Mau Menangi Perang Talent, Begini Caranya!

Fenomena war for talent masih marak terjadi di beberapa sektor industri, seperti perbankan, perhotelan, dan telekomunikasi. Ini biasanya dilakukan perusahaan untuk menutupi lubang yang muncul karena salah seorang talent hijrah ke perusahaan lain. “Semakin kompetitif dan dinamis suatu industri, semakin besar pulang war for talent,” kata Budi Widjaja Soetjipto,Vice Rector for Research, Development and Partnership Universitas Pertamina.

Ini tentu menyulitkan perusahaan. Lalu, bagaimana mengelola dan menjaga seorang talent agar tidak mudah termakan bujuk rayu perusahaan lain atau bahkan competitor sendiri, terutama di industri yang kompetisi tenaga kerjanya sangat tinggi seperti perbankan?

budi-soetjipto

“Pemanfaatan big data dalam HR Information System (HRIS) menjadi penentu dalam pengelolaan talent. Perusahaan jadi tahu kebutuhan tiap talent. Agar tidak merusak struktur gaji yang ada, talent diberi additional benefit berdasarkan data driven,” katanya.

Untuk mendatangkan talent, lanjut dia, umumnya perusahaan harus berhubungan dengan head hunter sebagai sumber informasi talent mana yang tersedia di pasar, berikut informasi gaji dari para eksekutif sebagai patokan gaji untuk para talent. Kedatangan talent baru juga diupayakan tidak merusak struktur gaji yang sudah ada.

Dengan aksesibilitas informasi yang ada semua orang bisa mengetahui besaran gaji di satu posisi di sebuah perusahaan. Informasi ini membuat orang mudah melakukan perbandingan terhadap gaji, bahkan termasuk kompensasi dan benefit yang diterima setiap tahunnya.

Menurut dia, perusahaan perlu updating data agar tidak salah membuat kebijakan kompensasi dan benefit. Benefit yang fleksibel dengan opsi yang banyak juga salah satu faktor talent mau bertahan. Tak hanya yang wajib seperti asuransi kesehatan, tapi ada juga pilihan benefit seperti pendidikan anak, tempat tinggal, kendaraan, liburan, dan beragam opsi lain.

“Perusahaan harus mengetahui kebutuhan masing-masing talent. Caranya, dengan memberikan opsi benefit sesuai keinginan talent. Mereka harus punya talent pool untuk di survei agar mengetahui reward apa yang dibutuhkan. Benefit yang memberikan pekerjanya work-life balance juga menjadi salah satu kunci,” katanya.

Dia menjelaskan, Employee Value Proposition suatu perusahaan juga mengambil peranan bagaimana karyawan bisa betah bekerja. Sebut saja, lingkungan kerja yang nyaman dan kepemimpinan yang baik. Saat ini, perusahaan bahkan mulai mempertimbangkan faktor keluarga sang talent.

Misalnya, memberi kesempatan kepada anak pegawainya untuk melanjutkan pendidikan keluar negeri. “Kesempatan ini yang membaut orang ingin bertahan lama bekerja di sebuah perusahaan,” katanya. (Reportase: Jeihan Kahfi Barlian)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)