Kiat Bukopin Jaga Citra Positif Perusahaan

Bukopin Irlan Suud, Direktur Manajemen Risiko, Kepatuhan, & PSDM Bank Bukopin

Meski termasuk salah satu bank swasta papan atas, Bukopin menyadari tidak mudah merebut hati lulusan perguruan tinggi untuk bekerja dengannya. Hal itu tidak membuatnya menyerah. Seiring dengan kemajuan perusahaan serta perluasan jaringan bisnis, Bukopin setiap tahun konsisten membuka lowongan kerja untuk memperkuat organisasi perbankan agar siap menghadapi persaingan. Bank yang berdiri sejak 10 Juli 1970 ini sekarang telah didukung oleh 280 kantor yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Hasil konsistensi mencari talent-talent terbaik dan upaya menjadi perusahaan pilihan bagi karyawan mulai terlihat nyata. Dalam survei Employer of Choice (EOC) 2017 yang dilakukan Hay Group dan SWA, Bukopin masuk 10 besar. Ini adalah pencapaian dari proses panjang yang dilaluinya.

Menurut Irlan Suud, Direktur Manajemen Risiko, Kepatuhan, & PSDM Bank Bukopin, bank tempatnya bekerja memang belum menjadi perusahaan pilihan bagi para lulusan terbaik dari perguruan tinggi untuk bekerja, tetapi hal itu tak mengendurkan semangat pihaknya untuk terus meningkatkan kinerja. Justru Bukopin terlecut untuk terus meningkatkan diri agar memberi kebanggaan kepada karyawan sekaligus menarik perhatian calon karyawan.

Contoh upaya meningkatkan diri Bukopin adalah dengan membuat dan menjaga citra positifnya. Misalnya, mengikuti dan mendukung good corporate governance (GCG). “Kami harus mengampanyekan image positif ini ke masyarakat,” ujar Irlan.

Kemudian, tempat penjaringan calon karyawan (Human Resources Recruitment) dibuat cukup representatif di Sentraya, Kebayoran, Jakarta. Hal ini dimaksudkan jika calon karyawan yang mendaftar itu dipanggil, mereka sudah dibekali dengan pengetahuan tentang seluk-beluk bank ini. Sehingga, dengan sendirinya akan terjadi seleksi alam. Yang tidak cocok bekerja di bank ini akan mundur dengan sendirinya.

Hal lain yang dilakukan Bukopin adalah melakukan survei employee engagement dengan menggandeng Hay Consultant. “Saya pandang hal ini perlu, agar kami sebagai perusahaan bisa mengukur. Kaitannya ke employer of choice, kami menargetkan menjadi employer of choice pada 2019,” katanya.

Dalam survei internal tersebut, dihasilkan nilai 80 dalam hal engagement atau nilai tersebut jauh di atas rata-rata industrinya. Pengelola bank ini pun mencoba meningkatkan apa yang menjadi titik lemah penilaian tersebut. Misalnya confidence of leadernya rendah, maka pemimpin diperbaiki melalui, salah satunya, pelatihan leadership.

Menurutnya, jika hasil engagement dan enablement bagus berdasarkan survei tersebut, pengaruhnya adalah bisa memotivasi kerja karyawan sehingga semakin produktif, dan ujungnya bisa meningkatkan kinerja keuangan bank ini. “Yang menjadi perhatian kami, dari hasil survei tersebut, ternyata faktor pay and benefit tidak menjadi yang paling utama dalam engagement karyawan. Namun, bukan berarti kami abai terhadap hal tersebut,” ujar Irlan.

Baginya, perusahaan yang baik tidak melulu memberikan kompensasi yang besar, tetapi yang juga penting adalah memberikan kenyamanan dalam bekerja, menghargai karyawan, memiliki jenjang karier yang jelas, dan mendapat arah dari sosok pemimpin yang menjadi kunci engagement karyawan.

Berbagai program pun dilakukan. Untuk leader, Bukopin memiliki program kompetensi bagi supervisor dalam menaikkan kompetensi leadership, seperti coaching, konseling, dan mentoring. Selain itu, Bukopin juga memiliki program reward and punishment yang jelas sesuai dengan hasil penilaian Key Performance Indicators (KPI). Bukan hanya melalui rupiah, tetapi juga pujian, jenjang karier yang jelas, dan tanggung jawab. “Kami melakukan penilaian KPI yang objektif dan kami juga menyesuaikannya dengan perkembangan zaman,” kata Irlan.

Lalu, bagaimana hasilnya untuk kinerja bank ini? “Turnover kami tidak naik,” ungkapnya. Sampai saat ini Bukopin memiliki 43 kantor cabang dengan jumlah karyawan 6.068 orang dan 60%-nya adalah kaum milenial. Komposisi pekerjanya, 3.653 laki-laki dan 2.415 perempuan.

Adapun kinerja Bukopin hingga kuartal III/2017, asetnya tumbuh 13,3% (yoy) menjadi Rp 113,2 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan mobilisasi dana pihak ketiga yang meningkat 18,7% menjadi Rp 93,1 triliun. Sementara kredit yang disalurkan bank ini mencapai Rp 73,9 triliun, tumbuh 1,1% (yoy). Dengan pencapaian di atas, Bukopin berhasil mencatatkan laba sebelum pajak penghasilan sebesar Rp 808 miliar.

Reportase: Anastasia Anggoro Sukmonowati

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)