KKP: Masyarakat Belum Banyak Tahu soal Blue Carbon

Pada masa perubahan iklim (climate change) yang cukup drastis saat ini, maka diperlukan jasa ekosistem laut dalam penyerapan/sekuestrasi karbon (carbon sequestration). Bukti ilmiah hingga kini juga sudah menguak bahwa ada ekosistem-ekosistem laut tertentu yang berperan sebagai rosot karbon (carbon sinks). Dengan fungsi ini berarti ekosistem tersebut berkemampuan menyerap dan memindahkan jumlah besar karbon dari atmosfir setiap harinya, dan mengendapkannya dalam badan tumbuhan atau sedimen tempat tumbuh - untuk waktu yang lama. Sayangnya, mereka juga termasuk ekosistem yang terancam keberadaannya, karena mereka ini merupakan bagian dari ekosistem dengan laju penghabisan tercepat saat ini, serta diperparah oleh aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan.

Ekosistem-ekosistem tersebut antara lain hutan bakau (mangrove), padang lamun (seagrass), rawa asin (salt marshes) dan lahan gambut pesisir (coastal wetlands). Mereka menjadi sumber bahan pangan, kayu-kayuan, pusat keragaman spesies penting, pelindung pesisir, hingga menyaring nutrisi dari aliran air tawar darat. Luasan habitat mereka hanya menutup 0,5% dari lautan dunia, namun menahan 50% simpanan karbon dunia di sedimen laut. Ini berarti pada tiap kilometer persegi luasan habitan ini terdapat lima kali lebih banyak simpan karbon dibanding hutan hujan tropis. Jadi dari seluruh karbon biologis yang tersimpan didunia, lebih dari separuhnya, yaitu 55%, disimpan oleh organisme laut hidup. Maka itu ini disebut sebagai karbon biru (blue carbon).

Di Indonesia sendiri, sosialisasi atau pemberian pengetahuan lebih luas mengenai blue carbon ini, sedang digalakkan oleh pemerintah. Khususnya oleh beberapa Kementerian terkait, seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ini supaya masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di tepi pantai atau dekat laut, mau melestarikan ekosistem di laut, yang pada akhirnya akan membawa kebaikan untuk hidup mereka ke depan juga. Salah satunya sebagai sarana untuk menyerap karbon, yang apabila tidak diserap akan membawa pengaruh buruk kepada kehidupan manusia di masa mendatang.

Berikut ini wawancara Reporter Swa Online, Ria E. Pratiwi, dengan Achmad Poernomo, Staf Ahli Menteri Bidang Kebijakan Publik, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mengenai pentingnya masyarakat Indonesia tahu lebih banyak soal blue carbon. Dia ditemui usai memberikan materi presentasi dalam Simposium Internasional “Coastal Cities, Marine Resources and Climate Change in the Coral Triangle”, yang diadakan oleh Association of Pacific Rim Universities (APRU) dan Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC UI), di Jakarta, pekan lalu.

Tanaman Bakau di Pinggir Pantai

Bisa dijelaskan apa maksudnya dari blue carbon itu?

Blue carbon itu berhubungan dengan laut ya. Kita kan banyak memproduksi CO2, dan itu juga adalah efek dari gas rumah kaca. Selama ini, sebagian besar orang berpikir seolah-olah yang menyerap karbon atau yang mengurangi efek gas rumah kaca itu hanya hutan, tanaman, tapi di sini kita kenalkan bahwa bukan hanya itu, namun ada ini blue carbon.

Ekosistem (laut) ini juga ada yang mampu menyerap karbon yang ada di udara sebagai akibat dari berbagai aktivitas manusia, perubahan iklim, peningkatan suhu, dan segala macam. Misalnya, ini seperti tanaman bakau (mangrove) di pesisir, rumput laut, padang lamun, rawa asin, ganggang, dan lain-lain; mereka ini menyerap karbon.

Apa hubungannya blue carbon ini dengan blue economy yang pernah dicanangkan KKP juga?

Artinya blue economy itu adalah salah satu pendekatan agar satu lokasi atau zonasi bisa dikelola sebaik-baiknya dengan diambil manfaat sebesar-besarnya, terutama bagi masyarakat dan komunitas di lingkungannya, tanpa merusak sumber daya itu sendiri. Nah, karena itu salah satu prinsip blue economy adalah lebih baik menghasilkan nilai tambah yang tinggi daripada produksi yang tinggi. Karena produksi tinggi, keberlanjutan ekosistem dari sumber daya laut bisa rusak (lama kelamaan).

