Kiat Mengatasi Perang Harga di Bisnis Bioskop

Bisnis bioskop adalah bisnis yang padat modal. Sayangnya, belakangan terjadi perang harga, sehingga harga tiket masuk bioskop kembali tertekan ke harga tahun 1990-an, yaitu Rp50 – 65 ribu. Bagaimana Blitz Megaplex menyiasati perang harga itu? R. Ario Adi Cahyono, Chief Financial Officer (CFO)  PT Graha Layar Prima Tbk., perusahaan publik yang mengoperasikan jaringan bioskop Blitz Megaplex, menuturkannya kepada Gustyanita Pratiwi dari SWA Online:

Komunitas Blitz Komunitas Blitz

Apa tantangan bidang keuangan di industri bioskop?

Yang namanya industri bioskop itu harus banyak gedung bisokopnya. Padat modal. Jadi tidak bisa tanggung hanya 1-2 bioskop. Karena ada yang namanya cost center, head office, dll. Jadi departemen untuk legal seperti itu. Kemudian ada bioskop yang profit center, jadi bioskop ini harus banyak, harus perform sehingga kita bisa menutup itu.

Tantangan utamanya waktu membangun pertama kali di Bandung pada  2006. Cabang itu sampai sekarang yang paling sukses di Bandung, Paris Van Java. Setelah masuk ke Jakarta, kemudian kami baru buka di Grand Indonesia (GI), terjadilah perang harga. Kalau sudah perang harga, itu susah karena bioskop itu industrinya bagi hasil dengan distributor film. Bisa dibayangkan dulu tahun 1990-an, harga tiket bioskop di Plaza Indonesia (PI) sudah sampai Rp 50-65 ribu. Sekarang balik lagi ke angka segitu. Jadi begitu kerasnya persaingan harga waktu itu. Jadi bagaimana caranya supaya kami bisa tetap survive. Dana yang dikasih investor bisa kami bangun untuk bioskop-bioskop lain.

Pertama kami bangun dengan konsep Megaplex. Satu lokasi ada 9-11 audi. Itu orang bisa bisa ganti-ganti film sekitar 15-30 menit. Kenapa kami bikin begitu? Karena kami ingin coba konsep dari luar yang orang tidak perlu takut tidak kebagian tiket. Kalau dulu kan 30 menit sebelum film diputar, orang antre, sampai depan habis. Ini tidak mungkin karena kami audinya besar dan kami bisa smart programming juga. Kalau filmnya bagus bisa di 2-3 audi. Itu kami yang kenalkan pertama.

Kemudian karena bangunnya besar, waktu itu kami juga belum punya nama, mau tidak mau belanja modal (capex) dan depresiasinya besar. Dan mal itu masih menganggap siapa sih Blitz Megaplex? Okey lah kalau mau ambil, ambillah area yang 8.000-10.000 meter persegi di atas.

Fungsi bioskop bagi mal itu sendiri kan menarik trafik ke atas, bukan ke basement. Kalau basement kan digarap Carrefour, Hypermat, dsb. Tapi karena kami dikasih ruangan yang gede dan kosong, mau tidak mau kami harus bikin macam-macam. Kami mesti bikin konstruksinya yang juga masih mahal karena kami bikin racking. Kami coba sub list ke tenant. Kami coba jualan yang lain-lain, shop segala macam.

Sejarah membuktikan penonton Indonesia tidak seperti itu. Penonton Indonesia itu benar-benar datang sebelum main filmnya untuk beli popcorn. Setelah itu nonton, sudah itu selesai kabur. Tidak hang out, kecuali di mal macam Paris Van Java yang memang konsepnya lifestyle dan untuk nongkrong. Yang seperti itu tertentulah. Kami tidak bisa pilih mal, karena kalau kami mau masuk, itu malnya baru mau dibangun. Jadi kami juga prediksi kira-kira kalau masuk mal ini akan sukses tidak. Contohnya kami bangun di Central Park, kami tahu itu akan sukses karena lingkungannya kebanyakan mahasiswa. Kurang lebih kalau market-nya seperti itu pasti akan sukses.

Tapi ada juga mal, yang Blitz-nya kurang begitu berhasil, misalnya Pacific Place. Malnya kan di tengah kota, sangat strategis. Di atas kertas top. Tapi mal itu level-nya tinggi sekali, ambilnya A+ jadi trafiknya juga tidak banyak. Jadi kurang performlah dibanding Central Park.

Blitz2 Komunitas

Hingga sekarang sudah ada berapa cabang?

