Lega Paket, Kurir Besutan PO Kramat Djati yang Bikin Lega

Lie Yin Chang Lie Yin Chang, Direktur Operasional Lega Paket

Jauh sebelum jasa kurir merebak seperti sekarang, penerawangan pengelola bus PO Kramat Djati ternyata sudah jauh ke depan. Tahun 1993, di bawah PT Kramat Djati Asri Sejati, pada 1993 mereka mendirikan PT Leuwigajah (Lega Paket), perusahaan jasa transportasi barang, di tengah langkanya perusahaan kurir waktu itu.

Ketika banyak pedagang tradisional dan masyarakat menitipkan uangnya kepada sopir Kramat Djati untuk disampaikan kepada orang yang dituju si pedagang di kota/daerah yang dilewati bus asal Bandung ini, manajemen pengelola bus ini akhirnya mendirikan perusahaan kurir sendiri.

Awalnya, Lega Paket memanfaatkan kapasitas ruang bagasi bus malam cepat Kramat Djati dengan kapasitas awal 2 ton per hari. “Memang, Lega Paket berawal dari bus malam PO Kramat Djati. Lega Paket baru mulai pada 1993,” ujar Lie Yin Chang, Direktur Operasional Lega Paket, menegaskan. Namun antara bis Kramat Djati dan Lega Paket benar-benar dipisahkan dari sisi keuangan, manajemen, dan lainnya sejak 1999.

Berdirinya Lega Paket sebagai bentuk keseriusan dalam membesut bisnis kurir. “Kami mengelola usaha kurir ini serius sehingga terlihat perkembangannya,” kata Lie. Bahkan dalam pelaksanaannya, bisnis kurirnya ini tidak hanya menggarap pelanggan ritel, tetapi juga pelanggan korporat mulai 1998. “Saya sebenarnya lebih prefer ke UKM atau ritel biasa karena saya lebih senang jika kami tumbuh bersama,” ujarnya.

Kalau pelanggan korporat besar, ada kecenderungan harus masuk ke dalam sistem dan aturan mereka. Dengan demikian, pihaknya sama sekali tidak bisa memberikan masukan kepada pelanggan korporat. Misalnya, dari sisi kemasan paketnya yang kurang baik, sehingga takutnya barang yang sampai ke tujuan rusak hingga berapa persen. “Terkadang hal seperti itu mereka tidak pertimbangkan saran dari kami,” kata Lie. Pelanggan korporatnya di Bandung masih dominan berasal dari perusahaan tekstil, garmen, serta bahan pangan yang belum diolah dan percetakan. “Biasanya, kami melakukan pengajuan kerjasama atau sering juga mereka yang datang langsung ke kami,” ujarnya.

Melihat porsinya, pelanggan ritel dan UKM adalah yang paling dominan saat ini. “Kami mempunyai kapasitas yang bisa dijual sebanyak 60-70 ton per hari dan omset kami kira-kira Rp 1,5 miliar per bulan,” ungkap Lie.

Karyawan Lega Paket 165 orang dan armadanya sekitar 100 unit. Adapun kota tujuan yang bisa dirambah adalah Palembang, Bandar Lampung, Jakarta, Bekasi, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Malang, dan Denpasar. “Tetapi untuk pengantarannya bisa melebihi itu. Contohnya, kami bisa mengantarkan barang ke Magelang walapun kantor kami adanya di Jogja (Yogyakarta),” ucapnya.

Bagaimana strategi Lega Paket di tengah persaingan bisnis logistik yang semakin ketat? “Sebenarnya, kami tidak memiliki strategi khusus. Akan tetapi, karena kami berawalnya dari kebutuhan konsumen yang ingin cepat sehingga di sini kami selalu menerapkan disiplin waktu. Jadi, setiap pengirimannya sudah terjadwal,” Lie menjelaskan.

Selain itu, untuk pengemudinya juga, pihaknya menargetkan waktu dalam hitungan jam untuk sampai ke kota tujuan. Kalau ada kendala selama di perjalanan, biasanya pihaknya melakukan komunikasi dengan penerima dan pengirim barang bahwa ada keterlambatan dalam pengiriman. “Kami terus menjaga komitmen untuk disiplin waktu sehingga ketika konsumen puas, mereka akan merekomendasikan ke calon konsumen lainnya,” katanya berharap.

Untuk sistem digital atau teknologi informasi, Lie mengaku baru menerapkan sistem biasa saja seperti untuk input data transaksi. Dan, di kota tujuan sudah diketahui mobil yang akan masuk membawa apa saja, dan konsumennya siapa saja. Namun, sistem ini baru untuk internal saja dan konsumen belum bisa men-track barangnya sudah sampai mana. “Namun ke depan, kami akan membuat sistem bagaimana konsumen bisa men-track barangnya sudah sampai mana,” ujarnya.

Hingga saat ini sistem bisnis Lega Paket menggunakan sistem keagenan. ”Sistem kami keagenan. Artinya, sistemnya bagi hasil. Si agen ini bisa jual berapa dan kami akan berikan diskon berapa persen,” ucapnya. Ke depan, ia melihat potensi bisnis logistik ini akan tumbuh, kendati tantangan terbesar dalam bisnis ini adalah SDM.

“Untuk bisnis logistik ini, tidak ada pendidikan formalnya. Kebetulan background saya sekolah pariwisata dan pada dasarnya ada kesamaan, yaitu di service,” kata Lie. Akhirnya untuk pelatihannya, Lie membuat sendiri modulnya dan turun langsung untuk mengedukasi karyawan baru. Semua itu dilakukannya karena ia ingin mengembangkan bisnis yang memberikan solusi bagi pelanggan.

Reportase: Sri Niken Handayani/Riset: Elsi Anismar

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!