Kongres Diaspora, Koneksikan Pebisnis Diaspora dan Domestik

Banyak yang memandang sebelah mata kehadiran Diaspora di Tanah Air untuk menggelar Kongres Diaspora Indonesia di Bidakara, Agustus 2015 mendatang di Jakarta. Namun, Presiden Indonesia Diaspora Network (IDN) Global, Mohamad Al-Arief meyakinkan pertemuan tersebut tak hanya sekadar temu kangen antara jutaan diaspora Indonesia yang tersebar di seluruh dunia. Tetapi, ada manfaat lain yang jauh lebih besar.

“Kami ingin ada interaksi antara diaspora dan komponen bangsa di dalam negeri supaya ada koneksi antara kita dan pengambil keputusan di sini. Juga ada koneksi antara pebisnis diaspora dengan pebisnis di sini, baik secara formal maupun informal. Pada pertemuan diaspora yang lalu, kami berhasil mengumpulkan 300 diaspora dan 6.000 orang Indonesia,” katanya.

idn global arief

Menurut dia, fungsi diaspora adalah sebagai katalisator proses. Ia mencontohkan kegiatan Jakarta Kota Tua Creative Festival (JKTCF) yang akan diketahui kelanjutannya pada Kongres Diaspora Indonesia, 15 Agustus mendatang. Dalam kegiatan tersebut, diaspora hanya sebagai katalisator sementara pelaksanaannya tetap di bawah koordinasi pemerintah daerah setempat. Dengan demikian, masyarakat bisa merasakan dampak kehadiran diaspora.

Al-Arief menjelaskan, ada Diaspora Movement lewat sekitar 70 chapters yang dimiliki IDN, baik lokal maupun nasional di berbagai negara. Kehadiran chapters ini untuk memobilisasi anggota-anggotanya agar lebih aktif, memberi kontribusi untuk negara asal. Selain itu, ada juga Diaspora Foundation yang melakukan kegiatan filantropi seperti pencarian dana untuk program seperti computer for school. “IDBC Indonesian Diaspora Business Council (IDBC) yang dipimpin Edward Wanandi melalukan business engagement dan sudah ada tindakan konkrit. Setahun yang lalu, mereka memfasilitasi BKPM untuk melakukan roadshow investasi di Amerika Serikat,” katanya.

Menurut dia, ada empat fungsi diaspora Indonesia. Pertama, pelaksanaan program filantropi seperti fund raising untuk membantu korban bencana alam. Kedua, pemanfaatkan keahlian teknis untuk mendukung pembangunan ekonomi. Ketiga, advokasi program dan kebijakan pemerintah yang bisa mendukung potensi diaspora tergali secara penuh. Keempat, menghubungkan pebisnis domestik dengan diaspora yang telah paham struktur pasar, jaringan. Kelima, mempromosikan budaya asli Indonesia di luar negeri.

“Contoh, ada nasional chapters di USA dan 14 lokal chapters. Setiap lokal chapters melakukan kegiatan. Misalnya, untuk economic linked, kita sebagai Kedubes yang tidak dibayar. Kami sampaikan agar negara memanfaatkan potensi ini seperti negara-negara lain. Kami terbiasa berkompetisi secara global, kita bisa menularkan ini ke tanah air. Expertise seperti yang ingin kami bawa, tak sekadar membawa uang,” ujarnya.

Selama ini, optimalisasi potensi diaspora Indonesia baru sebatas sumbangan devisa yang jumlahnya puluhan triliun rupiah yang mengalir sampai ke pelosok desa. Namun, sesungguhnya mereka memiliki lebih dari itu, seperti keterampilan, pengetahuan, dan jejaring di seberang sana. Jelas, diaspora bukan sekadar obyek karena selayaknya mereka menjadi subyek yang melakukan hal-hal besar ketimbang hanya remitansi. (Reportase: Destiwati Sitanggang)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)