Jurus P&G Pertahankan Talent

Didie R Manahera Dedie R. Manahera, Direktur Asia Tenggara Talent Practice PT Procter & Gamble Home Products Indonesia

Realitas VUCA dan disruptif bagi P&G Indonesia bukanlah hal yang menakutkan. Justru, VUCA bisa menjadi “bahan bakar” bagi perusahaan untuk tumbuh maju lagi ke depannya.

P&G Indonesia menjawab era VUCA dan disruptif dengan melakukan organizational engagement, yaitu mempertahankan talent agar terus berkomitmen terhadap bisnis dan perusahaan di tengah berbagai tantangan seperti disrupsi teknologi, kesempatan kerja di tempat lain, pertumbuhan bisnis di tempat lain, dan kondisi ekonomi di Indonesia saat ini.

Jadi tantangannya, bagaimana karyawan bisa engage, dan memastikan karyawan fokus dan mau berkontribusi serta berkomitmen untuk produktivitas di perusahaan,” ujar Dedie R. Manahera, Direktur Asia Tenggara Talent Practice PT Procter & Gamble Home Products Indonesia

Bagaimana solusi untuk menghadapi hal tersebut? Salah satunya, menyediakan fasilitas yang menjadi kebutuhan karyawan. “Kami menggunakan employee value proposition (EVP) yang sudah kami jalankan hampir enam tahun terakhir ini. Prinsipnya, kami mencoba propose karyawan apa yang paling valuable untuk mereka,” kata Dedie. Ternyata, karyawan ingin dihargai bekerja di P&G, memiliki growth, being rewarded, dan recognized.

Kebutuhan tersebut disimpulkan P&G dalam EVP perusahaaan. Jadi, dalam mendesain kebijakan dan benefit pada people management, P&G menggunakan model EVP tersebut. Selain itu, P&G juga memiliki pilar sendiri, yaitu diversity and inclusion, learn and growth, leadership, serta be proud as P&Gers. “Merasa bangga karena fasilitas yang kami berikan dan seberapa besar perusahaan investing ke karyawan untuk growing,” ujar Dedie.

Hal ini karena perusahaan memandang aset terbesar perusahaan adalah merek dan orang-orang (karyawan)-nya. Itu sebabnya, bisnis perusahaan akan berkelanjutan apabila talent-nya juga berkelanjutan. Jika tidak responsif terhadap perubahan yang terjadi saat ini, perusahan akan kehilangan talent yang merupakan aset terbesarnya dan otomatis bisnisnya tidak akan tumbuh.

Menurut Dedie, VUCA baru booming beberapa tahun belakangan ini. Adapun P&G telah berdiri sejak 180 tahun lalu. Nah, sebagai perusahaan yang telah lama berdiri, pihaknya mengetahui dan tidak pernah menutup mata terhadap perubahan ini. “Faktanya, kami bisa bertahan hingga sekarang. Invasion merupakan core perusahaan kami, baik teknologi maupun people management,” ujarnya.

Dalam menghadapi berbagai perubahaan yang terjadi, P&G pun telah melakukan antisipasi melalui strategi bisnisnya. Contohnya, memutus divisi yang tidak penting sejak 2001, sebelum VUCA dibicarakan. Juga, menganut people who work in our organisation are people doing added value.

Prinsipnya, pihaknya percaya ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukannya karena bukan ahlinya dan ada pihak lain sebagai ahlinya. Misalnya, dengan IBM, P&G menjalin kerjasama untuk masalah teknologi. “Perusahaan kami 90% adalah manager. Yang non managerial job, kami berikan ke perusahaan yang core bisnisnya memang di sana. Jadi, kami sudah menyelesaikan fase itu sebelumnya sejak beberapa tahun lalu,” Dedie menjelaskan.

Untuk karyawan, P&G menerapkan berbagai kebijakan yang bisa mendorong kinerja dan produktivitas mereka menjadi lebik baik. Contohnya, sejak 12 tahun lalu P&G menerapkan flexible working arrangements, yaitu karyawan bebas duduk di mana saja di kantor P&G. Lalu, sejak 2009 menerapkan work from home, karyawan bisa bekerja di rumah dua hari dalam seminggu, dan tidak menerapkan sistem absen. “Work from home ini bisa meningkatkan produktivitas bagi karyawan yang sudah bekerja lebih dari satu tahun. Tim TI kami pun bisa membantu untuk meng-set up internet atau kebutuhan TI di rumah, “ ujarnya.

Hasilnya bisa terukur karena setiap tahun P&G membuat survei. “Sebanyak 66% karyawan menggunakan work from home dan flexible hours. Mereka pun setuju bahwa sistem tersebut meningkatkan produktivitas,” kata Dedie. Ukuran produktivitas pun tidak tidak hanya dilihat dari hasil kerj. Namun, juga dari overhead cost karena perusahaan tidak banyak mengeluarkan dana untuk space office untuk karyawan.

Karyawan kami berjumlah 500, di kantor dan pabrik. Di kantor ada 150 orang dan total kursi yang ada hanya 80% dari jumlah karyawan di kantor,” kata Dedie. Ia menambahkan, masih banyak lagi treatment dan fasilitas yang diberikan bagi kayawan untuk meningkatkan produktivitas. Contohnya, fasilitas kesehatan, olahraga, fasilitas khusus untuk perempuan, dan transportasi di pabrik.

Dengan berbagai kebijakan dan pendekatan baru yang dilakukannya, hasilnya pun bisa dirasakan. Berdasarkan survei P&G, karyawan mendukung perusahaan sepenuhnya. “P&G business up and down. Ketika bisnis kami not doing well, kami memprediksi akan ada banyak karyawan yang disengagement. Namun, hasil skornya malah bagus dan konsisten. Itu semua juga terbukti dari business improving kami yang sekarang naik,” ujar Dedie bangga.

Langkah P&G Mengelola Talent di Era VUCA dan Disruptif

  • Melakukan organizational engagement: mempertahankan talent agar terus berkomitmen dengan bisnis dan perusahaan.
  • Memandang aset terbesar perusahaan adalah merek dan orang-orangnya (karyawan).

  • Mempertahankan talent dengan penyediaan fasilitas yang menjadi kebutuhan karyawan melalui employee value proposition karena karyawan ingin dihargai bekerja di P&G, memiliki growth, being rewarded, and recognized.
  • Untuk meningkatkan produktivitas, menerapkan sistem flexible working arrangements (karyawan bebas duduk di mana saja di kantor P&G), work from home (kerja di rumah dua hari dalam seminggu), flexible hours (tidak absen), dsb.

Reportase: Anastasia Anggoro

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!