Membangun Resiliensi Organisasi Melalui Langkah Defensif dan Progresif

Selama satu tahun terakhir, perusahaan dihadapkan pada berbagai tantangan yang menghantam bisnis mereka. Strategi dan rencana jangka panjang yang telah ditetapkan perusahaan terpaksa harus disusun ulang mengikuti perkembangan Covid-19. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah mengubah tatanan organisasi sekaligus menguji kemampuan bertahan perusahaan. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki organisasi adalah resilience.

Konsultan Senior Lembaga Manajemen FEB Universitas Indonesia, Riani Rachmawati mengutip definisi resilience oleh Denver, yaitu kemampuan organisasi untuk mengantisipasi, menyiapkan, merespon, dan beradaptasi pada perubahan dan disrupsi yang datang secara tiba-tiba.

“Sesungguhnya Organisation Resilience bukanlah hal baru. Sebagai sistem terbuka, sistem dalam suatu organisasi tidaklah pakem. Resilience adalah salah satu kemampuan fundamental organisasi yang berdinamika,” jelas Riani. 

Dalam paparannya pada SWA HR Excellence Webinar Series Presenting Best & Future Practices, Jumat (9/4/2021), Riani menyampaikan The Evolution and Tension Quadrant of Organisational Resilience. Kuadran ini membagi fase-fase Organisational Resilience berdasarkan jenis eksekusinya. Terdapat empat fase yakni preventive control, mindful action, performance optimization, dan adaptive innovation.

“Pada kuadran defensif, yang dilakukan organisasi adalah preventive control dan mindful action. Saat preventive control, organisasi berupaya untuk menghentikan hal-hal buruk yang terjadi. Proses-prosesnya yakni mitigasi risiko, system backup, dan melakukan prosedur terstandarisasi,” jelas Riani.

Setelah itu, organisasi melakukan mindful action. Fase ini adalah upaya di mana organisasi meningkatkan kapabilitas SDM agar selalu memiliki awareness terhadap masalah yang dihadapi organisasi. “Jangan sampai muncul hal-hal yang sebenarnya bisa kita antisipasi dari awal,” tegas Riani.

Pada fase ketiga dan keempat, organisasi mulai mengambil langkah progresif yakni performance optimization dan adaptive innovation.

Riani menjelaskan, untuk mengoptimalkan performance, upaya yang perlu dilakukan organisasi sifatnya adalah integrasi vertikal. Artinya semua sistem di organisasi harus terintegrasi. Salah satu cirinya adalah memiliki leader yang kuat untuk memberikan arahan ke mana arah organisasi menuju.

Fase selanjutnya adalah adaptive innovation. Fase ini berkaitan dengan bagaimana kita mengumpulkan informasi untuk organisasi. Riani menuturkan fase ini adalah tentang bgaimana organisasi terus belajar dengan memanfaatkan informasi dari luar. Di fase ini pula, karyawan diharapkan bisa bersuara sehingga memunculkan employee involvement.

Yang terakhir adalah fase kelima. Meski tidak masuk dalam kuadran, fase kelima yakni paradoxical thinking adalah tentang bagaimana organisasi menemukan keseimbangan antara sikap defensif dan progresif.

“Tensi antara defensif dan progresif harus dikelola dengan baik sehingga muncul ide-ide yang dapat dieksekusi dengan baik oleh perusahaan,” tambah Riani.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)