebelum bergabung dengan Grab Indonesia, Ridzki berkarier di Air Asia Indonesia sebagai Direktur Operasional dan Direktur Regional di Grup Air Asia. Sebelum bergabung dengan AirAsia, ia menghabiskan sebagian besar perjalanan karirrnya di industri telekomunikasi, dengan salah satu bagian dari perjalanan karirnya sebagai EVP of Marketing, Product and CRM untuk Bakrie Telecom. Ridzki lulus dari State University of New York dengan gelar MBA, dan lulus dari Universitas Padjadjaran Bandung dengan gelar Sarjana di bidang Manajemen. Lebih lanjut, Ridzki menekankan Grab Indonesia memiliki entitas untuk menjalankan bisnisnya di Indonesia. Grab Indonesia beroperasi dibawah bendera PT Grab Taxi Indonesia dan PT Solusi Transportasi Indonesia. “Grab Indonesia memiliki entitas dan membayar pajak, jadi tukang ojek kami membayar pajak loh,” ungkapnya.

Kiki menambahkan, pihaknya mempertimbangkan tren permintaan dan suplai untuk menjaga tingkat kesejahteraan para mitra serta kenyamanan layanannya. Untuk itu, Grab Indonesia belum berencana merekrut pengemudi dalam jumlah besar. “Rekrutmen hanya di area-area tertentu saja, untuk saat ini memang Grab sudah ada di Jadetabek, tetapi tentunya konsentrasi yang terbesar tentunya di Jakarta, jadi area yang lain yang akan ditingkatkan,” jelasnya.

Untuk saat ini, Kiki menyebutkan, pengemudi sejumlah perusahaan taksi telah bermitra dengan Grab Taxi di antaranya Taksi Express, Gamya, Putra, dan Trans Cab. “Tapi mitra kami itu sebagian besar adalah individu yang artinya si pengemudi taksi dan bukan perusahaan taksinya,” jelas Kiki. Dia belum bisa menyebutkan jumlah pengemudi taksi yang menjadi mitra Grab Indonesia. Begitupula dengan jumlah pengemudi ojeknya.

Pengemudi Grab Indonesia diberikan insentif guna merangsang produktivitasnya. Berbicara insentif, Kiki menuturkan pihaknya sudah tidak memberikan subdisi namun pengemudi diberikan bonus “Kami memberikan bonus supaya kinerja mereka selalu baik. Bentuk bonusnya diberikan tunai,” ungkapnya. Bonus terbesar yang didapat pengemudi Grab bisa mencapai Rp 10 juta dalam sepekan. Penghitungan bonusnya itu menilai sejumlah aspek yang mampu dicapai si pengemudi, antara lain produktivitasnya mengangkut penumpang dan nilai yang didapatkan si pengemudi dari penumpangnya. Pemberian bonus setiap pekan ini, menurut Kiki, menyedot minat pengemudi. "Contohnya biker perempuan yang tadinya bekerja di bank sekarang menjadi pengemudi Grab Bike. Dia bilang kalau menunggu bonus di kantornya itu harus menunggu hingga akhir tahun, sedangkan kalau di Grab setiap minggu bisa dapat bonus,” tutur Kiki.

Grab Indonesia adalah negara yang keenam yang beroperasi di Asia Tenggara setelah Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand dan Vietnam. Jumlah pengemudi Grab yang tersebar di enam negara dan 28 kota di Asia Tenggara itu sebanyak 220 ribu pengemudi. Pemesanan via aplikasi sebanyak 1,5 juta pemesanan setiap harinya dan saat ini, aplikasi Grab telah diunduh lebih dari 11 juta perangkat pintar di seantero Asia Tenggara.

Peluang pasar untuk layanan taksi, mobil, ojek dan kurir di Asia Tenggara senilai US$ 25 miliar. Potensi ini sangat menggiurkan apabila mencermati jumlah penduduk di kawasan tersebut. Populasi penduduk di kawasan Asia Tenggara sebanyak 620 juta jiwa, lebih banyak daripada Eropa dan Amerika Serikat. Sebanyak 12 kota besar di Asia Tenggara dipadati lebih dari 4 juta penduduk. Jika ditimbang-timbang, ceruk pasar yang masih potensial ini dilihat dari jumlah kepemilikan kendaraan bermotor yang rendah dibandingkan kawasan lainnya. Angkanya yaitu 70 mobil per 1.000 orang, lebih rendah dari China yang mencapai 103 mobil dan 574 mobil di Amerika Serikat. Populasi kelas menengah baru pada 2020 diperkirakan tumbuh dua kali lipat atau menjadi 400 juta orang dan penetrasi pengguna telepon pintar.

Program Kemitraan

Prinsipil Grab Malaysia berinisiatif untuk menyediakan sejumlah program yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan para mitra lokalnya. Misalnya saja program Elite Driver yang mempromosikan dan memberi penghargaan kepada pengemudi Grab yang paling aktif serta mampu menyediakan layanan sesuai standar perusahaan. Saat ini, Grab Indonesia membenamkan investasi sebesar Rp 50 miliar guna menyokong program Elite Driver. Para pengemudi yang tergabung di Elite Driver akan menerima berbagai keuntungan, seperti sertifikat penghargaan, insenstif keuangan, beasiswa bagi anak-anaknya, merchandise Grab dan dana pensiun. Program ini tersedia bagi pengemudi Grab Taxi dan pengendara Grab Bike.

Program berikutnya adalah Grab Scheme yang memberikan skema pembiayaan motor berbunga rendah dari Grab. Tujuan program ini untuk memudahkan pengemudi untuk membeli sepeda motor dan diharapkan memberikan layanan yang lebih aman bagi para penumpangnya. Selanjutnya adalah program Grab School yang memberdayakan anak-anak dari pengemudi Grab melalui pelatihan kewirausahaan, ketrampilan yang aplikatif dan inovatif. Program ini akan diluncurkan dalam waktu dekat ini.Keselamatan menjadi prioritas utama dalam operasional setiap layanan Grab. Hal ini tercermin dari fitur yang tersedia di aplikasi dan kualitas pengemudinya, yaitu memberikan informasi rinci mengenai identitas pengendara, pelacakan pengemudi, menyediakan fitur Share My Ride (fitur yang memungkinkan penumpang membagi informasi plat nomor kendaraan yang ditumpangi serta tautan status perjalanan melalui GPS), pengemudi wajib memiliki SIM, lulus Safety Driving Course, serta menyediakan asuransi untuk pengemudi dan penumpangnya. (***)

Reportase : Niken Sri Handayani

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)