Kiprah Hamish Daud di Bidang Ekonomi Sirkular

Hamish Daud, co-founder & Chief Partnership Officer Octopus (kiri)
Hamish Daud, co-founder & Chief Partnership Officer Octopus (kiri)

Nama Hamish Daud selama ini lebih dikenal publik Indonesia sebagai sosok yang berkecimpung di dunia model, layar kaca, dan layar lebar. Namun, di balik gemerlap dunia entertainment itu, Hamish punya aktivitas lain yang bisa jadi lebih mengesankan publik. Dia bersama enam kawannya —umumnya lulusan perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat— mendirikan Octopus, startup yang bergerak mengembangkan ekosistem ekonomi sirkular (circular economy), dengan nama resmi perusahaan PT Daur Ulang Industri Terpadu.

Ceritanya bermula ketika Andi Muhammad Ichsan, co-founder Octopus yang kemudian duduk sebagai CEO-nya, bertemu dengan Hamish, yang ternyata memiliki visi yang sama untuk mengelola sampah agar dapat didaur-ulang demi mengembangkan ekonomi sirkular. Hamish, co-founder yang didapuk sebagai Chief Partnership Officer Octopus, mengungkapkan, sebelumnya mereka sudah mendirikan yayasan yang fokus untuk menjaga lingkungan dan memberdayakan para pemulung.

             “Kami sangat concern bahwa para pemulung yang kami bina mestinya dapat pendapatan jauh lebih layak dari kemasan yang mereka kumpulkan,” kata pria yang pernah bermain di sejumlah film, antara lain Rectoverso, Supernova. Gangster, dan Trinity: the Nekad Traveler itu.

               Di sisi lain, kalangan pelaku industri kemasan justru kesulitan mendapatkan bahan baku untuk daur ulang, baik kardus/karton, botol plastik, botol kaca, maupun jenis kemasan lainnya. Permasalahan lainnya terkait fluktuasi harga bahan baku yang tidak menentu, pasokan barang yang tidak konsisten, serta kualitas material yang tidak memenuhi standar. “Jadi, kami termotivasi untuk memecahkan masalah supply chain ini,” ujar Hamish yang berpendidikan bidang arsitektur ini.

               Lewat ekosistem ekonomi sirkular ini, Hamish meyakini kalangan industri bisa mendapatkan material daur ulang yang lebih baik, sekaligus membantu pemulung mendapat penghasilan lebih layak dan mendorong terciptanya standardisasi harga material daur ulang di tiap kota. “Everybody is happy, it’s a win-win solution,” ujar lelaki yang juga dikenal sebagai suami penyanyi ternama Raisa Andriana ini.

              Layanan yang diberikan pihak Octopus ke kalangan industri tersebut pada intinya adalah reverse-logistic service. Octopus membantu industri kemasan untuk mendapatkan kemasan bekas pakai (material mereka) menggunakan metode ekonomi sirkular, yang melibatkan para pemulung —yang disebut kalangan “pelestari”— serta kalangan rumah tangga, pelaku usaha mikro jual-beli kemasan bekas, dan bank-bank sampah.

              Dalam praktiknya, Octopus menyediakan aplikasi yang membantu pengguna dalam hal penjemputan material kemasan daur ulang yang telah dikumpulkan. “Melalui Octopus, kami juga ingin memudahkan masyarakat untuk melakukan daur ulang,” katanya.

              Hingga saat ini, menurut Hamish, yang tergabung dalam ekosistem Octopus sudah ada lebih dari 9.000 pelestari (waste collector) dan 93 ribu pengguna rumah tangga yang bergabung sebagai user. Adapun mitra bank sampah/pengepul saat ini tersebar lebih dari 2.000 titik di Makassar, Bali, dan Bandung Raya.

               Selain itu, menurut lelaki kelahiran Gosford, Australia, pada 8 Maret 1980 ini, saat ini ada lebih dari 1.000 bank sampah/pengepul mitra Octopus yang sudah memiliki akses ke perbankan, serta mendapatkan pinjaman untuk mengembangkan usaha mereka. Dari segi volume, dalam enam bulan terakhir, Octopus telah berhasil mengumpulkan lebih dari 300 ton kemasan daur ulang di tiga wilayah operasinya.

               Saat ini, Octopus telah bekerjasama dengan beberapa perusahaan daur ulang ternama di Indonesia. Mulai dari kalangan pemain industri daur ulang kertas dan kardus, industri daur ulang botol plastik, sampai industri daur ulang sampah elektronik. Selain itu, Octopus juga telah bekerjasama dengan beberapa perusahaan fast moving consumer goods (FMCG), di antaranya Danone-Aqua, Kimberly Clark-Softex, Danone-Bebelac, dan P&G, yang menggunakan layanan data dashboard-nya.

           Octopus pun telah menjalin kerjasama dengan Kopi Soe yang beroperasi di Bandung, Jawa Barat, dan beberapa kota di Bali, serta akan menjangkau 100 titik merchant Kopi Soe yang tersebar di dua provinsi tersebut. Kerjasama ini mengombinasikan experience konsumen Kopi Soe dan user Octopus. Biasanya, setelah minum kopi, pelanggan langsung membuang cup tersebut. Sekarang, cup itu dapat diberikan ke para pelestari, atau bahkan dapat ditaruh di dropbox yang tersedia di 100 gerai Kopi Soe. Di Bali, Octopus menggandeng Warung Made, Waterboom Bali, serta beberapa fasilitas publik lainnya.

               Menurut Hamish, Octopus saat ini didukung oleh sejumlah angel investor yang memiliki latar belakang di industri logistik dan FMCG, untuk mengembangkan produk dan area operasinya. Namun, ia tidak mengungkapkan nilai pendanaan yang sudah diraih perusahaan rintisannya ini.

                Ke depan, menurut Hamish, pihaknya menginginkan Octopus bisa memfasilitasi kegiatan daur ulang semua jenis kemasan produk bekas pakai. Dengan semakin banyak jenis kemasan yang diambil, berarti Octopus telah ikut mendorong masyarakat membentuk kebiasaan baru. Rencana lainnya? “Pengembangan area juga menjadi prioritas kami, karena saat ini ekosistem kami baru tersedia di tiga provinsi,” katanya. (*)

Joko Sugiarsono & Jeihan K. Barlian

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)