Kembangkan Perikanan Budidaya, Fokus Udang dan Rumput Laut

Pelaku usaha menyarankan pemerintah lebih mendorong subsektor perikanan budidaya ketimbang berjibaku dengan subsektor perikanan tangkap yang sumber dayanya terbatas. Dua jenis komoditas perikanan budidaya yang sangat prospektif dikembangkan karena tingginya permintaan di luar negeri adalah udang dan rumput laut. Ketua Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia (Gappindo) Herwindo mengatakan, produksi perikanan tangkap menunjukkan tren penurunan seiring kebijakan pembatasan tangkapan sejak lama. Kebijakan itu memang diperlukan karena sumber daya perikanan tangkap yang sangat terbatas. "Tapi kalau perikanan budidaya bisa digenjot setinggi-tingginya dan trennya juga meningkat. Udang dan rumput laut potensinya bagus karena komoditas ekspor. Konsentrasi di dua komoditas itu saja. Sumber dana di Indonesia untuk bisnis ikan kan terbatas," katanya.

Menurutnya, udang Indonesia punya kelebihan dibanding negara lain yang juga penghasil komoditas sejenis, yakni bebas penyakit early mortality syndrome (EMS). Penyakit itu awalnya menyebar ke China, lalu ke Thailand, Vietnam, dan India. "Itu karena mereka kontinen. Di Indonesia, tidak terkena penyakit itu, mungkin karena kepulauan. Udang Indonesia menjadi yang paling bagus 2-3 tahun terakhir," ujarnya.

etua Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia (Gappindo) Herwindo etua Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia (Gappindo) Herwindo

Nilai ekspor udang mendominasi total ekspor produk perikanan nasional, selain komoditas tuna yang berasal dari perikanan tangkap. Tujuan ekspor, mayoritas ke Uni Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat (AS), dan sebagian kecil ke China dan Thailand. Untuk porsinya terbagi rata, sekitar 25% ke Uni Eropa, 25% ke Jepang, 25% ke AS, dan 25% sisanya ke China dan Thailand. "Untuk ekspor perikanan budidaya itu unggulannya adalah udang, sedangkan perikanan tangkap itu tuna. Kalau secara keseluruhan dari nilai ekspor itu, 1/3 tuna, 1/3 udang, 1/3 rumput laut. Di pasar yang sekarang lagi naik daun itu blue crab," katanya.

Di subsektor budidaya, lanjut Herwindo, selain udang dan rumput laut, ikan lele dan nila bisa juga dikembangkan. Hanya saja, cukup menyasar pasar dalam negeri. Ikan patin bisa juga dikembangkan namun tidak perlu menjadi prioritas. Di pasar ekspor, patin Indonesia tidak bisa menyaingi Vietnam, baik dari sisi harga maupun kualitas. Patin Vietnam cenderung berwarna putih dan tidak berbau, sedangkan patin Indonesia agak kuning bergaris merah dan agak bau. Apalagi dari sisi logistik, pengembangan patin juga kurang menguntungkan. Umumnya, patin dikembangkan di Jambi, Kalimantan Selatan, dan beberapa di Jawa Timur. Apabila dikirim ke Jawa, ongkos logistiknya mahal. "Sebaiknya tidak membuat tambak patin dalam jumlah banyak. Susah marketnya. Marketnya terbatas dan mutu patin Indonesia begitu-begitu saja," jelas dia.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat ekspor udang nasional pada 2014 sekitar 196 ribu ton dan target 2015 sekitar 230 ribu ton (naik 17,34%). Ekspor udang RI pada 2011 sebesar 158.062 ton, 2012 naik 2,53% menjadi 162.068 ton, 2013 naik 0,21% menjadi 162.410 ton, dan 2014 naik 21,06% menjadi 196.622 ton.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)