Kabupaten Malang: Dulu Benci Sampah, Kini Menjadi Berkah

Kota Kepanjen yang menjadi ibukota Kabupaten Malang berdasarkan peraturan pemerintah, menjadi perhatian serius pemda Kabupaten Malang untuk menata daerah mereka agar mampu menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Isu perubahan iklmi global, ternyata mampu dikelola dengan baik oleh daerah yang dialiri sungai Brantas dan Metro ini. Berbagai program dan inovasi dilakukan pemdanya untuk menjadikan daerah ini sebagai daerah yang hijau. Apa saja yang dilakukan pemda setempat dan bagaimana mereka menerapkannya dalam pengelolaan wilayah mereka, dapat disimak pada wawancara Rif'atul Mahmudah dengan Rendra Kresna, Bupati Kab. Malang berikut ini:

RendraKresna

Apa saja persoalan lingkungan yang dihadapi Kabupaten Malang? Seberapa urgen persoalan itu? Apa saja yang menjadi penyebabnya?

Isu dan masalah lingkungan Kota Kepanjen secara umum adalah adanya degradasi kualitas lingkungan akibat alih fungsi lahan yang kurang memerhatikan aspek-aspek ekologis, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem. Selanjutnya, kurangnya kebutuhan akan RTH yang dapat menciptakan kenyamanan dalam public services. Kondisi RTH Kota Kepanjen saat ini sekitar 10% yang tersebar pada ruang publik dan ruang privat. Ketiga, karakter masyarakat yang beragam dan berada pada fase transisi antara kebiasaan hidup di perkotaan dan perdesaan. Berikutnya, letak geografis Kabupaten Malang khususnya Kota Kepanjen mengapit Kota Malang dan Kota Batu menjadikan perubahan-perubahan tertentu demikian juga infrastruktur dan pelayanan ada kendala.

Apa saja program yang dirancang untuk mengatasi persoalan lingkungan tersebut? Seperti apa gambaran program itu? Bagaimana melibatkan masyarakat, kalangan bisnis, dan stake holder lain untuk bersama-sama menjalankan program itu?

Selain sosialisasi diskusi, dan mengajak masyarakat untuk berperilaku menuju pro-environment. Kemudian, kami menjalankan kegiatan terprogram dalam APBD pembiayaannya, berupa kegiatan-kegiatan bersifat kemitraan, berfungsi sebagai stimulan agar masyarakat bangkit semangatnya untuk mandiri, tetapi tujuannya sama pada pengelolaan SDA di Kota Kepanjen. Kemudian mengurangi terjadinya penurunan kualitas lingkungan akibat alih fungsi lahan. Kami sudah melakukan berbagai aturan tentang Kota Kepanjen, bagaimana kami mengendalikan ketat pembangunan-pembangunan di sekitar wilayah DAS Brantas maupun DAS Metro.

Demikian pula sudah ada perda yang mengatur sanitasi perkotaan. Jadi tidak mungkin ada pembangunan di situ meskipun statusnya masih tanah biasa, untuk mendirikan bangunan kalau ternyata di bawahnya sudah tergambar peta sanitasi. Jadi tidak boleh membangun di atasnya. Jangankan di atasnya, di kiri-kanannya saja perlu izin gubernur. Peta drainase Kota Kepanjen sudah kami tetapkan. Jadi meskipun masih banyak tempat kosong, tetapi di situ ada petanya, tetap tidak boleh. Kemudian melakukan program kemitraan dengan masyarakat khususnya dalam pengelolaan sampah, karena Kepanjen sudah menjadi kota tentunya sampah menjadi sesuatu yang intens kami perhatikan. Kami pun mengajak perusahaan-perusahaan dengan CSR-nya untuk aktif dalam kegiatan terkait masalah lingkungan hidup.

Apakah ada sanksi bagi perusahaan?

