N. Riantiarno Selalu Selipkan Wayang di Tiap Maha Karyanya

Nama Norbertus Riantiarno sudah tak diragukan lagi dalam jagad teater Tanah Air. Ya, pria yang akrab disapa Nano Riantiarno ini merupakan pencetus Teater Koma yang telah berdiri sejak 1977. Suami dari aktris Ratna Riantiarno ini sejatinya telah berteater sejak 1965 di kota kelahirannya, Cirebon.

Lulus dari SMA, Nano melanjutkan kuliah di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), Jaarta. Lalu tahun 1971, ia masuk ke Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta dan bergabung dengan Teguh Karya pada tahun 1968. Belum merasa kenyang akan ilmu teater, dirinya kemudian mendirian Teater Koma pada 1 Maret 1977. Di situlah ia mengabdian diri untuk kejayaan teater hingga menelurkan ratusan karya.

Lantas seperti apa kesibukan pria kelahiran Cirebon, 6 Juni 1949 ini? Berikut penuturannya saat soft launching lakon terbarunya ‘Republik Cangik’, yang akan dihelat 13-22 November 2014 mendatang di Gedung Kesenian Jakarta.

N. Riantiarno, Foto Gustyanita Pratiwi N. Riantiarno, Foto Gustyanita Pratiwi

Apa kesibukan Anda di Teater Koma saat ini?

Teater Koma akan menghadirkan karyanya yang ke-136 dengan judul Republik Cangik. Jadi pementasan ini bercerita tentang Cangik, punakawan wanita dari kerajaan Mandura yang bertugas memilih pemimpin Negeri Suranesia setelah Maharaja Surasena pemimpin sebelumnya meninggal dunia. Cangik beralih fungsi menjadi juri yang bertugas memilih satu maharaja dari 6 calon yang maju. Mereka adalah Santunu Garu, Dundung Bikung, Graito Bakari, Burama Rama, Binanti Yugama, dan Jaka Wisesa. Mereka semua merasa dirinya mampu dan pantas memerintah Suranesia.

Dengan ajian sakti peninggalan Maharaja sebelumnya, Cangik berhasil memanggil tokoh-tokoh besar dunia wayang untuk ikut menjadi juri dalam sayembara ini. Para juri terdiri dari Semar, Betari Permoni, Betara Narada, Gatotkaca, Raden Lesmono, dan Riri Ratri. Penulisan naskahnya sampai 5 bulan.

Inti pokok dari pementasan Anda kali ini?

Sekarang barangkali waktunya perempuan bicara. Karena kalau kita lihat, dulu itu menteri perempuannya ada 2. Lalu zaman Ibu Megawati ada 4. Sekarang ada 8. Luar biasa.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)