Ketika Semen Indonesia Berekspansi ke Luar Negeri

Semen Indonesia Group merupakan pemain nomor satu dalam industri semen nasional. Kapasitas produksinya paling besar dibandingkan kompetitornya. Akhir tahun 2012, Semen Indonesia mengakuisisi Thang Long Cement, Vietnam, sehingga kapasitas produksinya langsung bertambah 2,3 juta ton/tahun. Kini, kapasitas produksi Semen Indonesia mencapai 31,8 juta ton/tahun.

Apa saja pertimbangan ekspansi Semen Indonesia ke mancanegara? Simak penuturan Dr. Ir. Dwi Soetjipto, MM , Presiden Direktur PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. kepada Gustyanita Pratiwi:

Semen Gresik-Dwi Logo

Mengapa Semen Indonesia berekspansi ke Vietnam?

Dalam mengelola bisnis, yang harus dipahami adalah adanya risiko bisnis. Manakala kita hanya bermain di satu tempat, maka risiko bisnisnya 100% dipengaruhi oleh tempat tersebut. Kalau tempat itu sedang baik, ya bisnisnya bagus. Tapi kalau sedang tidak baik, ada krisis misalnya, ya langsung rontok. Oleh karena itu, di dalam risiko bisnis, jangan hanya meletakkan telur di satu keranjang.

Kenapa sih perusahaan-perusahaan global kok ada konsep globalisasi? Karena orang ingin mencari alternatif yang terbaik di mana dia memproduksi dan di mana dia membagi risiko. Kalau orang lain bisa go international, kenapa orang Indonesia takut?

Mestinya kita bisa. Intinya yaitu mengatasi risk management dan market expantion. Kalau kami hanya mengandalkan pasar Indonesia, pertumbuhannya ya paling hanya 5-6%. Supaya kami bisa bertumbuh lebih besar lagi, maka harus pergi ke luar. Ketiga, ketika kami harus menghadapi pasar bebas ASEAN tahun depan, kalau kami tidak memiliki kekuatan bersaing secara regional, maka sudah barang tentu kami bisa kalah dalam jangka panjang. Kalau kami hanya menutup diri di satu tempat, sedangkan orang lain ekspansi ke mana-mana. Oleh karena itu, Semen Indonesia harus proaktif untuk ke luar.

Kemudian, kenapa ASEAN? Yang pertama, ketika kami ekspansi dan kami beroperasi di satu negara yang lain, maka yang menjadi the most problem-nya adalah culture gap. Kadang-kadang karena culture gap, kita bisa gagal. Oleh karena itu, sebelum kami melangkah lebih jauh, lebih baik kami pilih yang culture gap-nya sedikit dulu.

Semen Ind-angkut semen

Yang paling dekat Malaysia, tapi namanya kami akan berkembang dan akan melakukan merger dan akuisisi, tentu saja tergantung orangnya mau apa tidak bermitra dengan kami? Kami belum bisa masuk ke sana, sehingga kami harus cari alternatif lain. Yang kami pilih adalah Vietnam karena di sana ada banyak perusahaan yang membutuhkan mitra sehingga kami punya daya saing tinggi untuk bisa masuk. Yang kedua, posisinya strategis. Dia bisa masuk ke mana-mana misal ke Laos, Kamboja, dan Singapura. Dan ke depan, barangkali kami bisa masuk ke pasar Malaysia, Brunai, bahkan Filipina.

Kapasitas produksi untuk pabrik yang di Vietnam?

Sebanyak 2,3 juta ton/tahun. Tahun ini mereka akan menargetkan produksi dan menjual 2,4 juta ton/tahun. Setelah diakuisisi Desember 2012 lalu, kami mulai ambil alih pengoperasiannya awal 2013. Sejak itu ya sudah langsung beroperasi. Efektifnya, kami langsung kirim tim ke sana sejak Januari 2013.

Yang di Vietnam, menyumbang kontribusi omzet berapa?

Kalau dari sisi kapasitas, dia 2,3 juta ton/tahun sehingga total menjadi 31,8 juta ton/tahun. Jadi kira-kira 8-10% ya. Dulu waktu kami ambil, kapasitas kami masih 25 juta ton/tahun.