Saya rasa tidak ada kaitannya antara mengajak mereka dengan memberikan sanksi kepada mereka. Tetapi, kami tidak pandang bulu terhadap mereka baik yang sudah mengeluarkan CSR atau belum, misalnya dalam pembuangan limbah. Dulu pernah PT Bentoel ada masalah, kalau mereka tidak benar mengelola, kami berikan semacam plat hitam. Mereka harus segera memperbaiki, kalau tidak kami akan hentikan. Tetapi yang sudah-sudah mereka memperbaiki.

Siapa yang menjadi tim untuk mengimplementasikan program itu? Sejak kapan dilaksanakan? Bagaimana anggaran dan pembiayaannya?

Kalau untuk pelaksanaannya, dilaksanakan oleh masing-masing, tetapi mereka tidak bekerja parsial, tetapi bersama-sama. Katakanlah untuk membangun taman kota, ada dinas kehutanan, badan LH, dinas cipta karya, dan didukung SKPD yang lain, terutama menurut fasilitas infrastruktur. Kami membiasakan harus bekerja bersama.

RendraKresna2

Selain program yang telah disebutkan, adakah inovasi lain yang dilakukan?

Inovasi kami di Kota Kepanjen, TPA ada di tengah kota. Sampah di tengah kota ini kami jadikan tempat wisata edukasi. Kami lakukan di sini Bumi Perkemahan. Mereka tidak tahu kalau itu tempat sampah karena tidak bau, gas metannya kami gunakan. Kemudian, kampung mandiri energi di sekitar TPA. Ada kurang lebih 124 KK yang sudah memanfaatkan gas metan dari TPA ini. Bebas, gratis untuk berapa pun kompor yang dibutuhkan. Dalam memanfaatkan gas metan ini kami tidak membutuhkan teknologi yang sangat canggih, sederhana saja. TPA ini tidak hanya di Kota Kepanjen, tetapi di Kota Kecamatan sudah kami kembangkan. Selain itu, kami melakukan perluasan RTH di Kota Kepanjen, di Stadion Kanjuruhan, kemudian di Area Taman Metro, RTH Taman TPA Talangagung, RTH Taman Buah Nusantara dan Warung Apresiasi Edukasi Lingkungan Kota Kepanjen, RTH Taman Puspa, RTH Taman Kehati dan RTH Jalibar Kota Kepanjen.

Yang Anda unggulkan untuk IGRA ini?

Terutama dari sisi kelembagaan, saya sudah punya Badan Lingkungan Hidup. Yang kedua punya peraturan daerah yang mengatur tentang tata ruang daerah Kota Kepanjen. Ketiga, kebersamaan masyarakat, contohnya Sanimas (Sanitasi Masyarakat), sanitasi yang berbasis komunal.

Bagaimana melakukan evaluasi? Sejauh ini bagaimana tingkat keberhasilannya? Sejauhmana program yang dijalankan sudah bisa menurunkan persoalan lingkungan di wilayahnya? Apa tolok ukurnya?

Kami sudah berusaha. Tetapi menyangkut Kota Kepanjen, kota yang sudah ada dan harus dibentuk baru, ini bagaimana agar masyarakat sadar ada pembenahan-pembenahan untuk kepentingan masyarakat sendiri. Ini butuh waktu.

Kalau dikatakan berhasil atau tidak, ini masih dalam proses, tetapi partisipasi pemerintah dan masyarakat untuk masalah lingkungan sudah meningkat dan ada dampak yang dapat dirasakan. Dulu orang benci dengan sampah, sekarang sebaliknya karena sampah mendatangkan berkah, di antaranya gas metannya.

Untuk menjaga keberlangsungannya, ini menyangkut tipe kepemimpinan, apakah Bupatinya memperhatikan lingkungan atau tidak.

Apa memiliki program jangka panjang untuk mengatasi persoalan lingkungan di daerahnya?

Ini semua program lingkungan adalah untuk program jangka panjang, karena itu yang akan kita wariskan kepada anak cucu. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)