Menata Talent di BUMN University

Perusahaan milik negara (BUMN) membutuhkan banyak pemimpin tangguh untuk meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Kementerian BUMN berencana mendirikan BUMN University untuk menyiapkan calon direksi untuk 118 BUMN, termasuk 600 anak perusahaan, dan ribuan cucu perusahaan.

“Itu sudah menjadi rencana jangka panjang Kementerian BUMN. Kami sedang siapkan badan hukum dan pengelolanya yang kompeten. Targetnya, sudah bisa terwujud di tahun 2019,” kata Deputi Bidang Infrastruktur Bisnis BUMN, Hambra Samal.

Menteri BUMN Rini M. Soemarno (tengah) dan Direktur Utama Telkom Alex J. Sinaga (kanan) saat penyerahan simbolis bantuan unit Mandi Cuci dan Kakus (MCK) di Labuan Bajo, Kamis (27/10). Bantuan ini merupakan wujud BUMN Hadir untuk Negeri dalam meningkatkan kualitas pariwisata Labuan Bajo

Menurut dia, BUMN University nantinya akan menjadi pusat pengelola riset BUMN, pengembangan sumber daya manusia, hingga assessment untuk mencetak pemimpin-pemimpin perusahaan pelat merah. Setelah talent mendapat pengembangan di corporate university milik masing-masing BUMN, pengelolaan lanjutan dilakukan di BUMN University.

“Kebutuhan akan talent terbaik sudah sangat urgent. Inilah pentingnya kehadiran BUMN University. Saat ini, ada 118 BUMN dengan 600 anak usaha, dan ribuan cucu perusahaan. Total aset seluruh BUMN sekitar Rp 6.000-an triliun,” kata dia.

Dia menjelaskan, lembaga pengelolaan talent sejenis sebenarnya sudah ada di setiap periode kepemimpinan Menteri BUMN, mulai dari Tanri Abeng hingga saat ini Rini M. Soemarno. Hanya saja, tidak berkembang dengan baik karena berada di luar Kementerian BUMN. Jika ada dalam struktur, pimpinan BUMN mau tidak mau harus mengikuti.

“Tugas saya sekarang adalah mencari orang-orang yang kompeten untuk membuat format yang tepat pembentukan BUMN University. Talent nantinya memiliki profil lengkap seperti rekam jejak, kapabilitas, integritas, dan prestasinya apa saja,” kata dia.

Hambra menambahkan, Kementerian BUMN tidak mengharamkan masuknya profesional dari luar BUMN, seperti Ignasius Jonan yang ditunjuk menjadi Dirut PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan Emirsyah Satar yang ditunjuk menjadi Dirut PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Ini tidak lantas diartikan terjadi kekurangan talent di internal BUMN.

“Dalam perubahan, perlu penyegaran di dalam karena rutinitas perubahan sulit terjadi. Kalau ada orang dari luar, dia akan tahu bagaimana kultur korporat sesungguhnya, yang dibawa oleh profesional dari luar BUMN,” ujarnya.

Dia lantas mencontohkan, saat ini banyak direktur keuangan BUMN yang diambil dari perbankan karena telah terlatih mengelola keuangan. Seorang direktur keuangan tidak hanya mengelola arus kas, tetapi juga kemampuan mengelola keuangan yang mumpuni. Nah, kemampuan ini banyak tersedia di perbankan.

“Misalnya, A mumpuni mengelola kredit pertanian di perbankan. Dia harus mengerti sawit dari A sampai Z, persaingan, kebijakan global bagaimana. Makanya ketika dia dipilih di perkebunan sawit, dia tidak bisa dibohongi tim lain,” kata dia. (Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)