Kiat Prodia Bersaing di Industri Lab Klnik

Dr. Dewi Muliaty, MSi, Presdir Prodia, berama dengan karyawan Prodia Direktur Utama PT Prodia Widyahusada Tbk., Dewi Muliaty (tengah) borsama karyawan Prodia.

Inovasi menjadi langkah yang diambil PT Prodia Widyahusada untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Langkah ini juga menjadi kesiapan mereka untuk masuk dalam teknologi yang yang lebih tinggi di era disruptif.

Salah satu inovasi terbaru yang diwujudkan Prodia adalah pengembangan tes pemeriksaan terbaru bagi pelanggannya. Prodia berusa menjadi pionir dalam pengembangan inovasi teknologi next-generation diagnostic untuk precision medicine. Sejak 2016 Prodia telah memiliki jenis tes laboratorium terlengkap dibandingkan lab klinik lainnya.

Direktur Utama PT Prodia Widyahusada Tbk., Dewi Muliaty, mengungkapkan bahwa kurang lebih sebanyak 700 jenis tes pemeriksaan, termasuk tes-tes pemeriksaan esoterik tersedia di Prodia. “Setiap tahun, Prodia mengeluarkan minimum 10 Jenis tes baru, mengikuti tren ilmu dan teknologi lab kesehatan,” tambahnya. Strategi lain yang dilakukan Prodia yaitu memperluas jejaring layanan Prodia di seluruh Indonesia yang rencananya membuka kurang-lebih 16 gerai baru untuk lab klinik dan klinik khusus.

Hingga akhir Desember 2017 lalu, Prodia telah mengoperasikan layanannya sebanyak 282 gerai, termasuk 136 lab klinik di 32 provinsi dan 118 kota di seluruh Indonesia. Targetnya hingga 2020 akan dibangun 34 lab klinik termasuk lab klinik khusus berupa Prodia Children’s Health Centre, Prodia Women’s Health Center, dan Prodia Senior Health Center. “Prodia memiliki competitive advantages dibandingkan dengan perusahaan lain sejenis yang bergerak dalam industri laboratorium klinik dengan menjadi satu-satunya Laboratorium Klinik Rujukan yang terakreditasi Collage of American Pathologist (CAP), sehingga memiliki standard mutu internasional,” ungkapnya.

Komitmennya untuk memperluas cakupan layanan lab rujukan di Indonesia berusaha dibangunnya sembari mejaga kualitas layanannya. Kualitas tes pemeriksaan yang dihadirkan Prodia dilakukan dengan program pemantapan mutu nasional dan internasional. Untuk tahun 2018, beanja modal (capex) yang dianggarkan masih sama dengan tahun lalu, yaitu sekitar Rp400 miliar. “Anggaran capex tersebut sebagian besar akan digunakan untuk pengembangan jaringan gerai, peningkatan kualitas layanan, dan modal kerja,” ujar Dewi.

Target ke depan yang ingin dicapai Prodia terkait pertumbuhan bisnis di 2018 adalah adanya kenaikan atau kurang lebih sama dengan tahun sebelumnya. Melihat kinerja hingga kuartal III tahun 2017 lalu, Prodia optimis dapat mencatatkan pertumbuhan penjualan dan laba yang baik yaitu naik 10,17% menjadi Rp 1,04 triliun dibandingkan dengan kuartal III 2016 sebesar Rp 945,65 miliar. “Selain itu, laba bersih Perseroan tumbuh sebesar 238% menjadi Rp98,91 miliar dibandingkan dengan periode yang sama 2016 sebesar Rp29,22 miliar,” tuturnya.

Reportase: Arie Liliyah
www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)