Menguak Bisnis Hijau di Hutan dan Kantor

Kira-kira tiga pekan lalu, CNN menurunkan sebuah berita dari Washington. Katanya, berbagai perusahaan besar berlomba-lomba mencari lahan di seluruh dunia. Perusahaan-perusahaan itu beranggapan, fenomena perubahan iklim jelas-jelas mengancam basis ketahanan pangan. Jadi, sebelum pangan dan energi dunia betul-betul menipis, kenapa tak digenjot saja produksinya? Maka, dengan lahan baru di berbagai belahan dunia, perusahaan siap menjajal peluang bisnis baru atas nama ketahanan pangan, ketersediaan energi, dan investasi karbon.

Demikianlah Mubariq Ahmad, Ketua Kelompok Kerja Strategi Nasional REDD+, mengilustrasikan sikap perusahaan terhadap perubahan iklim. “Kampanye perubahan iklim malah jadi peluang untuk bisnis,” simpul Mubariq dengan nada prihatin.

Heru Prasetyo (tengah, berkacamata) memberi keterangan pada sejumlah wartawan

Menurutnya, REDD+ di Indonesia bisa jadi pintu masuk bisnis hijau. Bedanya, bisnis hijau yang ingin diciptakan bukanlah seperti yang diberitakan oleh CNN tadi, melainkan yang berkelanjutan (sustainable). Langkah pertama yang direkomendasi Mubariq adalah perpanjangan moratorium Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut.

Heru Prasetyo, Deputi I UKP 4 Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan, mengkritisi sistem akuntansi perusahaan yang mengabaikan hutan dan tanah. “Apakah perusahaan menghitung beban depresiasi pabrik, mesin, dan alat transportasi? Benar. Tapi, apakah selama ini mereka menghitung beban depresiasi tanah dan hutan?” tanya Heru retoris. Kalau perusahaan ingin menangkap peluang bisnis hijau, sepantasnya mereka mengadopsi sistem akuntansi hijau pula.

Sejauh mata memandang, justru perusahaan paling sering menerapkan perspektif sustainable bukan pada sistem, melainkan gedung. Gedung hijau, istilahnya green smart office, kini makin ngetren di pusat perkantoran. “Dulu tak ada gedung perkantoran yang menggunakan teknologi sirip (fin). Sekarang gedung seperti ini muncul di mana-mana,” ungkap Meidi Lazuardi, Direktur PT Api Metra Graha, dalam wawancara khusus (15/3).

Meidi Lazuardi (paling kiri) berkegiatan di Energy Building yang dibangun oleh perusahaannya

Meidi melanjutkan, green smart office lebih hemat daya. Hal itulah yang jadi pertimbangan penting buat tenant. Ia yakin, perkantoran yang dikembangkannya akan lebih segar dan trendi dalam 5 tahun ke depan.

Baik di perkantoran maupun di hutan, sedikit demi sedikit bisnis hijau menguakkan peluang menggairahkan. Boleh dicatat, di balik kebijakan moratorium hutan, ada dorongan dari letter of intent Indonesia-Norwegia. “Norwegia menjanjikan insentif U$S 800 juta jika Indonesia berhasil menurunkan emisi tiap tahun. Tapi sesungguhnya, potensi hutan Indonesia untuk menurunkan emisi justru melebihi U$S 1 miliar,” beber Heru. Artinya, selama benar-benar berkelanjutan, tak perlu apriori dulu terhadap peluang bisnis hijau. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)