Lahir di Tahun Sulit, Ini Strategi BRI Besarkan Brilink

Direktur Jaringan dan Layanan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero)Tbk, Osbal Saragi Rumahorbo

Tiga tahun terakhir adalah masa-masa yang cukup sulit bagi beberapa bisnis. Sebagian kalangan menyebutnya sebagai era VUCA (volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity). Bisnis skala besar sekalipun tidak sedikit yang menyusut bahkan gulung tikar. Tetapi di lain pihak, ada yang justru seperti mendapat 'oksigen' dari kemunculan era ini, bisnisnya tumbuh subur. Salah satunya layanan BRILink dari Bank BRI. Layanan lakupandai ini dilahirkan tahun 2015, tepat saat VUCA mulai mewabah. Tetapi justru bisnis ini tumbuh dengan pesat. Apa dan bagaimana BRI mengembangkan BRIlink ? Berikut kutipan wawancara SWA Online dengan Direktur Jaringan Layanan BRI, Osbal Saragi Rumahorbo di ruang kerjanya, beberapa hari lalu.

Apa yang membuat Brilink bisa tumbuh melesat dalam tiga tahun terakhir ?

Jadi saya perlu jelaskan dulu kenapa agen Brilink ini ada, menjadi bisnis bank BRI. Kami mulai tahun 2015 Brilink dikenalkan, latar belakangnya jelas kami ingin menjangkau ke seluruh pelosok dan semua kalangan, terutama mereka yang unbanked. Agar semua bisa mendapat layanan. Kami memang sudah punya unit terkecil di ujung-ujung Tanah Air, namanya Teras BRI. Ternyata ini pun tidak cukup menjangkau semua. Nah, sejalan dengan keinginan regulator, dalam hal ini Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan, dalam rangka literasi keuangan, kami hadir dengan Brilink ini. Ternyata setelah kami buka di 2015,  mendapat respona yang sangat baik dari masyarakat. Jadi kami memanfaatkan customer based.

Nah, tahun berikutnya juga tambah lagi 50 ribu agen, sehingga dua tahun pertama itu kurang lebih100 ribu agen. Kemudian, tahun 2017 kami melihat animo masyarakat ini cukup bagus, dan kemudian bagi Bank BRI sendiri juga ada dampak positif bagi profit and loss, sehingga kami putuskan untuk menambah desain baru, kalau sebelumnya agen Brilink itu pakai mesin EDC, pada 2017 kami ganti dengan menggunakan aplikasi di smartphone.

Ternyata dengan desain baru ini, permintaan untuk menjadi agen meningkat lagi, maka tahun 2017 agen Brilink kami tambah hampir 200 ribu, sehingga pada akhir tahun 2017  kami punya sekitar 380-an agen, walaupun setelah berjalan kami evaluasi lagi, ada juga agen-agen yang kemudian berhenti karena produktivitasnya kurang. Mungkin karena mereka belum dapat edukasi yang baik, akhirnya dalam 2018 ini kami melakukan pengurangan, meski ada agen-agen baru juga yang masuk dan berkinerja bagus. Maka target akhir tahun 2018 ini kami akan capai 380 ribu agen Brilink. Denga ndemikian kami memiliki jumlah agen lakupandai terbesar di Indonesia jika dibandingkan dengan bank lainnya.

Jadi apa rahasianya BRI bisa cepat menumbuhkan Brilink ?

Kami punya customer based yang menjadi calon agen, jumlahnya cukup besar. BRI punya cutomer based hampir 113 juta, dari jumlah itu di level mikro—yang menjadi target pertama menjadi agen Brilink—ada sekitar 7-8 juta. Jadi memilih 300-400 ribu dari 7 juta kan menjadi lebih mudah. Jadi itu yang membuat kami unggul, bisa meng-cover seluruh ruang yang punya peluang untuk kami jadikan agen Brilink.

Untuk menjalankan semua itu,  pasti ada support system yang dibangun, misalnya tim pemasaran, bagaimana menyiapkan semuanya?

