Kalbe Farma Fokus sebagai Pemain Regional

Tahun ini, PT Kalbe Farma Tbk memilih fokus menjadi pemain regional yang kuat dan disegani di kawasan Asia Tenggara. Hal itu dilakukan karena pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang seharusnya menciptakan sebuah kompetisi, namun pada kenyataannya justru medorong negara-negara di kawasan Asia Tenggara berlomba membuat regulasi untuk melindungi diri.

Direktur Divisi Internasional Kalbe Farma, Kim Susanto mengatakan, dalam lima tahun terakhir, kinerja penjualan perusahaan tumbuh sebanyak 20%. Saat ini, perusahaan farmasi tersebut juga telah hadir di 34 negara di dunia dan segera berekspansi ke Afrika.

kalbe

Kalbe Farma bermimpi menjadi perusahaan global yang sejajar dengan perusahaan farmasi kelas dunia lainnya. Untuk mewujudkan mimpi itu, Kalbe Farma aktif melakukan building brand dan occasion di 34 negara itu agar memiliki banyak talenta dari beraneka bangsa.

“Namun demikian, untuk tahun ini kami putuskan untuk fokus menjadi regional player yang kuat di Asia Tenggara. Sebenarnya, saat kami merupakan salah satu perusahaan farmasi terbesar di Asia Tenggara dan dengan adanya MEA maka kami harus tetap mempertahankan eksistensi tersebut,” katanya.

Ia menuturkan, peluang pasar di Asia Tenggara sangat menjanjikan karena konsumennya bersifat heterogen dan masive consumer base. Dengan dibukanya MEA maka pasar di Asia Tenggara akan lebih terbuka dan tercipta sebuah kompetisi, tapi yang terjadi negara-negara di Asean justru berlomba-lomba membuat regulasi untuk melindungi diri.

Di Vietnam misalnya, setiap kali Kalbe Farma melakukan pengapalan selalu dicek, begitu pula di Myanmar yang mengharuskan ada sertifikasi yang butuh 1-2 bulan.

“Networking tentu saja menjadi hal yang penting dalam mengatasi hal tersebut. Karena itu, untuk tetap mempertahankan eksistensi, kami memberlakukan strategi yang berbeda di setiap negara sesuai aturan yang ada di negara tersebut. Ini juga merupakan sebuah tantangan yang hingga saat ini harus dihadapi. Kami harus berdamai dengan hal tersebut,” kata dia.

Meski demikian, Kalbe Farma juga tetap berupaya menyusun strategi untuk meraih mimpi sebagai perusahaan global. Yakni, memperkuat supply chain gunda mendukung distribusi produk Kalbe Farma di seluruh pelosok negara, melakukan lokalisasi/penyesuaian terhadap konten lokal sehingga lebih bisa diterima oleh masyarakat, dan melakukan inovasi secara berkala.

“Misalnya, kami mengupayakan agar produk kami merupakan brand lokal yang dapat diterima di ranah global, sehingga dilakukan penyesuaian/menyediakan local content di negara tujuan,” kata Kim.

Kalbe Farma memiliki misi improve health secara global. Pada 2015, penjualan bersih (net sales) Kalbe Farma mencapai Rp 17,9 triliun. Kalbe Farma membagi unit bisnis menjadi empat, yakni health, consumer, nutrition, dan distribution. Untuk produk yang dijual di luar negeri adalah yang bersifat complete dan totat solution untuk kesehatan atau diperlukan oleh manusia sejak ada dalam kandungan hingga usia senja.

Produk unggulan Kalbe Farma di luar negeri adalah Woods yang menjadi market leader di Malaysia, Singapura, dan Afrika, lalu Diabetasol yang menjadi nomor satu di Filipina dengan pangsa pasar 50% dan juga di Myanmar, serta Ekstra Joss yang menjadi market leader di Filipina dan Malaysia. (Reportase: Rizky C. Septania)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)