Makin Kinclong, Perikanan Nusantara Patok Pertumbuhan 30%

PT Perikanan Nusantara (Persero) menargetkan pendapatan tahun ini tumbuh 20%-30% menjadi Rp 327-354 miliar dari tahun lalu sebesar Rp 273 miliar. Perusahaan pelat merah itu sempat hampir mati karena menanggung rugi Rp 222 miliar sebelum 2010. Direktur Utama Perinus Persero Abdussalam Konstituanto mengatakan, Perinus mulai bangkit lagi dari keterpurukan pada 2010. Sejak saat itu, kinerja Perinus terus beranjak naik. Pada 2013, pendapatan Perinus mencapai Rp 221 miliar dengan laba bersih Rp 11,5 miliar, lalu pendapatan 2014 menjadi Rp 273 miliar dan laba Rp 21 miliar.

"Pertumbuhan pendapatan rata-rata sekitar 15-20% per tahun. Tahun ini, pertumbuhan pendapatan 20-30%. Setelah 2016, kami yakin pendapatan makin pesat setelah teknologi pengolahan (nanoteknologi) dan penangkapan (remote sensing)," kata dia di Jakarta, baru-baru ini.

Dia menjelaskan, pengembangan nanoteknologi memiliki manfaat di antaranya bisa menciptakan nilai tambah yang ekonomis, meningkatkan pendapatan perusahaan, sekaligus merupakan proses alih teknologi pengolahan. "Upaya ini juga bisa menciptakan kepastian dan penguasaan pasar (market share), dan meningkatkan kualitas aset dan penyerapan tenaga kerja," ujarnya.

Direktur Utama PT Perikanan Nusantara (Persero) Abdussalam Konstituanto Direktur Utama PT Perikanan Nusantara (Persero) Abdussalam Konstituanto

Untuk meningkatkan produktivitas, Perinus akan melakukan pengembangan teknologi perikanan remote sensing. Teknologi ini bermanfaat untuk memastikan fenomena oseanografi yang berkaitan dengan perikanan tangkap. Penguasaan dan sosialisasi penggunaan teknologi penginderaan jauh (inderaja) dan pendukungnya untuk penangkapan ikan itu juga mampu memberikan kepastian posisi yang prospektif untuk rencana penangkapan dan pengumpulan ikan.

Dia mengklaim, remote sensing mampu meningkatkan kinerja operasional dari sisi bisnis inti (core business) perusahaan. Selain menjadi sarana pengaturan dan pengamanan sumberdaya ikan laut nasional. Pengembangan teknologi itu diperlukan karena masalah yang dihadapi perusahaan perikanan pada umumnya, yakni kekurangan sarana alat tangkap dan keterbatasan teknologi. Apalagi saat ini ada masalah eksternal yang bisa menghambat kinerja industri perikanan berupa larangan alih muatan di atas laut (transshipment). "Secara eksternal dengan adanya kebijakan larangan transshipment otomatis akan berdampak terhadap collecting ikan," kata dia.

Penerapan teknologi tersebut juga bisa mengatasi kendala subektor perikanan tangkap terkait bahan bakar minyak (BBM). Karena subsidi yang diberikan pada nelayan kurang tepat sasaran, banyak nelayan yang tidak menikmati subsidi. Seharusnya, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) ada di setiap cabang pelabuhan Perinus, karena nelayan bermitra dengan Perinus sehingga lebih terkontrol. Perinus sudah mengusulkan agar lebih efisien maka berangkatnya bisa langsung beli es balok, sekaligus mengisi bahan bakar. Akibat masalah BBM, operasional nelayan kerap terganggu, padahal banyak nelayan yang menjadi mitra Perinus.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)