KKB Maybank Tumbuh 17% di Atas Industri

Manajemen PT Bank Maybank Indonesia mengungkapkan, pihaknya  masih mengandalkan kredit kepemilikan rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermootor (KKB) dalam penyaluran kredit.  Menurut Direktur Perbankan Ritel Maybank Indonesia, Lani Darmawan, meskipun kondisi ekonomi melemah namun kedua segmen tersebut tumbuh positif.

"Kedua segmen kredit tersebut relatif tumbuh positif dan lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri secara keseluruhan. KPR tumbuh paling besar di atas rata-rata industri kira-kira 15 persen, otomotif juga tumbuh berkisar 16-17 persen. Jadi kita masih fokus di KPR dan kredit otomotif kalau untuk lending (kredit)," ucapnya.

20151102_113541_resized

Ia berharap walaupun daya beli masyarakat menurun akibat krisis ekonomi yang sedang melanda Indonesia, namun pertumbuhan kredit tersebut masih positif, bahkan ia optimis ke depannya akan tumbuh 20%-25%.

Lani menilai bahwa Maybank Indonesia dalam penyaluran kredit di kedua segmen tersebut masih bagus ke depannya. Selain itu, ia menilai  pihaknya masih bisa menjaga rasio kredit bermasalah/ non performing loan (NPL) dari batas atas yang diterapkan oleh regulator perbankan. "NPL untuk ritel sendiri relatif terkontrol. NPL KPR Maybank masih di bawah 1 persen," jelasnya.

Untuk diketahui, tercatat pertumbuhan kredit Maybank Indonesia meningkat di tahun ini sebesar 6,6% menjadi Rp 111,5 triliun dari sebelumnya Rp 104,6 triliun per September 2014. Sedangkan, kredit perbankan ritel tumbuh 12,3% dari Rp39,8 triliun menjadi Rp 44,7 triliun serta kredit perbankan bisnis meningkat 12,2% dari Rp 38,9 triliun menjadi Rp 43,6 triliun. Sementara perbankan ritel memberikan kontribusi sebesar 40% dari total kredit,  perbankan bisnis 39% dan perbankan global 21%.

Selain itu, KPR masih tumbuh 15,7% menjadi Rp 17,8 triliun dengan tetap menjaga kualitas aset dengan baik. Pinjaman tanpa agunan meningkat 12,5% dengan KTA (kredit tanpa agunan) naik 26,3% dan tagihan Kartu Kredit naik 6,3%. Sedangkan kredit komersial tumbuh 11,2% dan Rp 22,6 triliun per September 2014 menjadi Rp 25,1 triliun per September 2015 dan pertumbuhan 11,2% pada portofolio UKM dari Rp 15,6 triliun per September 2014 menjadi Rp 17,4 triliun per September tahun ini. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)