Tapi kalau produksinya sedikit, namun diolah, tanpa limbah, dengan nilai tambah yang lebih tinggi, maka yang diperoleh juga akan lebih tinggi, daripada kita ambil-jual, ambil-jual. Dan ini harus dikerjakan oleh masyarakat sekitar (pantai atau laut). Karena ini juga untuk menumbuhkan nilai tambah dari masyarakat sekitar. Makanya akhirnya disebut ekonomi biru (blue economy). Jadi nilai ekonomi sumber daya naik, taraf hidup masyarakat naik, tapi sumber daya itu tetap bagus kualitasnya, seperti langit dan laut yang bisa tetap biru.

Sejauh ini bagaimana perilaku para penduduk (nelayan) di pinggir pantai terhadap sumber daya di pantai atau lautnya?

Secara tradisional sudah ada, seperti yang namanya Awig-awig di Lombok, atau Panglima Laut di Aceh, atau Sasi di Ambon. Mereka itu sudah punya hukum adat yang mengatakan bahwa pada musim-musim tertentu, penduduk tidak boleh mengambil ikan, kalaupun ambil ikan jumlahnya harus dibatasi sekian. Di sana local wisdom sudah diajarkan. Tapi di tempat lain tidak semua ada. Nah, inilah kesadaran yang harus kita tingkatkan untuk masyarakat sekitar.

Bagaimana dengan masih adanya pihak-pihak yang menangkap ikan dengan menggunakan bom?

Ya, mereka itu pihak yang belum tahu harus bagaimana menangkap ikan dengan benar, dan biasanya malah bukan perusahaan besar. Itu dikarenakan ikan semakin sedikit, sehingga orang-orang ini berpacu untuk mendapatkan hasil lebih besar dengan cara salah.

Jadi apakah memang masih perlu sosialisasi yang lebih dalam dan luas lagi agar khususnya masyarakat setempat mau menerapkan blue economy dalam kehidupannya?

Ya, itu perlu. Maka itu tugas pemerintah adalah memfasilitasi, memberikan insentif dan disinsentif, serta membimbing, segala macam, kepada masyarakat setempat. Tapi ini tidak bisa berdiri sendiri, karena masih memerlukan peran swasta utk membantu proses sosialisasi ini.

Berarti memang selama ini kesadaran masyarakat terhadap blue carbon masih rendah ya?

Ya, maka itu kita lakukan edukasi kepada masyarakat, bahwa tanaman bakau yang ada di sekitarmu itu jangan dirusak, karena dia bisa menyerap karbon. Ini akan dilakukan kepada masyarakat sekitar (pantai atau laut) dulu, baru setelah itu kita akan lakukan sosialisasi kepada turis-turis yg dtg ke sana. Ini sudah dilakukan dimana-mana, seperti di Denpasar, lalu sepanjang pantai utara Jawa. Dan kalau suatu pinggiran pantai ada banyak tanaman bakaunya, maka apabila ada gempa atau tsunami akan bisa selamat, karena itu bisa menghalangi ombak yang datang.

Untuk ke depannya, apa target dari KKP terhadap persoalan blue economy dan blue carbon ini?

Target ke depan yaitu agar blue carbon ini diakui mempunyai peran (dalam mengurangi emisi gas rumah kaca). Bagaimana bisa mempertahankan ekosistem yang bisa menyerap karbon ini tetap utuh. Makanya kita sudah membuat daerah konservasi segala macam. Jadi ekosistem tersebut menyerap karbon karena memang kebutuhannya sebagai sumber energi. Salah satu program kita yaitu dengan adanya penanaman mangrove oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa minggu lalu.

Lalu, apa maksudnya National Action Plan for Green House Effect Reduction yang sudah dibuat pemerintah itu?

Itu kan pemerintah, waktu di Copenhagen Climate Change Conference 2009, bilang bahwa kita akan menurunkan emisi karbon dari industri, hutan, transportasi, dan macam-macam, sampai 26%. Itu janji kita dalam pertemuan itu. Jadi sekarang kita sudah punya action plan-nya sendiri untuk mengimplementasikan itu. (EVA)

Leave a Reply

1 thought on “KKP: Masyarakat Belum Banyak Tahu soal Blue Carbon”

Very Important this page, This is really helpful to me. Thanks you. Really Nice information. Like this blog
by Pembeli Kepiting Bakau, 09 Jan 2014, 07:06

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)