Menjelang Puasa, Ekspor CPO Stagnan

Ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya pada Mei 2015 mencapai 2,22 juta ton atau turun 1,7% dari bulan sebelumnya 2,25 juta ton. Masuknya periode Puasa ternyata belum bisa mendongkrak peningkatan konsumsi produk sawit dari negara dengan penduduk mayoritas muslim, padahal pada tahun-tahun sebelumnya Puasa adalah pemicu naiknya konsumsi yang berdampak pada melonjaknya ekspor CPO dari Indonesia.

Meskipun turun,Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan mengungkapkan, secara year-on-year ekspor CPO Indonesia tumbuh cukup baik. Jika dibandingkan ekspor Januari-Mei 2014 yang hanya 8 juta ton, pada Januari-Mei 2015 sudah mencapai 10,1 juta ton atau tumbuh 26%. “Jika dibandingkan tahun lalu, pertumbuhan ekspor CPO tumbuh sangat baik,” kata dia dalam rilisnya.

cpo1

 

Dalam catatan Gapki, ekspor minyak sawit nasional ke Bangladesh turun 43, meskipun secara kuantitas ekspor tidak besar. Pada April 2015, ekspor ke Bangladesh mencapai 70,9 ribu ton dan pada Mei ini turun menjadi 40,3 ribu ton. Hal ini sangat mengejutkan karena Bangladesh diketahui berpenduduk mayoritas muslim. Situasi politik di dalam negeri diduga menjadi faktor pelemahan permintaan dari Bangladesh.

Sementara itu, ekspor minyak sawit ke India pada Mei ini juga turun 21%, yakni dari 631 ribu ton pada April menjadi 501 ribu ton pada Mei ini. Penurunan ekspor juga dicatatkan oleh negara Afrika sebesar 26%, negara Uni-Eropa 10%, dan negara Timur Tengah 1,5%. Penurunan permintaan dari pasar global akan minyak sawit ini disebabkan harga minyak kedelai yang turun karena melimpahnya stok di Amerika Selatan, Brazil, dan Argentina. Demonstrasi di pelabuhan Argentina juga sudah melambat sehingga transportasi kedelai sudah mulai bisa disalurkan keluar.

Sementara itu, ekspor ke Pakistan meningkat 45%, yakni dari 152 ribu ton pada April menjadi 221 ribu ton pada Mei 2015. Peningkatan permintaan sebagai stok menjelang Puasa yang mana konsumsi minyak untuk makanan mendongkrak permintaan dari negara itu. Peningkatan permintaan juga terjadi dari Amerika Serikat (AS) sebesar 26% dan Tiongkok 18%. Penguatan mata uang dolar AS adalah salah satu faktor pendukung naiknya ekspor ke AS.

Dari sisi harga, harga rata-rata CPO global pada Mei 2015 masih stagnan dan cenderung menurun
dari bulan lalu. Harga rata-rata Mei hanya US$ 653,2 per ton dengan pergerakan harga harian di kisaran US$ 642,50-665 per ton. Harga harian CPO global dua pekan pertama Juni lebih bergairah, harga harian pada pekan pertama menunjukkan sedikit kenaikan dan agak stabil di kisaran US$672-680 per ton. Akan tetapi pada pekan kedua harga kembali mulai melorot di kisaran US$662-670 per ton. “Kami perkirakan harga CPO hingga akhir Juni masih akan stagnan dan bergerak di kisaran harga US$ 640-680 per ton,” kata Fadhil.

Sementara itu, Harga Patokan Ekspor Juni 2015 yang ditentukan Kementerian Perdagangan sebesar US$ 604 dan Bea Keluar (BK) 0% dengan referensi harga rata-rata tertimbang (CPO Rotterdam, Kuala Lumpur dan Jakarta) sebesar US$ 674,96 per ton. Dengan melihat tren harga CPO global yang bergerak di bawah US$ 750 per ton, Gapki memperkirakan BK Juli tetap 0%.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)