Mercer: Agar Talent Tak Lari

Dewasa ini, perusahaan mesti berjuang keras untuk menjaga karyawan terbaiknya tidak hijrah ke perusahaan lain, atau bahkan ke kompetitor bisnis. Ternyata, gaji tak lagi menjadi faktor kunci perginya talent. Principal & Country Leader-Consulting & Talent Solution Mercer, Satya Radjasa mengatakan gaji paling tinggi ditawarkan industri perbankan. Anehnya, tingkat turn over tetap saja tinggi, yakni tertinggi kedua setelah industri asuransi. Mengapa ini terjadi?

“Ada kecenderungan amat ekstrim mem-benchmark keluar negeri. Persepsinya, Google memberi gaji di atas pasar dan (suasana) kantor yang nyaman, perusahaan lain mengikuti. Sehingga, (kantor lama jadi) tidak kompetitif lagi,” kata dia.

Menurut dia, gaji hanya faktor higienis yang sebenarnya mencakup syarat mendasar di tempat kerja seperti gaji, tunjangan, fasilitas, jaminan kerja, kondisi kerja, kualitas supervisi, kebijakan dan administrasi perusahaan. Faktor ini hadir untuk menciptakan kepuasan dalam jangka panjang.

Satya Radjasa, Principal & Country Leader - Consulting & Talent Solution Mercer Satya Radjasa, Principal & Country Leader - Consulting & Talent Solution Mercer

Ini yang membuat EVP (Employee Value Prepotition) yakni program retensi karyawan kini semakin menantang. Ada 3 tahapan EVP. Paling atas adalah kebanggaan, sehingga yang dicari engagement (keterikatan). Paling bawah adalah daya saing dari segi benefit dan kompensasi. Pada bagian tengah adalah diferensiasi, yakni karier di perusahaan dan lifestyle/workstyle.

“Sekarang, perusahaan yang mempercantik dirinya agar karyawan mau masuk. Tapi, belum tentu cocok dengan kebutuhan karyawan,” kata dia.

Satya menjelaskan, gaji bukan satu-satunya motivasi untuk karyawan mau bergabung. Generasi Y lebih memilih situasi dan kondisi lingkungan kerja yang kondusif untuk pengembangan karier dan potensi mereka. Seperti halnya Google, yang tak hanya menawarkan gaji relatif tinggi, tetapi juga ada faktor lain yang membuat karyawan merasa engaged atau dengan kata lain merasa dimanusiakan, tidak hanya sekedar menjadi mesin produksi.

“Sekarang, mayoritas perusahaan di Indonesia memiliki HR Business Partner. Sekarang sedang muncul namanya prediktif analysis. Ini sudah mulai menjadi tren. Bagaimana caranya dapat membuat analisis terhadap turn over,” kata dia.

Perlambatan ekonomi saat ini berdampak kepada performa perusahaan. Imbasnya, bonus untuk karyawan pun dikurangi. Dengan demikian, perusahaan mesti membuat skala prioritas, menentukan karyawan yang akan dipertahankan demi mengamankan pengeluaran. Tentunya, mereka yang punya kompetensi dan dicari pasar (talent pool) yang jumlahnya sekitar 20% dari total karyawan.

“Tahun lalu, 89% perusahaan fokus pada monetary retension seperti naik gaji, bonus tambahan, cash award, dan lainnya. Perusahaan harus melihat lagi kebutuhannya dan menentukan siapa yang masuk retension scheme,” kata dia.

Survei Mercer menunjukkan, pada 2014, 58% perusahaan yang berniat merekrut karyawan dalam 12 bulan depan. Pada 2015, angkanya menurun jauh tinggal 36%. Pada 2014, 37% responden menyatakan akan mempertahankan jumlah karyawan. Setahun berselang, jumlahnya meningkat menjadi 56%. Hal ini terjadi hampir di seluruh bagian seperti keuangan, HR, teknologi informasi, dan engineering. (Reportase: Tiffany Diahnisa)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)