Katanya mau merambah Asia Selatan juga?

Yang akan kami garap apakah akan di Myanmar, atau yang lain, masih dalam proses.

Dalam merambah bisnis ke luar negeri apa ada kerja sama dengan pemerintah setempat atau pebisnis lokal?

Pertama, kami bekerja sama dengan orang lokal. Waktu joint, kami joinan dengan orang Vietnam. Kalau di Myanmar kami akan join dengan orang Myanmar supaya kami memiliki keyakinan bahwa kami akan mengoperasikan dengan guidence dari orang-orang yang mempunyai nilai itu sendiri. Kedua, di negara yang peranan pemerintahnya cukup kuat, ya kami harapkan kami melibatkan pemerintah RI, duta besar kita yang ada di sana untuk proses itu semua.

Seperti di Vietnam kami juga melakukan yang seperti itu. begitu pula di Myanmar nantinya. Karena kerja sama Indonesia dengan pemerintah sana cukup bagus. Semen Indonesia memiliki kapabilitas atau potensi untuk bisa memanfaatkan itu yang barangkali itu tidak dimiliki oleh non-BUMN.

Konsumen Thang Long yang paling laku di mana?

Sudah barang tentu Vietnam sendiri. Kira-kira 60-70% dipasarkan di domestik. 30-40% diekspor ke Laos, Kamboja, Singapura, bahkan Bangladesh.

Yang di Vietnam, apa Semen Indonesia Grup juga membangun semacam terminal-terminal, atau sarana pendukung pendistribusian semen?

Sekarang sudah ada grading plant di selatan, packing plant, dan dermaga, karena memang bahan baku banyaknya di utara (Hanoi). Selebihnya, kami bisa memanfaatkan produk dia untuk mengisi terminal-terminal Semen Indonesia. Misalnya mengisi ke Dumai, Batam, dll.

Pertumbuhan penjualan?

Semen Indonesia tahun ini revenue-nya ditargetkan tumbuh double digit di atas 10%. Sedangkan domestic demand dalam 5 bulan pertama pertumbuhannya 3,7%, tapi kami perkirakan setahun bisa 5,5 %. Sedangkan pertumbuhan Semen Indonesia di luar kapasitas adalah 8-10%. Kenapa bisa begitu? Karena kembali lagi, kami punya salah satu pabrik yang ada di luar negeri tadi yang bisa menopang secara grup.

Target dan rencana ke depan?

Rencana ke depan perseroan kami dasarkan atas 6 isu strategis. Pertama, aspek kapasitas , kami harus selalu memastikan stok ada juka customer butuh. Lalu aspek energi, kami harus mencari solusi untuk konversi energi dari batu bara kalori tinggi ke kalori menengah. Kalori menengahnya sekarang porsinya kecil, sedangkan kalori rendahnya tinggi. Ke depan, tentu kami rencanakan untuk 100% kalori rendah.

Yang kedua, bagaimana kami mengurangi ketergantungan terhadap batu bara dengan mencari energi-energi alternatif. Misalnya kan sudah banyak didiskusikan bahwa 2-3 tahun lagi supply listrik problem. Juga harga PLN yang naik terus-menerus, tentu saja ini harus dicarikan alternatifnya apa. Ini yang sedang kami kaji. Salah satu yang kami laksanakan di Semen Padang adalah kami punya waste heat recovery generator.

Jadi memanfaatkan panas buang untuk dikonversikan ke listrik. Mungkin cara-cara seperti itu yang harus kami kembangkan. Yang berikutnya, move closer to customer dengan membangun packing plant, alat transportasi sedemikian rupa sehingga kami memiliki network distribution yang kuat di tengah-tengah persaingan.

Kemudian aspek infrastruktur IT, organisasi perusahaan, SDM, itu sebagian dari strategi ke depan yang harus kami perbaiki. Dan yang terkhir risk management yang harus kami kelola dengan baik, mulai dari GCG, majority level berapa menjadi level berapa, internal kotrol dalam aspek finansial sehingga apa yang kami catat dan laporkan betul-betul faktanya seperti itu. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)