MDGs Serius Turunkan Angka Kematian Ibu

Tingginya angka kematian ibu menjadi permasalahan krusial bagi Millenium Development Goals (MDGs). Angka kematian ibu pada 2012 menjadi 359 per 100 ribu kelahiran hidup, sedangkan pada 2007 ada pada 228 per 100 ribu kelahiran hidup. Angka pada 2007 ini sempat mengalami penurunan karena pada 1991 ada pada 390 per kelahiran hidup. Hal ini terjadi bukan hanya karena kualitas layanan kesehatan saja, tetapi juga pada sektor-sektor lainnya di luar kesehatan seperti infrastruktur, pendidikan, rendahnya kesadaran untuk merencanakan keluarga berencana, tindak aborsi yang tidak aman, kelahiran bayi tidak ditolong oleh tenaga profesional medis dan determinan lainnya seperti penyebab tidak langsung anemia pada ibu (infeksi cacing dan kekurangan nutrisi).

MDGs 2014

“Angka kematian ibu juga masih tinggi. Hal-hal yang memicu kejadian ini bisa dilihat dari infrastruktur yang ada seperti transportasi, tingkat pengetahuan, akses darah, pelayanan mereka. Jadi, memang ada faktor-faktor di luar dari kesehatan. Akses mereka sangat sulit terutama di daerah-daerah marginal. Angka target untuk kematian ibu bahkan diturunkan dari 102 menjadi 70 untuk program pasca MDGs nantinya,” ujar Prof. Dr. dr. Nila Moeloek Sp. M (K), Utusan Khusus Pemerintahan Republik Indonesia.

Data menurut Riskesdas 2013 secara nasional menunjukkan prevalensi malnutrisi naik sebesar 0,9% dari 2007 dan 2013. Pada 2007 angka prevalensi nasional 2007 sebesar 18,4%, pada 2010 angka prevalensi nasional mencapai 17,9% dan pada 2013 mencapai 19,6%. Sedangkan angka prevalensi tubuh kerdil secara nasional (Riskesdas, 2013) adalah 37,2%, mengalami peningkatan dari tahun sebelumnnya dimana pada 2007 sebesar 36,8% dan 2010 sebesar 35,6%.

Angka prevalensi anak balita kurus dan sangat kurus mengalami penurunan dari 13,6% pada 2007 menjadi 12,1% di 2013. Hal ini menunjukkan adanya indikasi malnutrisi kronis yang disebabkan oleh kondisi buruk yang telah berlangsung begitu lama seperti kemiskinan, gaya hidup tidak sehat, pola makan buruk, pola pengasuhan yang salah sejak dalam kandungan – yang semuanya menyebabkan pertumbuhan anak tidak optimal dan bertubuh kerdil.

Persentase infeksi HIV menurut Dinas Kesehatan Provinsi 2013 tercatat 29.037 orang terinfeksi HIV meningkat dari 21.591 pada 2010. Data tersebut menunjukkan pria lebih banyak terjangkit HIV. DKI Jakarta menjadi provinsi yang paling banyak terinfeksi HIV, dilanjutkan Jawa Timur dan Papua. Angka AIDS sendiri pada 2005 ada pada 5.003 dan 2013 ada pada 5.608. Papua menjadi provinsi yang paling banyak mengidap AIDS. Hal ini disebabkan karena narkoba dan perilaku seks bebas serta penyuka sesama jenis antar laki-laki.

Pada sektor akses air bersih dan sanitasi layak pada 2013 meningkat menjadi 64,3% di perkotaan dan 69,4% di perdesaan setelah sebelumnya pada 1990 hanya 33% yang memiliki akses. Hal ini masih jauh dari angka ideal oleh karena itu pada 2019 PU mencanangkan akses air bersih untuk semua. Sedangkan pada sektor pendidikan dirasa sudah mencapai target mengingat adanya program wajib belajar 9 tahun, karena fokus MDGs ada pada pendidikan dasar. Pada sektor gender sudah mencapai target karena sudah menunjukkan adanya kesamaan hak laki-laki dan perempuan, yang terlihat dari samanya jumlah angka laki-laki dan perempuan di universitas.

Semua angka-angka tersebut dicapai dengan konsep kerja sama kemitraan yang melibatkan lintas sektor seperti pemerintah, berbagai kelompok pemuda, organisasi non-profit, dan sektor swasta yang memiliki komitmen tinggi demi mencapai target pembangunan.

“Selama periode kerja 2010-2014 KUKPRI MDGs MDGS tidak bisa bekerjaan sendiri. Semua harus lintas sektor. Lintas sentor antara lainpemerintah, privat sector, mahasiswa, akademisi, pemangku bisnis dan NGO. Tidak mungkin tangan pemerintah itu akan sampai ke akar rumput dalam merancang dan mengimplementasikan sejumlah program-program kami,” tambah Nila.

MGDs yang dibentuk pada 2010 ini memiliki tujuan pembangunan yaitu menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meinngkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV dan AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, memastikan kelestarian lingkungan hidup, dan membangun kemitraan global untuk pembangunan. MDGs sendiri akan berakhir pada 2015 dan akan dilanjutkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs).

SDGs sendiri akan melanjutkan program-program MDGs yang ditambahkan dari sektor energi, ketahanan pangan, kesehatan reporduksi. SDGs akan memiliki bidang yang lebih luas dibandingkan MDGs. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)