Kalbe Learning Centre Tingkatkan Mutu SDM

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Vidjongtius dan Kepala Kalbe Learning Centre, Micha Catur Firmanto.

PT Kalbe Farma Tbk melalui Kalbe Learning Centre (KLC) memperoleh tiga penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Penghargaan ini diserahkan oleh Ketua Umum MURI Jaya Suprana kepada Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Vidjongtius di Kalbe Learning Centre (06/02/2019).

Penghargaan itu di antaranya, pertama perusahaan farmasi pertama yang memiliki learning centre dengan fasilitas pendukung produksi, pengemasan, ruang steril, analis, logistik, dan teknisi. Kedua, penghargaan untuk perusahaan farmasi pertama yang memiliki pendidikan dasar calon karyawan produksi dan teknisi. Terakhir, penghargaan untuk perusahaan farmasi pertama yang memiliki pengajar atau fasilitator purnabakti.

Menurut Vidjongtius, KLC merupakan bagian dari implementasi strategi Kalbe ke depan. “Selalu kita bilang SDM ini paling penting sehingga kita mengalokasikan banyak sekali aktivitas dan inisiatif untuk meningkatkan SDM. Tidak hanya untuk kebutuhan Kalbe secara total, dalam arti karyawan baru, karyawan yang sedang bekerja, tetapi karyawan purnabakti kita juga pikirkan,” katanya.

Vidjongtius menambahkan, Kalbe bekerja sama dengan pihak ketiga atau pelaku industri lain untuk bisa sharing dan belajar di KLC. “SDM itu pekerjaan bersama-sama, tidak hanya Kalbe. Ini adalah proses komitmen jangka panjang, kita tidak bicara setahun dua tahun tetapi benar-benar akan continue sampai seterusnya,” ungkapnya.

KLC didirikan pada 17 September 2012, di mana awal berdirinya disusun program pendidikan dan pelatihan reguler untuk menjawab kebutuhan dari empat pabrik yang dimiliki Kalbe Group. Adapun pendidikan dan pelatihan awal yang diberikan meliputi pendidikan operator cetak, pengemasan sekunder, teknisi (utilitas dan maintenance), dan pendidikan non PT (non produksi dan non teknik), yang ditujukan untuk posisi administrasi dan staf pendukung di luar produksi.

Selain empat program tersebut, KLC menambah program pendidikan dan pelatihan analisis dan logistik. “Mereka belajar tentang teknik sedekat mungkin dengan basic kompetensi yang mereka harus miliki sebelum mereka masuk sesuai dengan persyaratan yang ada pada industri farmasi. Disinilah peran learning centre menjadi strategic karena yang dididik ini untuk calon karyawan,” kata Kepala KLC, Micha Catur Firmanto.

Sejak tahun 2012 hingga Desember 2018 kelas reguler KLC telah mencapai 245 batch dan telah meluluskan 7.476 trainee yang siap bekerja di industri farmasi. Dengan luas sekitar 800 m2, KLC dilengkapi beberapa fasilitas yang dibangun mendekati dengan konsep atau industri farmasi yang digunakan. Di mana ada area buffer, area produksi, area pengemasan sekunder, area fasilitas teknik, area fasilitas analisis, dan area logistik.

Tools-nya, resources-nya, kita persiapkan disini sehingga ketika mereka akan masuk ke dalam industri farmasi mereka tidak akan kaget ataupun mengalamai masalah yang dihadapi di industri farmasi,” kata Micha.

Menghadapi revolusi industri 4.0, Vidjongtius mengungkapkan, pihaknya terbuka dengan berbagai kolaborasi tidak hanya dengan internal Kalbe, tetapi dengan eksternal baik itu asosiasi ataupun universitas.

“Kami selalu membuka pintu kolaborasi selebar-lebarnya. Oleh karena itu kami kerja sama dalam arti technical bagaimana membawa teknologi yang maju ke dalam Indonesia. Jadi, kami impor teknologinya, pengetahuannya, sementara waktu orangnya, supaya transfer knowledge. Jika lebih kompleks lagi maka kami bangun perusahaan patungan,” katanya.

Menurut dia, hal tersebut memang membutuhkan waktu dan harus mulai dengan beberapa fase. Oleh karena itu,  semua pelaku industri farmasi perlu meningkatkan komitmennya untuk meningkatkan kualitas SDM.

“Kalau kita hanya berkaca dengan standar Indonesia ya mungkin boleh saja, tetapi kalau kita membawa ke internasional kita akan ketinggalan, mungkin standar kita belum masuk. Gap ini yang harus kita persempit,” ujarnya.

Dia mengatakan, dengan adanya KLC diharapkan ikut membantu upaya-upaya pemerintah dalam meningkatkan SDM serta meningkatkan kualitas produk agar bisa ekspor. “KLC akan improve terus, kalau  perlu tambah mesinnya, teknologinya, akan ditambahkan dan perbaiki supaya tenaga-tenaga yang dilatih ini tidak akan ketinggalan,” katanya.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)