Iya, kami sudah punya tim, karena ini sudah menjadi model bisnis BRI. Bahkan ke depan saya perkirakan tim ini akan menjadi makin solid. Setelah tiga tahun kami berpoerasi, kami coba lihat prospeknya  ke depan, ternyata memang baus. Oleh karena itu kami terus perkuat tim. Sebetulnya kami sudah diuntungkan dengan beberapa hal, pertama, kami sudah punya agen potensial yang bisa sekaligus mengedukasi masyarakat atau komunitas yang ada di tempatnya dia, karena kedepan Brilink ini akan menjadi community banking. Kemudian, kedua, kami sudah punya tenaga pemasar yang tersebar merata hingga ke BRI Unit di pelosok-pelosok. Mereka sudah mengenal nasabah, mereka juga sudah mengenal potensi wilayah, sehingga ketika memilih agen Brilink ini mereka sudah tahu betul yang mana. Mereka sudah tahu perkembangan usahanya, kredibilitasnya. Kami harus memilih yang betul-betul kredibel dan bisa mengedukasi komunitas disekitar dia, karena kan agen Brilink ini menjadi perwakilan kami (bank) kan?. Jadi karena kana menjadi perwakilan maka kami harus memilih yang tepat.

Bagaimana model bisnis antara agen Brilink dengan Bank BRI ?

Jadi para agen itu akan mendapat fee dari setiap transaksi yang dilakukan oleh pelanggannya. Kami baginya 50:50. Jadi ini tuh prospeknya bukan hanya bagi kami (bank) tetapi juga menjadi sumber income bagi masyarakat. Baru-baru ini ada agen Brilink di Papua, tepatnya di daerah perbatasan, dia bisa mengumpulkan pendapatan dari transaksinya Brilink hingga Rp 30 juta per bulan. Ada beberapa yang lainnya di daerah yang lain, juga sudah mendapatkan pemasukan yang lumayan besar dari transaksi Brilink.

Kalau untuk BRI sendiri, berapa besar kontribusi Brilink bagi revenue perusahaan ?

Oh sudah cukup signifikan, jadi kontribusinya kan dari fee based income, tren tiga tahun terakhir ini terus meningkat fee based income dari agen Brilink. Hampir 150% pertumbuhan fee based income dari transaksi Brilink. Nah kemudian ada kontribusi lainnya dari sisi pengendapan dana, karena di sana kan masyarakat membuka tabungan, tentu ada saldo, ada dua saldo, pertama saldo dari para agen dan kedua saldo dari masyarakat yang dilayani.

Sebagai agen Brilink ini juga berperan dalam ‘merebut’ CASA (dana-dana murah). Tapi yang paling prospektif sebenarnya  ke depan, kami sedang menyusun dan mengevaluasi terus menerus, mungkin kantor akan kami kurangi, tepatnya yang di tingkat unit. Agen Brilink yang akan kami perbanyak. Dengan begitu kami bisa me-reduce cost. Jadi kalau agen Brilink ini bisa sustain ke depan, maka ini akan jadikan garda depan untuk melayani masyarakat karena biaya operasionalnya menjadi sangat murah. Teras-teras BRI juga sudah banyak yang kami tutup diganti dengan agen Brilink. Ini akan memperkuat BRI untuk berkompetisi di industri ini, termasuk juga untuk menghadapi fintech.

Setelah tiga tahun berjalan dan tumbuh pesat, adakah tantangan yang dihadapi ?

Iya tentu tantangan tetap ada, kami ini kan berbasis jaringan komunikasi. Ada daerah-daerah tertentu yang jaringan komunikasinya masih on-off, artinya bukan seperti di kota. Misalnya di Papua, masih belum semua daerah sudah bagus jaringan komunikasinya. Jadi selain menggandeng vendor-vendor lain, bisa juga dengan memanfaatkan satelit kami, BRI-Sat.

Lalu apa target dan rencana ke depan ?

Kami sedang menyusun konsep untuk memasarkan Brilink di kota, karena kan Brilink dimulai dari desa dan pelosok, maka kini kami mulai pikrikan untuk menggarap pasar kota. Nantinya yang akan kami sasar adalah jaringan ritel, resto, kafe dan sebagainya. Potensi besarnya adalah di payment. Ini sedang kami kaji, nanti 2019 kami sudah uji coba. Agen juga akan terus kami tambah, hingga akhir tahun 2018 ini kami targetkan akan mencapai 380 ribu agen. Jadi tambah 100 ribu agen baru tahun ini. Tentu kami semakin selektif dan mengedukasi agen.

Berapa rata-rata jumlah dan nilai transaksi agen Brilink ?

Rata-rata 1,5 juta transaksi per hari, dengan nilai transaksinya tidak kurang dari Rp 1,3 triliun per hari. Jumlah itu total dari seluruh agen kami.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)