Mantan Menteri BUMN Ini Usul Bentuk Lima Holding BUMN

Skema holding BUMN dinilai paling cocok diterapkan di Indonesia. Holding BUMN semen, yakni PT Semen Gresik, PT Semen Padang, dan PT Semen Tonasa menjadi PT Semen Indonesia Tbk berhasil melambungkan kinerja BUMN semen di kawasan Asia Tenggara. Proses konsolidasi atau pembentukan holding BUMN semen dimulai sejak 1995, namun baru berjalan sempurna mulai 2005. Sejak tahun 2012, Semen Indonesia mampu ekspansi ke Vietnam dan kini menguasai pasar semen regional, duduk di peringkat pertama dari sisi produksi atau setara 38,01% dari total produksi di kawasan.

Itulah kenapa mantan Menteri BUMN, Tanri Abeng, mengusulkan perlunya dibentuk lima holding BUMN sektoral. Pertama, sektor energi dan tambang, di dalamnya antara lain ada Pertamina, PLN, PGN, Antam. Kedua, sektor infrastruktur seperti pelabuhan, bandar udara, trasportasi, dan telekomunikasi. Ketiga, sektor lembaga keuangan, dimana semua bank dan non-bank digabung. Keempat, industri semen dan konstruksi. Kelima, industrik pupuk dan perkebunan.

“Dalam perhitungan saya, kalau itu bisa jalan dengan prinsip profit oriented, value creation-nya pada akhir tahun 2019 bisa mencapai Rp 5.900 triliun. Itulah nilai pasar yang ditentukan oleh profitabilitas. Konsep ini sudah saya sampaikan ke meja Presiden Joko Widodo dan Menteri BUMN, Rini Soemarno. Tetapi saya tidak tahu dilihat atau tidak konsep itu,” katanya.

Mantan Menteri BUMN, Tanri Abeng Mantan Menteri BUMN, Tanri Abeng

Konsep tersebut, lanjut dia, akan menciptakan BUMN yang kuat. Sementara, BUMN yang berada di bawah holding bisa fokus ke industri hilir (pengolahan) sehingga mampu menarik banyak tenaga kerja baru. Selama ini, ekspor dari Indonesia memang kebanyakan masih bahan mentah sehingga tidak menghasilkan nilai tambah untuk perekonomian dalam negeri.

“Contoh yang perkebunan, PTPN (PT Perkebunan Nusantara) digabung, plus (perusahaan) pupuk. Kalau sudah di bawah holding, mereka akan lebih menarik di mata investor. Kalau ingin investasi, holding-nya tinggal pergi mencari investor. Pemodal melihat size holding-nya. Saya yakin banyak lembaga keuangan berlomba-lomba ingin mendanai,” katanya.

Tanri menjelaskan, Indonesia juga bisa menjadi pengendali atau pengatur harga minyak sawit mentah (CPO) setelah menggabung PT Perkebunan Nusantara. Saat ini, Indonesia memang tak punya kekuatan menentukan harga meski menjadi salah satu produsen terbesar CPO. “Jadi, holding ini berperan sebagai kekuatan untuk investasi, pendanaan, logistik, pemasaran, dan lainnya,” ujarnya.

Memang proses konsolidasi, dalam bentuk holding atau merger akan memakan waktu sangat lama. Dia menilai kunci sukses pelaksanaan program tersebut berada di tangan Menteri BUMN Rini Soemarno. Rekan kerja pemerintah di DPR juga akan setuju jika rencana tersebut bisa dikomunikasikan dengan baik. “Kalau soal intervensi politik, saya kira sekarang sudah zamannya serba transparan, bebas bicara, semestinya sudah minimlah itu. Jadi, kalau Menteri benar-benar mau memikirkan, akan ada jalannya,” katanya. (Reportase: Arie Liliyah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)