Kokreasi Untungkan Perusahaan, Komunitas, dan Masyarakat

Kemitraan berujung kerja sama intensif antara perusahaan dengan komunitas akan berefek positif terhadap cash flow. Hal ini berlaku bukan hanya dengan kelompok konsumen, melainkan komunitas sosial, hobi, dan juga karyawan (profesional). Sayangnya, minat perusahaan menggandeng komunitas belum menyeluruh. “Sebab perusahaan belum tahu bagaimana menyikapi komunitas,” ujar peneliti konsumunitas Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Prasetiya Mulya, Agus W. Soehadi (25/1).

Kerja sama intensif diarahkan pada produksi hal baru yang tidak hanya melibatkan perusahaan sebagai, tetapi juga komunitas. Inilah yang diistilahkan sebagai kokreasi. “Inisiatif kokreasi bisa saja didahului komunitas. Kokreasi yang sukses tidak harus diawali produsen,” imbuh rekan peneliti, Eka Ardianto. Ia dan Agus mencontohkan sukses kamera Lomo yang berangkat dari keberadaan komunitas pehobi fotografi.

Salah satu ajang temu komunitas konsumen telah diadakan pada 2010.

Yang menarik, menggiatkan komunitas hobi di antara karyawan perusahaan lebih ampuh menjaga loyalitas mereka. Keuntungan bagi perusahaan, keberadaan komunitas bisa jadi warna tersendiri yang bisa jadi daya tarik ketika rekrutmen karyawan. Di sisi lain, karyawan punya nilai lebih untuk diperjuangkan selain jenjang karier. “Di sebuah perusahaan media, para karyawan membentuk komunitas fotografi. Ternyata para fotografernya meng-update keterampilan dengan lebih cepat lewat komunitas ketimbang mengandalkan pelatihan yang diberikan perusahaan,” lanjut Agus.

Kokreasi perusahaan-komunitas bisa dimanfaatkan untuk menjaring konsumen kelas menengah, terutama mereka yang mencari pengalaman wisata berbeda. Untuk wisata sepeda, misalnya, perusahaan penyedia jasa transportasi bisa menggandeng komunitas pengendara sepeda. “Dari inisiatif itu, akan muncul inovasi paket wisata, misalnya komunitas Indonesia bersepeda bersama komunitas Eropa di objek-objek wisata. Sebaliknya, komunitas Eropa itu bisa diajak berwisata sepeda ke Indonesia,” terang Agus lewat contoh. Cara ini bisa dimanfaatkan untuk komunitas olehraga lain, misalnya golf, dan membuka peluang kokreasi dengan lebih banyak pihak.

Tetapi, kokreasi tidak berdampak komersial melulu. Keberadaan komunitas bisa membantu menjaga nilai-nilai konstruktif dalam masyarakat. “Apalagi pada era konektivitas tinggi, komunitas pecinta warisan budaya dan sejarah bisa menyebarkan nilai-nila yang mereka anut dengan makin meluas,” tutup Eka. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)