MS Hidayat: Tahun Ini Ada Joint Venture Produksi Ponsel di Indonesia

Besarnya angka impor menjadi perhatian pemerintah. Sejumlah hal dilakukan menyikapi kondisi tersebut. Salah satu contohnya adalah pemerintah dan swasta akan bahu-membahu agar produk telepon seluler (ponsel), yang penjualannya semakin deras, bisa diproduksi di dalam negeri.

MS Hidayat, Menteri Perindustrian

“Ada dilema di sektor industri (yakni) manakala industri kita investasinya meningkat pesat, bersamaan dengan itu akan ada impor barang-barang modal, mesin-mesin, bahan baku penolong untuk industri,” ungkap MS Hidayat, Menteri Perindustrian, di sela-sela acara konferensi pers Trade Expo Indonesia, yang diadakan di Kantor Kementerian Perdagangan, Kamis (20/6/2013).

Dilema yang dimaksud oleh Hidayat adalah, di satu sisi, investasi terhadap industri mengalami peningkatan. Tentu ini adalah hal yang bagus. Akan tetapi, dampak dari itu adalah adanya kebutuhan industri  akan bahan baku yang semakin besar. Dan hal ini bukan kondisi yang bagus bagi neraca perdagangan nasional.

“APBN 2012 merefleksikan impor (sebanyak) 80 persen, terdiri dari barang modal untuk industri-industri baru dan bahan baku penolong. Neraca pembayaran terganggu karena besarnya impor. Tapi, di sisi lain, investasi dan pertumbuhan industri sangat meningkat,” papar dia.

Lantas seperti apa sikap pemerintah? Hidayat mengungkapkan, sejumlah menteri bekerja sama untuk membuat peraturan-peraturan baru, termasuk juga memberikan insentif bagi investasi di bidang barang-barang modal dan bahan baku penolong. Akan tetapi, kebijakan-kebijakan itu tidak serta merta langsung memberikan perubahan. Disebutkan dia, efeknya baru bisa terlihat dalam 4-5 tahun ke depan.

Sebagai contoh nyata tindakan pemerintah mengurangi angka impor, ia mengatakan, pemerintah merestui joint venture antarpihak swasta untuk memproduksi ponsel di Tanah Air. Maklum, jumlah impor ponsel Indonesia cukup besar, baik dari sisi nilai maupun unit.

“Tahun ini akan ada joint venture secara nasional yang direstui pemerintah untuk memproduksi barang itu (ponsel), yang tahun lalu sebanyak US$ 5,5 miliar kita gunakan untuk impor lebih dari 50 juta ponsel, yang dikonsumsi kita semua. Itu belum (termasuk) barang selundupan,” Hidayat menjelaskan. Dia bilang, dengan diproduksinya ponsel di dalam negeri, impor produk itu diharapkan bisa berkurang. “Saya berjanji dalam 2,5 tahun lagi kira-kira itu sudah bisa berproduksi."

Bukan hanya itu, perhatian pemerintah terhadap impor baja juga besar. Dikatakan Hidayat, Indonesia mengimpor baja dengan nilai sekitar US$ 9,5 miliar setiap tahunnya. Sebagai solusi, sekarang ini, industri-industri baja baru telah berdiri. Ini, kata dia, bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Dan terkait dengan impor di sektor minyak dan gas (migas) yang besar, ia menegaskan “Impor migas itu hanya bisa disikapi apabila oil refinery yang besar-besar itu bisa diluluskan, perundingan kita selesaikan, sehingga bisa jadi penambahan lifting lebih kurang 600 ribu barrel. Sekarang ini kan sangat kurang.” (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)