Kiat Cardig Berkelit Dari Krisis

Cardig International telah lama menggeluti bisnis katering pesawat dan memperluas pasarnya dengan menggarap perusahaan pertambangan di daerah Kalimantan. Dengan banyaknya karyawan di lokasi kamp yang biasanya sangat terpencil, bahkan sampai di tengah hutan. Untuk satu perusahaan tambang berskala besar, Cardig bisa mendapatkan 100-200 orang untuk satu kontrak katering. Itu belum termasuk jasa layanan logistik yang bisa diberikan.

Namun, perlambatan ekonomi dunia yang dibarengi dengan penurunan harga komoditas memaksa industri pertambangan, seperti batubara tiarap. Semua perusahaan tengah berjuang keras menyelamatkan bisnisnya, salah satunya dengan melakukan efisiensi di segala bidang, termasuk permintaan harga untuk katering karyawan.

“Itu imbasnya buat kami. Untuk itu, kami mengembangkan bisnis lain sebagai diversifikasi untuk mengurangi risiko di satu sektor, yakni ritel. Kami kuat di logistik dan procurement karena punya volume sangat besar. Jadi, (bisa menerima) pembelian ayam, daging dan sayuran dengan jumlah yang cukup banyak,” kata President & Chief Executive Officer Cardig, Diono Nurjadin.

President & Chief Executive Officer Cardig, Diono Nurjadin President & Chief Executive Officer Cardig, Diono Nurjadin

Dengan kemampuan di bidang logistik, lanjut dia, Cardig mulai menyuplai restoran dan kafe kecil di Jakarta untuk kebutuhan tersebut. Konsepnya pun dibuat sendiri yakni Food Truck Red Bucket. Dengan kemampuan dan volume yang besar, langkah modifikasi bisnis ke sektor ritel lebih mudah dilakukan. Investasinya pun bisa dirancang lebih akurat dengan mempertimbangkan target pasar yang disasar berikut segmen kelasnya.

“Saat ini, hasilnya belum terlihat karena baru dimulai sekitar enam bulan lalu. Untuk bisnis ini kami juga masih dalam masa percobaan dan outlooknya baru ada dua jadi belum bisa dilihat hasilnya. Untuk hasilnya, masih memerlukan waktu karena kami harus menjual brand yang sampai saat ini belum dikenal orang lain,” ujarnya.

PT Cardig Aero Services Tbk tengah mengembangkan lini bisnis barunya di sektor ritel, yakni restoran 'The Red Bucket' yang baru dibuka di Cinere Bellevue Mall. Mereka berencana membuka 6 outlet baru di Jakarta selama dua tahun ke depan. Perseroan telah menyiapkan dana investasi hingga Rp 137 miliar yang sebagian besar diperoleh dari pinjaman perbankan. Pendirian satu outlet restoran membutuhkan dana sekitar Rp 4-7 miliar.

Peluang industri restoran untuk tumbuh masih sangat besar seiring bertambahnya masyarakat kelas menengah di Indonesia. Hasil riset Boston Consulting Group (BCG) menunjukkan, Indonesia kini memiliki 45 juta orang yang masuk kategori kelas menengah, yang mampu membelanjakan uangnya di luar kebutuhan pokok. Pendapatan per kapita juga meningkat dalam sepuluh tahun terakhir.

Sepanjang tahun 2013, industri hotel dan restoran menyumbang 14,33% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Jumlah itu adalah yang terbesar ketiga setelah sektor manufaktur dan pertanian. (Reportase: Istihanah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)