Mondelez Dorong Wirausaha Muda Masuk Pertanian Kakao

cocoa-life-img_20161115_095357

Mondelez International Program Cocoa Life bersama Cocoa Sustainability Partnership (CSP), dan Indonesian Business Council for Sustainable Development (IBCSD) mengundang praktisi pembangunan pemuda, perwakilan pemerintah, perwakilan industri dan akademisi, untuk bersama-sama merumuskan langkah perubahan untuk meningkatkan peran kaum muda di sektor pertanian khususnya kakao di Indonesia melalui sebuah lokakarya bertajuk “Youth Engagement in Sustainable Agriculture” – Peran Kaum Muda dalam Pertanian yang Berkelanjutan.

Dalam lokakarya ini, para pemangku kepentingan mendefinisikan kondisi terkini termasuk kebijakan dan praktik terbaik mengenai keterlibatan kaum muda di sektor kakao dan pertanian.”Kaum muda adalah salah satu dari lima pilar dalam program Cocoa Life, kami ingin pertanian kakao ini ada regenerasinya lebih dini,” ujar Andi Sitti Asmayanti, Mondelez Director of Cocoa Life for South East Asia.

Indonesia merupakan negara penghasil produksi kakao terbesar ketiga di dunia yang diikuti dengan tingginya permintaan dan kestabilan harga. Catatan Gross Domestic Product (GDP) di akhir tahun 2015 menyebutkan kontribusi sektor pertanian termasuk kakao mencapai total 9%. Hanya saja,  potensi ini tidak diiringi oleh ketertarikan dan partisipasi kaum muda di sektor pertanian kakao, yang dapat berdampak pada keberlanjutan sektor ini di masa mendatang. Fakta tersebut tercermin dalam penelitian Mondelez Indonesia di 6 (enam) kabupaten di Sumatera dan Sulawesi. Penelitian yang menggandeng Universitas Gadjah Mada dan Survey Meter ini memperlihatkan rendahnya partisipasi kaum muda baik yang bekerja secara langsung ataupun yang membantu orang tua atau pihak lainnya pada pertanian kakao. Petani kakao masih didominasi oleh smallholder farmers atau petani dengan lahan kecil yang berusia di atas 40 tahun.

Fauzan Jamal dari LSM Akatiga, memaparkan, beberapa poin penting mengapa anak muda tidak tertarik dengan pertanian. Pertama adalah karena sistem pendidikan yang menanamkan ide bahwa petani adalah profesi tidak menarik. Kedua, keterbatasan orang muda untuk mengakses lahan, yang umum terjadi di Indonesia, lahan hanya dapat diakses oleh orang dewasa diatas 40 tahun atau yang sudah menikah. Maka yang terjadi adalah orang muda lebih banyak bermigrasi untuk mencari pekerjaan di luar pertanian, meskipun saat memasuki usia dewasa mereka akan kembali pulang untuk menggarap lahannya. Jadi migrasi dilakukan sambil menunggu akses terhadap lahan terbuka untukmereka.

Oleh karena itu, Cocoa Life dengan didukung oleh CSP, IBCSD dan Kementerian Pertanian akan mulai masuk ke sentra-sentra Kakao untuk mendorong kaum mudanya agar mau berwirausaha di bidang agribisnis kakao. Selain itu program ini juga nantinya akan melakukan pendekatan kepada kaum dewasa yang memiliki otoritas atas lahan, agar bisa memberikan akses lahan kepada kaum muda melalui tata cara yang disepakati bersama.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)