Kiat IPC Tarik Investor Asing via Global Bond

Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC, Richard Joost Lino membagi pengalaman bagaimana BUMN yang dipimpinnya mempersiapkan diri agar dapat menarik minat banyak investor asing melalui obligasi global di depan para pembuat kebijakan, pebisnis, banker, dan ekonom Asia Pasifik dalam ajang bertajuk 6th World Bank-Singapore Infrastructure Finance Summit yang diselenggarakan di Shangri-La Hotel, Singapura.

Subtema yang diangkat adalah Mobilising Private Capital to Meet Long-Term Demand. Turut hadir Manading Director and Chief Financial Officer World Bank, Bertrand Badre dan menteri kabinet Singapura.

Pada sesi panel diskusi: Financing Strategies for State Entities and Private Developers, Lino mengutarakan kiat dan strategi perusahaan dalam menandai proyek-proyek besar yang sedang direncanakan dan dilaksanakan, antara lain di NewPriok, Sorong, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, dan Cirebon, melalui pasar modal.

Perbaikan dan transformasi proses di dalam internal perusahaan secara konsisten berimbas pada Good Corporate Governance dan Credit Worthiness maupun kinerja keuangan perusahaan yang terus bertumbuh dalam enam tahun terakhir, sejak dia menjadi nakhoda IPC.

lino1

“Hasilnya, peningkatan investasi perusahaan untuk pengembangan dan moderninasi pelabuhan di bawah manajemen perusahaan. Nilai aset perusahaan meningkat 9,3 kali, sementara pendapatan naik sebesar 5,4 kali dengan peningkatan laba sebesar 2,8 kali dibandingkan tahun 2005,” kata dia dalam rilisnya.

Menurut Lino, peningkatan kinerja keuangan IPC berimbas pada kepercayaan investor asing untuk berinvestasi pada pengembangan IPC. Hal itu terlihat dari sambutan pasar terhadap obligasi global (global bond) yang diterbitkan IPC, April lalu senilai total US$ 1,6 miliar (Rp 20,8 triliun) yang akan berakhir tahun 2025 dan 2045 mendatang.

“Dua obligasi global IPC tersebut merupakan transksi perdana obligasi BUMN terbesar di Indonesia saat ini. Dengan kupon (bunga) obligasi 10 tahun terendah dibandingkan BUMN lain yaitu sebesar 4,25% dan yield sebesar 4,375%,” katanya.

Menurut dia, obligasi global Pelindo II menawarkan spread bunga terkecil dari obligasi pemerintah dibandingkan obligasi BUMN lainnya di Indonesia yaitu kurang dari 60 basis poin. Sambutan pasar yang hangat terlihat pada jumlah investor yang membeli global bond IPC. Hingga masa akhir penawaran, ada 245 investor membeli obligasi yang akan jatuh tempo 10 tahun dan 80 investor yang membeli obligasi yang jatuh tempo 30 tahun mendatang.

“Perbaikan terhadap internal maupun koordinasi eksternal harus dilakukan secara transparan, disiplin, dan terus menerus sehingga berimbas pada kondisi perusahaan yang akan terlihat pada kinerja keuangan perusahaan yang merupakan wajah perusahaan saat ditawarkan kepada investor,” katanya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)