Kenapa TV Lokal di Ibukota Tak Berdaya?

Pusat kegiatan ekonomi di Indonesia, yakni Jakarta, ternyata menyimpan kisah kelam. TV lokal di ibukota ini kurang berkembang meskipun 60-70% penjualan produk/jasa ada di kota ini. Para pemainnya bisa mencontoh salah satu tv lokal di Surabaya yakni Jtv yang bisa mencetak pertumbuhan bagus. "Rahasianya, mereka bisa hadir dengan konten-konten lokal mereka, berikut bahasa daerah mereka," kata Yoris Sebastian, CEO OMG Creative Consulting.

Menurut dia, TV lokal di Jakarta memiliki peluang besar untuk tumbuh dan berkembang pesat. Ini mengingat kantor mereka yang terletak di tengah kota. Namun, mereka harus berani membuat program yang berbeda dengan TV nasional. Target pemirsa tentu saja anak-anak mudah milenials sehingga programnya semua tersambung dengan media sosial. Mereka juga harus fokus pada konten lokal dan pemasang iklan yang produknya paling banyak di Jakarta.

Yoris Sebastian, Founder & Creative Thinker OMG Consulting.

"Yang jualan iklan boleh mereka yang sudah biasa jual iklan. Yang pegang program kasih ke mereka yang sama sekali bukan orang TV, tapi dekat dengan dunia konten untuk anak muda. TV lokal dengan biaya operasi rendah harusnya tidak perlu pendapatan iklan sebesar TV nasional. Nah, kuncinya pada bagaimana kreativitas mencari pemirsa yang cukup untuk produk/jasa yang hanya ada di Jakarta dan belum punya budget pasang di TV nasional," imbuh pria yang dikenal sebagai pakar inovasi dan kreatifitas ini.

Jika ingin berhasil, lanjut dia, TV lokal harus fokus pada konten lokal. Dengan demikian, penyiar dan pembawa acaranya belum pernah tampil di TV nasional. Mereka ini benar-benar dilatih dan dipilih yang terbaik sehingga suatu saat dilirik TV nasional. Ia mencontohkan JTv yang unggul di konten-konten lokal dan didukung dengan talenta lokal seperti pedangdut lokal yang kemudian dilirik TV nasional saat tengah berkembang.

“Mungkin yang pernah bikin hal serupa dengan JTv adalah Ochannel, yang sempat jadi TV awal Mario Teguh. Sayang, tidak ada regenerasi setelah ditinggal Mario Teguh. Kunci keberhasilan Tv lokal adalah harus kuat di talent scouting-nya. Jadi harus invest di people. Toh pembawa acara dan pengisi acara akan maklum kalau dibayar tidak besar karena ini tv lokal. Tapi, show runner or producernya harusnya dicari yang bagus dan dibayar mahal,” tegasnya.

Dia menjelaskan, show runner ini istilah orang tertinggi untuk sebuah program televisi di Amerika. Mereka sangat lapar akan konten bagus. Kalau TV lokal seperti di Amerika bisa membuat konten bagus dan ekslusif, masyarakat akan tertarik untuk menonton. Masalahnya, mayoritas TV lokal saat ini membuat konten yang mirip dengan TV nasional dengan kualitas lebig rendah. Akibatnya, mereka sulit bersaing.

"“Saya pikir kalau Net TV ijinnya lokal dan mau diconsidered sebagai TV lokal ya bagus. Apalagi, Net terapkan kontrak eksklusif untuk pembawa acara mereka, dan media sosia benar-benar digarap. Hanya saja, mereka unik karena big budget TV dengan big budget iklan. Kalau TV lokal biasanya harga iklan lebih murah dari tv nasional,” katanya.

(Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)