Langkah Indonesia Terobos Pasar Nigeria

Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan, memberikan pidato di The Business Forum, di Abuja, Nigeria, Sabtu (2/2/2013). Sumber: Kementerian Perdagangan

Indonesia mempunyai sejumlah mitra dagang yang bisa disebut dengan pasar tradisional, seperti Amerika Serikat maupun Eropa. Akan tetapi, dengan situasi ekonomi di kedua tempat tersebut yang masih tidak menentu, Indonesia pun segera menyasar pasar non-tradisional.

Pemerintah kini, salah satunya, sedang membidik Nigeria, negara yang berada di daratan Afrika. Pada hari Minggu (3/2/2013), di Abuja, Nigeria, Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan membawa sebanyak 7 pengusaha besar asal Indonesia bertemu dengan 7 pengusaha Nigeria. Pertemuan itu juga dihadiri oleh Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia.

“Peluang perdagangan dan investasi di Nigeria cukup besar, dan ini harus segera dimanfaatkan sebelum diambil pihak lainnya,” sebut Gita, dalam siaran pers yang diterbitkan Senin (4/2/2013).

Dalam pertemuan itu, Presiden Yudhoyono menekankan tiga sektor yang harus ditingkatkan dalam perdagangan dengan Nigeria, yaitu bidang energi dan bisnis yang berkaitan dengan energi lainnya, bidang consumer products, seperti makanan dan minuman, pakaian jadi, kosmetika dan lainnya, dan bidang jasa seperti pemeliharaan pesawat terbang dan transportasi dalam kaitannya dengan konektivitas.

Terkait dengan bisnis pemeliharaan pesawat, di forum bisnis yang dilakukan di Abuja, Sabtu (2/2/2013) waktu setempat, PT Garuda Maintenance Facility (GMF) melakukan penandatanganan kontrak kerja sama pemeliharaan pesawat dengan sekitar 4 perusahaan penerbangan Nigeria, dengan nilai sebesar US$ 60 juta untuk masa 3-5 tahun ke depan. "Penandatanganan kontrak ini merupakan suatu terobosan baru bagi hubungan kerja sama perdagangan Indonesia-Nigeria. Ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya mampu mengekspor barang, tetapi juga sudah mampu mengekspor jasa,” ujar Gita.

Presiden juga menggarisbawahi pentingnya mendorong kerja sama yang lebih erat antarpengusaha kedua negara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi baik Nigeria dan Indonesia. Kepada Presiden Yudhoyono, para pengusaha Nigeria pun menyampaikan bahwa saat ini mereka sedang dalam proses menuju ekonomi yang lebih terbuka. Mereka juga menyatakan keinginannya untuk melakukan kerja sama yang lebih erat dengan para pengusaha Indonesia. Dengan melihat banyaknya persamaan antara pengusaha kedua negara, para pengusaha Nigeria optimistis dapat melakukan interaksi dan transaksi di bidang perdagangan dan investasi dengan para pengusaha Indonesia secara lebih mudah.

Kerja sama dagang antara Indonesia dan Nigeria ini juga bisa membuka akses Indonesia ke pasar lainnya di Afrika. Mintardjo Halim, Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Komite Afrika, yang juga koordinator para pengusaha Indonesia dalam misi dagang ke Nigeria, mengungkapkan bahwa Nigeria sebagai salah satu negara terbesar di Afrika Barat dapat dijadikan pintu masuk ke negara-negara di sekitarnya.

“Kami akan melakukan kerja sama yang lebih erat dengan KADIN Nigeria untuk menerobos pasar yang sangat potensial, terutama untuk produk makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, serta consumer products lainnya seperti sabun, kertas, kosmetik,” ujar Mintardjo.

Kedua negara ini juga sepakat untuk membentuk semacam Preferential Trade Agreement (PTA). Menurut Gusmardi Bustami, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, PTA akan lebih mempercepat upaya Indonesia untuk menerobos ke pasar-pasar non tradisional, seperti Benin, Ghana, Pantai Gading, dan Liberia. “Ini merupakan inisiatif yang baik dan kedua pihak perlu melakukan pembahasan terkait PTA secepatnya agar hambatan dagang yang kedua negara hadapi selama ini dapat segera diatasi,” kata dia.

Sebagai catatan, ekspor Indonesia ke wilayah Afrika meningkat cukup signifikan beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2004, nilai ekspor Indonesia sebesar US$ 2,5 miliar. Angka itu meningkat dua kali lipat pada tahun 2012, dengan capaian US$ 5,1 miliar.

Sementara total nilai perdagangan Indonesia-Nigeria pada tahun 2011 mencapai US$ 2,1 miliar. Dan pada periode Januari-Oktober 2012, perdagangan keduanya mencapai US$ 2,7 miliar. Dalam hal ini, Indonesia selalu mengalami defisit rata-rata sekitar US$ 1,5 miliar setiap tahunnya karena mengimpor minyak dari Nigeria. Nigeria dan Indonesia pun sepakat untuk meningkatkan nilai perdagangan keduanya menjadi US$ 5 miliar dalam 3 tahun ke depan.

Di bidang investasi, Nigeria pun sangat terbuka dengan kehadiran para investor Indonesia. Saat ini, ada 11 perusahaan Indonesia yang telah berinvestasi di Nigeria, khususnya di bidang petrochemical, dan untuk produk-produk seperti deterjen, sabun, makanan, lampu pijar, dan obat-obatan. Nigeria juga mengundang investor atau pengusaha Indonesia untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit di Nigeria karena negara tersebut masih memiliki lahan tersedia sekitar 40 juta hektar. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)