Kinerja Turun, Astra Berupaya Tidak Lakukan PHK

Kabar buruk datang di awal tahun ini. Kinerja PT Astra International Tbk melemah seiring turunnya laba bersih sebesar 16% menjadi Rp 4 triliun pada kuartal I-2015, lantaran buruknya lini usaha otomotif dan agribisnis. Namun, Astra belum mau memikirkan tentang pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Reaksi perusahaan beda-beda. Bagi Astra, kami lebih memilih sebisa mungkin tidak melakukan PHK. Tentu ada banyak cara-cara penghematan biaya (Cost Reduction Program) yang ditempuh, tetapi yang menyangkut 'people' kebijakan kami tidak berubah,” kata Ketua Pengurus Yayasan Dharma Bhakti Astra, F.X. Sri Martono.

Menurut Pria yang lama menjabat Direktur HR Astra ini, pengembangan karyawan tak melulu soal biaya, melainkan investasi jangka panjang. Oleh karena itu, perusahaan harus mengalokasikan biaya dan waktu sejak lama. Bahkan, di masa sulit sekalipun.

Hasilnya, banyak talent yang masih memilih Astra sebagai pelabuhan kariernya. Kultur budaya kerja dan keterlekatan karyawan para insan Astra menjadi pembeda. Ini bahkan dirasakan sampai ke anak-anak perusahaan dan cabang di seluruh penjuru Indonesia.

“Untuk bisa sampai ke tahapan seperti ini memang butuh waktu. Suatu proses transformasi yang terus menerus diupayakan secara konsisten,” kata dia.

FX-Martono-utama

Dia menjelaskan, Indonesia masih memerlukan banyak tenaga kerja baru yang tidak sedikit. Terutama, ahli di bidang teknik yang akan banyak berkontribusi untuk kemajuan sektor industri di Tanah Air.

Perusahaan dari skala kecil hingga besar perlu memberikan kesempatan magang atau mahasiswa tingkat akhir agar lebih mudah mendapatkan talent terbaik. “Semoga juga semakin banyak entrepreneur baru yang bisa memulai usaha dari skala kecil dan membantu membuka lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Pada kesempatan lain, Chief Human Capital Development Astra, Aloysius Budi Santoso menjelaskan prinsip penggajian di Astra menggunakan konsep 3P yaitu Pay for Position, Pay for Performance, dan Pay for People dengan tetap memperhatikan daya saing dan kemampuan perusahaan.

“Untuk kompensasi pada dasarnya ada yang bersifat Fixed yaitu gaji dan THR dan variabel yaitu bonus akhir tahun dan/atau insentif,” katanya.

Menurut dia, besaran remunerasi sangat penting untuk meningkatkan keterlekatan (engagement) karyawan. Karyawan yang loyal memang penting, namun lebih penting lagi mempertahankan karyawan yang produktif. Faktor lain yang juga penting adalah chemistry, kesesuaian value, lingkungan kerja yang kondusif, dan apresiasi lain yang intangible. (Reportase: Arie Liliyah & Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)