Jurus Toko Bangunan Tetap Bertahan

Fahmi karya

Bermula dari usaha membuat bata ringan di Gresik, Izzul Fahmi (29) terpikat untuk melanjutkan usahanya dengan membangun toko bangunan yang kompetitif. Dengan modal awal sebesar Rp 50 juta, ia mengembangkan bisnisnya lewat bendera Fahmi Karya.

Diakui Izul, begitu ia disapa, sebelum Fahmi Karya lahir, ada dua pemain besar yang sudah ada sebelumnya. Kedua pemain toko bangunan itu yang menginspirasi izul dan mengkombinasikan keunggulan keduanya dalam satu bendera Fahmi Karya.

Menurut alumni Universitas Al Azhar Kairo Mesir itu, Fahmi karya didirikan pada tahun 2014. Saat itu sedang banyak pesanan bahan bangunan seperti besi dan sebagainya. Peluang besar itu, Izul manfaatkan dengan maksimal dengan pembidik pasar dari pemborong proyek kabupaten dan provinsi.

“Sebenarnya bisnis toko bangunan ini sangat berisiko besar, tapi Alhamdulillah saya dapat melaluinya dengan baik dan lancar,” jelas izul pendiri dan pemilik Fahmi Karya kepada SWA Online (6/12/2016).

Izul menjelaskan, ada tiga tingkatan pemborong yang biasa menjadi pelanggan di toko bangunan. Pertama adalah pemborong individu, kedua pemborong perumahan (regency) dan terakhir adalah pemborong kabupaten atau provinsi.

Jika membidik pasar pemborong individu risikonya sangat minim, karena jumalah transaksinya tidak besar. Sedangkan pasar pemborong perumahan ini sangat berisiko. Sebab, menurut Izul kebanyakan para pengembang hanya bermodal kepercayaan, jika ada masalah di tengah jalan maka secara otomatis pendapat toko bangunan pun terkena dampaknya.

Karena itu, untuk melancarkan bisnisnya Izul membidik pasar pemborong dari pemerintah kabupaten dan provinsi di Gresik. Dengan begitu, resiko penunggakan pembayaran bisa diminimalisir. Karena menggunakan dana negara, jadi pada bulan Desember uang sudah bisa Izul terima.

Strategi yang diterapkan rupanya membuahkan hasil, tidak hanya di Gresik. Nama Fahmi Karya pun sampai terdengar di luar kota seperti Wonogiri. Setiap minggunya Izul mengirim satu kontainer bata ringan kepada pelanggannya di kota yang berjarak sekitar 200 km dari Gresik.

Mengenai bahan baku, Izul mengaku mendapatkan dari sales dengan harga yang kompetitif. Meski baru mendapat omzet sebesar Rp 30 juta per bulan, dengan mendirikan 5 cabang baru Fahmi Karya di berbagai tempat di Gresik, bisnisnya akan terus meroket.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)