Masih Ada Optimisme di Balik Turunnya Investasi

Di tengah belum stabilnya kondisi perekonomian dunia, Indonesia masih dipandang dalam keadaan aman. Akan tetapi, Destry Damayanti, Kepala Ekonom Bank Mandiri, melihat bahwa ekonomi negara republik ini sedang mengalami perlambatan. Apa tandanya? Salah satunya adalah kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi terus menurun.

Destry Damayanti, Kepala Ekonom Bank Mandiri

Destry mengutarakan, ia sempat membuat tulisan dengan judul ‘Lampu Kuning untuk Investasi.’ Ia membuat itu karena melihat gejala investasi di Tanah Air semakin turun. Akan tetapi, tidak berapa lama kemudian setelah tulisan dibuat, kata dia, Badan Koordinasi Penanaman Modal mengumumkan adanya pertumbuhan Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri sebanyak 30,6 persen pada triwulan I 2013 dari periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu signifikan ketimbang beberapa triwulan terakhir tahun 2012.

“Haduh saya rasanya salah ini. Tapi yang saya lihat itu investasi total,” terang dia, dalam diskusi dengan wartawan, di Jakarta, Selasa (14/5/2013).

Destry mengklaim, apa yang dicurigainya adalah benar. Ia mengatakan, “Bahwa kontribusi investasi terhadap PDB kita itu semakin turun. Makanya saya bilang lampu kuning ini untuk investasi.”

Bila melihat historis dari tahun 2011 hingga sekarang, kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi terus menurun. Triwulan I 2011 persentasenya mencapai 1,7 persen. Dan mencapai puncaknya pada triwulan IV 2011 dengan 3 persen. “Share yang kemarin di triwulan I 2013 itu tinggal 1,4 persen terhadap PDB keseluruhan,” lanjutnya.

Ketika kontribusi investasi turun, Destry menyebutkan, ekonomi di triwulan I 2013 diselamatkan oleh sektor eksternal, yakni net ekspor yang positif. “Jadi, kita berharap dari net ekspor. Ekonomi kita mulai lebih balance lagi. Nggak terlalu ekonomi yang berorientasi domestik,” ucap dia.

Ke sektor industri mana investasi mengarah?

Ia menyebutkan, investasi sekarang ini banyak masuk ke sektor manufaktur. Ini mengingat pemerintah terus berusaha untuk memperkuat sektor tersebut, dengan mengajak para investor untuk tidak sekadar membuat Indonesia sebagai pasar, tetapi sebagai tempat berproduksi. “Kalau bicara investasi, khususnya FDI, orientasi masuk banyak ke manufaktur," tegas dia.

Akan tetapi, kembali, ekonom Bank Mandiri ini melihat adanya perlambatan. Ini dilihat dari kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB yang turun dari 27,5 persen (2006) menjadi 23,6 persen (triwulan I 2013). Cukup berbahaya, karena sektor manufaktur ini adalah sektor yang banyak menyerap tenaga kerja.

Sekalipun kondisi investasi dalam keadaan yang patut diperhatikan, Destry menekankan bahwa investasi masih berpeluang besar untuk terus bertumbuh. Mengapa demikian? Keyakinan investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia masih tinggi. Bahkan penilaian sejumlah lembaga menunjukkan Indonesia masuk dalam jajaran lima besar tujuan investasi utama baik di skala regional, Asia, maupun dunia.

Karena Indonesia punya keunggulan yaitu demografi dan semakin tumbuhnya kelas menengah. Ia pun menegaskan, “Indonesia masih merupakan (salah satu) negara tujuan investasi utama.” (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)