Laba Bank Sampoerna Tumbuh 39%

Ekonomi melaju tersendat sepanjang tahun 2014. Situasi perekonomian kurang kondusif, ditandai dengan kenaikan harga BBM dan tingkat suku bunga. Namun, PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) cukup berhasil melewati tantangan tersebut. Hal ini tercermin dari raihan laba sebelum pajak yang mencapai Rp 36,72 miliar hingga Desember 2014, atau naik 39% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 26,4 miliar. Pertumbuhan laba ditopang kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest margin) dan pendapatan operasional masing-masing sebesar 26,24% dan 35,45%.

“Di masa mendatang, kami yakin Bank Sampoerna akan terus meningkatkan kinerjanya dengan dilakukannya penyesuaian fokus bisnis di Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), perluasan kantor cabang dan juga meningkatkan kerjasama dengan Koperasi Binaan Sahabat UKM dalam rangka meningkatkan yield,” kata Direktur Utama Bank Sampoerna.

Outstanding kredit juga meningkat 46,68% menjadi Rp 2,54 triliun per Desember 2014 dibanding realisasi tahun sebelumnya yang tercatat Rp 1,73 triliun. Rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga (LDR) juga meningkat signifikan menjadi 90,74% dari tahun sebelumnya yang hanya 80,89%.

Seiring pertumbuhan kredit, Bank Sampoerna juga berhasil menghimpun dana masyarakat sebesar Rp 2,7 triliun, meningkat dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 2,1 triliun. Hal itu menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap perseroan yang semakin meningkat dan terjaga dengan baik.

“Peluncuran produk baru dalam rangka meningkatkan layanan mendorong perolehan dana pihak ketiga di tengah-tengah ketatnya likuiditas pasar di sepanjang tahun 2014,” kata Ong Tek Tjan, Head of SME, Funding and Network Management Bank Sampoerna.

Direktur Utama PT Bank Sahabat Sampoerna, Ali Rukmijah (Foto: IST) Direktur Utama PT Bank Sahabat Sampoerna, Ali Rukmijah (Foto: IST)

Dari total portofolio kredit, sebagian besar diberikan untuk sektor UMKM sesuai dengan visi dan misi dari Bank Sampoerna yakni memberdayakan sektor tersebut serta mencerminkan keunggulan kompetitif di segmen tersebut, disamping senantiasa menjaga asas prudential banking dalam menjalankan operasionalnya.

“Penetapan resegmentasi fokus bisnis pada lower ticket size yang dapat memberikan hasil (yield) tinggi telah mampu menopang pertumbuhan Bank Sampoerna dari aspek top line maupun bottom line. Sehingga, akan dapat menjadi modal utama dalam peningkatan pertumbuhan yang lebih cepat dan berkesinambungan,” ujar Ali.

Beberapa aspek rasio keuangan lainnya secara umum berada pada tingkatan yang baik. Rasil kredit bermasalah (NPL) terjaga di level 2,34%, jauh di bawah batas aman yang ditentukan Bank Indonesia sebesar 5%. Rasio Permodalan (CAR) juga berada di level yang sangat memadai untuk mendukung pertumbuhan, yakni sebesar 23,62%. Pada tahun 2014, dari kuartal I sampai IV, tren rasio rentabilitas ini terus membaik dan meningkat. Dari sisi neraca, total aset per Desember 2014 mencapai Rp 3,47 triliun, meningkat 30% dibanding periode sebelumnya sebesar Rp 2,67 triliun.

Untuk menopang pertumbuhan yang berkelanjutan, Bank Sampoerna didukung dua grup besar yang juga kelompok usaha Sampoerna Group, yaitu Grup Sampoerna Strategic melalui PT Sampoerna Investama dengan kepemilikan sebesar 81% dan Grup Alfa melalui PT Cakrawala Mulia Prima dengan kepemilikan sebesar 18%, serta 1% dimiliki oleh Bapak Ekadharmajanto Kasih.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)