Sekarang kami ada 7 cabang di Jabodetabek. Lalu kami ada 4 kategori BlitzTheatre, artinya mal punya, kami yang operate, jadi ada 11. Kemudian kami go public Maret kemarin dan akan bangun 7 lagi di luar Jawa, diantaranya di Kalimantan, Surabaya, dan Yogyakarta.

Itu tetap di mal, karena kalau Anda lihat sejarahnya,  sebelum ada Cineplex XXI itu banyak studio yang stand alone. Nah, setelah Cineplex XXI masuk, itu mati semua lah. Karena mereka maunya somehow senangnya ke mal. Standarnya mereka. Jadi ini tidak hidup. Ke depannya ya tidak tahu apakah akan hidup atau tidak tren seperti ini. Tergantung pasar ya.

Kami bangun dengan standar yang berbeda. Dibandingkan dengan nonton DVD yang tidak bisa didapatkan dari itu adalah experience-nya. Suasana kalau orang pacaran seperti apa, keluarga nonton seperti apa, orang yang jenuh kerjaan segala macam. Nah, experience ini yang kami jual.

Kami mulai pakai standar desain pada saat kami bangun Blitz Megaplex. Kami harus berpikir ulang karena kami ingin memperluas market. Jadi yang 7 ini seperti etalase sekarang. Dengan adanya perang harga itu, mau tidak mau kami berpikir ulang, sekarang apa yang kami punya itu apa yang bisa kami saving. Jadi permainanya berubah menjadi cost game. Bagaimana agar standarnya tidak berkurang, tapi kami bisa efisien. Contoh gampangnya, sekarang area luas nih kami bisa negosiasi lagi dengan tenant.

Bagaimana bisa lepas area. Tapi kan orang tidak mau lepas areanya begitu saja kan? Mereka kembalikan ke kami, kamu carikan tenant dong. Ya kami carikan tenant segala macam. Misal di Pacific Place, kami carikan tenant mainan anak-anak di atas. Di Paris Van Java kami carikan cafe. Ini pelan-pelan jalan. Dan itu saving-nya lumayan. Kalau kami lepas area, artinya main power berkurang, utilitas berkurang, rental itu berkurang.

Kembali lagi, sekarang tantangannya adalah bagaimana Blitz tumbuh makin besar. Ini ibaratnya kapal nelayan. Semakin banyak pancing, semakin bagus. Tidak mungkin cuma bangun 1-2 bioskop. 7-11  bioskop juga masih kurang. Mesti bangun 20-25, dst. Peluangnya semua ada sejalan dengan berkembangnya GDP, kelas menengah, dll.

Pertumbuhan omset Blitz sekarang?

Omset naik sekitar 18% di 2013 seiring bertambahnya penonton. Karena kami tumbuh dengan bagus. Cuma bioskop adalah satu hiburan yang relatif murah, cuma Rp 50-100 ribu sudah bisa nonton dan makan popcorn, fun selama 2-3 jam. Jadi pertumbuhan selalu ada. Yang harus diwaspadai adalah kami harus tumbuhnya bareng-bareng dengan pemilik mal.

Kompetensi yang harus dimiliki CFO?

CFO itu fungsinya adalah men-support manajemen dengan analisis keuangannya. Yang sounding segala macam. Jadi keputusan diambil secara benar. Tidak secara emosional atau membabi buta. Kemudian dia berfungsi mencatat, ini loh sekarang score-nya sekian, jadi kayak wasit dimana ini semua untuk membuat keputusan. Kita mau berkembangnya ke mana? Kita mau investasi dalam bentuk apa?

Dulu kami investasi 1 bioskop luar biasa besarnya. Sekarang bisa setengahnya, karena brand kami sudah kuat. Dan itu yang selalu kami dorong sehingga kami bisa nego lebih kuat lagi ke mal. Jangan saya dikasih lahan kosong. Saya minta ruangannya dibangun racking dong. Kami kan sewa. Suatu waktu kami akan keluar. Jadi kalau misal dibikin racking, suatu ketika akan berguna bagi siapapun pengganti kami. Kan ada 2 opsi, kalau itu bagus ya kami perpanjang.

Kalau tidak bagus ya kami keluar. Jadi mesti berpikirnya begitu. Jangan berpikir wah saya harus stay. Alasan keluar mungkin karena memperhitungkan jenis apa yang menguntungkan, apa yang harus dilikuidasi, dll. Ya itu fungsi CFO.  Ibaratnya dia adalah database, business partner, dan asset guardian bagi perusahaan.

Dream Anda ke depan?

Tentunya berkembang lebih maju lagi, apakah itu di bidang keuangan maupun yang lain. Karena saya baru 24 tahun di financing. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)