Optimisme Rittal Sambut Kebijakan Pemerintah Tingkatkan Perindustrian

Menyambut kebijakan pemerintah yang akan lebih banyak memfokuskan pada perkembangan perindustrian di Indonesia membuat Rittal optimis peluang  tersebut bakal membesarkan penyerapan teknologi panelnya di Indonesia.

Rittal RiMatrix S_2

Alasannya adalah akan muncul pabrik - pabrik baru di Indonesia, di mana hal tersebut selaras dengan tujuan pembangunan pemerintah yang digagas lewat Rancangan Kebijakan Jangka Menengah (RPJM). Seperti misalnya akan muncul 13 kawasan industri baru dan industri khusus, seperti beberapa diantaranya yang akan dibangun di Solo, Kudus, dan Jepara.

"Karena produk Rittal hampir ada di semua industri. Oleh karena itu dengan antusiasmenya pemerintah terhadap perkembangan indsutri, Rittal bakal menyambut hal positif tersebut," ujar Erick Hadi, Country Manager Rittal Indonesia.

Optimisme Rittal juga datang dari faktor kebijakan pemerintah yang mengharuskan setiap industri yang beroperasi di Indonesia wajib menggunakan komponen lokal sebesar 40%, sehingga akan banyak menyerap tenaga kerja dan material lokal.

Dari internal Rittal sendiri, optimisme  berangkat dari dua faktor utama. Pertama, partnership strategis dengan Zi-Techasia di mana panel Rittal diberikan nilai tambah untuk keperluan cooling unit, electrical control, dan content lainnya yang bersifat unlimited.

Kemudian bersama Zi-Techasia juga Rittal melakukan sebagian besar aktivitas assemblynya yang dilakukan secara lokal di Cikarang.

"Panel kosongnya kami datangkan dari luar negeri. Namun untuk mengisi kontennya kami kerjakan secara lokal," tutur Eka Prasetya, Senior Manager Zi-Techasia.

Salah satu faktor pendorong Zi-Techasia berkolaborasi dengan Rittal dalam membuat local content adalah karena bisa menyesuaikan langsung dengan kebutuhan pelanggan yang kebanyakan datang dari pabrikan. Adapun sebaliknya, jika panel diimpor bersamaan dengan kontennya maka dikhawatirkan akan mengalami ketidaksesuaian dengan kebutuhan pelanggan. Selain itu jika proses assembly dilakukan dengan menggunakan komponen lokal, maka bisa mengikis biaya produksi secara lebih signifikan.

"Kalau kita impor panel sekaligus dengan kontennya dari luar negeri, maka sangat mungkin amburadul. Bisa jadi karena tidak sesuai atau juga terjadi benturan saat pengiriman," lanjut Eka.

Alasan yang kedua adalah dengan semakin kencangnya tuntutan pemerintah dalam menggalakkan sektor industri, maka kebutuhan pembuatan power plant sebagai elemen yang mendukung kelangsungan sebuah pabrik pun dibutuhkan. Dengan akan dibangunnya beberapa power plant, maka akan berimbas pula terhadap permintaan cooling system-nya. Misalnya saja pengerjaan untuk power plant sebesar 10 mega watt yang membutuhkan panel sebanyak 300. Hal tersebut mengindikasikan bahwa akan muncul green field untuk sektor ini ke depannya.

Hanya saja yang masih jadi persoalan adalah dari ketersedian kapasitas pabrik komponen yang mendukung seperti kabel, transmisi, kipas dan komponen lainnya seringkali penuh, sehingga mempengaruhi proses assembly yang menjadi lebih lama. Oleh karena itu, dituturkan Erick, ini menjadi hal yang penting untuk dicermati dalam pengambilan langkah koroporatnya dimana perlunya pertimbangan di kapasitas produksi pabrik komponen, kondisi politik, serta iklim ketenagakerjaannya.

Mengenai ekspektasinya, Rittal  memetakan akan terjadi pertumbuhan industri secara sustain meskipun belum menyentuh angka 10%. Namun dibarengi dengan solidnya partnership Rittal dengan Zi-Techasia, mereka yakin akan mencapai pertumbuhan realistik sebesar 30%. Untuk market share-nya saat saat ini masih mencapai kisaran 22%. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)