Operasional Terminal Teluk Lamong Dongkrak Ekspor Perikanan

Operasional Terminal Peti Kemas (TPK) Teluk Lamong berpeluang mendongkrak ekspor produk perikanan nasional. Tahun ini, ekspor produk perikanan ditargetkan mencapai 1,42 juta ton senilai US$ 5,60 miliar, sedangkan tahun lalu sebanyak 1,27 juta ton senilai US$ 4,64 miliar. Dengan adanya TPK Teluk Lamong, kapal kargo internasional yang biasanya singgah di Singapura bisa langsung bersandar di TPK Teluk Lamong. Biaya logistik bisa ditekan dan daya saing produk perikanan nasional naik. TPK Teluk Lamong merupakan bagian dari Alur Pelayaran Barat Surabaya yang saat ini dapat disinggahi kapal kargo besar lintas samudera.‎ “Ini kemajuan penting, kapal kargo internasional bisa singgah langsung di pelabuhan Indonesia. Ini akan menurunkan biaya logistik secara signifikan,” kata Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan KKP Saut Hutagalung dalam rilisnya.

Selama ini, semua kapal kargo internasional singgah dan beralih muatan ke kapal kargo lebih kecil di Singapura lalu diangkut ke Indonesia. Demikian juga sebaliknya, kontainer tujuan ekspor dimuat kapal kargo dari Indonesia diangkut ke Singapura lalu melakukan alih muatan ke kapal kargo internasional, lalu dibawa ke negara tujuan seperti Uni Eropa atau Amerika Serikat. “Jika TPK Teluk Lamong beroperasi dengan baik, biaya logistik laut bisa turun signifikan. Jika logistik darat-laut dan pelabuhan terintegrasi, biaya logistik dapat turun sampai 50%. Jika ini tercapai, daya saing logistik Indonesia sejajar negara ASEAN di luar Singapura,” ujarnya.

Terminal Teluk Lamong (Foto: IST) Terminal Teluk Lamong (Foto: IST)

Secara nasional, biaya logistik dan transportasi di Indonesia mencapai 27% dari Produk Domestik Bruto. Sementara di negara maju dan Singapura di bawah 10% dan di beberapa negara ASEAN lain, seperti Thailand dan Malaysia, hanya sekitar 12-13% dari PDB. Saut mengungkapkan, operasional TPK Teluk Lamong akan meningkatkan daya saing produk ekspor dari sisi harga. Selama ini, ekspor produk perikanan nasional sudah bisa bersaing dari segi pasokan, mutu, dan ‎pemenuhan syarat ekspor lainnya meskipun harga umumnya lebih tinggi. “Keuntungan eksportir lebih tinggi dan harga jual di tingkat produsen seperti nelayan akan lebih tinggi juga,” katanya.

Saut menambahkan, TPK Teluk Lamong membuka peluang baru untuk menggenjot ekspor perikanan Jatim dan provinsi lain yang selama ini banyak melakukan ekspor melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. ‎Ekspor hasil perikanan melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sekitar 35-37% dari total nilai ekspor hasil perikanan nasional per tahun. Pengembangan Teluk Lamong merupakan bagian dari rencana pengembangan tol laut dan konektivitas laut nasional. Dengan begitum diperlukan percepatan pengembangan tol laut agar secara nasional daya saing meningkat. “Khusus di bidang kelautan dan perikanan (KP), perlu juga percepatan pengembangan Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) memanfaatkan tol laut sebagai tulang punggung transportasi laut,” katanya.

Data Badan Pusat Statistik, ekspor produk perikanan pada kuartal I-2015 mencapai US$ 906,77 juta. Komoditas yang paling banyak menyumbang adalah udang US$ 449,95 juta. Selanjutnya, tuna senilai US$ 89,41 juta dan cumi-cumi senilai US$ 29,51 juta.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)