Meramal Nasib 3 Operator Telekomunikasi di Tahun Kuda

Selain suhu politik, industri telekomunikasi di Indonesia juga diprediksi akan semakin memanas ditahun kuda. Posisi pasar antar operator nampaknya tidak akan jauh berbeda dengan tahun 2013, namun aksi tarik-menarik pelanggan baru dan perang inovasi akan membuat industri ini semakin menarik. Haryaddin Mahardika, Dosen & Ketua Program Studi Kelas Khusus Internasional Fakultas Ekonomi dari Universitas Indonesia, memberikan prediksi tentang nasib tiga operator besar serta tren ditahun ini. Seperti apa paparannya?

perang operator (istimewa)

Menurut Doktor dari Monash University bidang pemasaran ini, peta persaingan di industri telekomunikasi Indonesia belum banyak berubah, masih didominasi oleh Telkom, Indosat dan XL Axiata, khususnya untuk seluler. Telkom melalui Telkomseldiprediksi akan menguasai pangsa pasar dalam rentang 37 – 42 % sampai akhir tahun 2014.

Penurunan dan kenaikan pangsa pasar Telkomsel, menurutnya, dipengaruhi oleh kemampuannya menguatkankeunggulan kompetitif yang membuat mereka berhasil menjadi pemimpin pasar sampai dengan saat ini, terutama terkait dengan coverage jaringan dan inovasi produk. “Indosat terus mengalami penurunan pangsa pasar karena relatif tidak memiliki keunggulan kompetitif sekuat Telkomsel,” ujar Haryaddin.

Haryaddin Mahardika,  Dosen & Ketua Program Studi Kelas Khusus Internasional Fakultas Ekonomi dari Universitas Indonesia Haryaddin Mahardika,
Dosen & Ketua Program Studi Kelas Khusus Internasional Fakultas Ekonomi dari Universitas Indonesia

Diprediksi, pangsa pasar Indosat dan XL Axiata akan seimbang di kisaran 20% pada akhir 2014. Sisanya sekitar 15% diperebutkan oleh empat pemain lainnya, yaitu Smartfren (konsolidasi antara Smart dan Mobile 8), Axis, Bakrie Telecom, dan Hutchinson.

“Industri perlu didorong untuk melakukan konsolidasi lebih lanjut guna mendapatkan jumlah pemain yang ideal. Perhitungan terhadap potensi pertumbuhan, marjin dan penetrasi, menyimpulkan bahwa jumlah pemain yang ideal untuk meningkatkan kualitas persaingan adalah berkisar antara 4 sampai 6 pemain,” jelas pria kelahiran Madiun 14 Agustus 1980.

Haryaddin menganjurkan, perlu diperkuat batasan alami untuk mengurangi jumlah pemain baru yang keluar masuk. Diantaranya adalah dengan mengakhiri perang harga, menambah investasi infrastruktur dan jaringan, menerbitkan lisensi spektrum baru, dan sebagainya. Kejelasan arah politik pasca Pemilu 2014 bisa dijadikan momen bagi industri untuk mempercepat penguatan hal-hal tersebut.

 

Penetrasi Bisnis Data

Selain memprediksi nasib ketiga operator, Haryaddin juga menerawang tren bisnis telekomunikasi tahun ini. Menurutnya, permintaan terhadap data dan koneksi internet bergerak semakin meningkat, dan akan berimplikasi pada komposisi pendapatan operator telekomunikasi yang semakin bergantung pada pendapatan data bergerak.

iklan operator (istimewa) iklan operator (istimewa)

“Operator telekomunikasi akan terus menambah komitmen mereka pada jasa layanan pita lebar bergerak dan value added services untuk menarik pelanggan baru, di mana dua jenis layanan tersebut diperkirakan tumbuh sebesar 35% tahun ini,” jelasnya.

Jika pada tahun 2011 terdapat 70 juta pelanggan layanan data untuk piranti bergerak, maka jumlah tersebut diperkirakan akan melonjak menjadi 160 juta pada tahun 2015 (Frost and Sullivan, 2012). Hal ini didukung pula oleh pembangunan infrastruktur untuk jaringan baru. Layanan 4G kemungkinan besar akan mulai hadir pada tahun 2014, yaitu pada pita 1800 MHz.

Ia menjelaskan, tahun ini juga akan ditandai oleh meningkatnya inovasi yang ditawarkan oleh industri telekomunikasi guna menghasilkan lebih banyak pendapatan dari tren penggunaan data dari piranti bergerak (mobile monetization). Hal ini terutama dilakukan dalam bentuk utilisasi fitur-fitur ponsel cerdas dan piranti lunak untuk melakukan mobile payment, mobile e-commerce, dan mobile advertising.

“Monetisasi penggunaan data ini di Indonesia memiliki banyak tantangan, terutama dari aspek infrastruktur dan penetrasi sistem keuangan yang masih relatif rendah. Kurang lebih hanya ada 7 juta pemegang kartu kredit dan 50 juta pemilik rekening bank di Indonesia. Hal ini akan mendorong kerjasama antara operator komunikasi dengan penyedia jasa layanan dan atau sistem pembayaran,” tambahnya. (EVA)

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)